Thursday, November 27, 2008

ViSi

aku tidak bisa hidup tanpa visi, itu yang tidak mereka mengerti. Bukan tentang kapitalisme, atau tuduhan-tuduhan yang aneh itu. Aku masih mengingat obrolan bersama seorang sahabat.. (Jadi inget, dia belum mengembalikan buku Catatan Pinggirku,!). Pada suatu hari di selasar kampus, ditemani segelas jus alpukat dan pempek kesukaanku, kami bicara tentang visi.

Ada cerita tentang tiga orang pemecah batu. lalu datanglah orang yang bertanya kepada mereka, "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya. Orang pertama menjawab, "Aku sedang memecah batu," , orang kedua menjawab, "Aku sedang memecah batu untuk membuat masjid," , sementara orang ketiga menjawab, "Aku sedang membangun peradaban," katanya.

Ketiganya, memang sedang melakukan kegiatan yang sama, memecah batu. Tapi mereka bertiga berbeda... yang membedakan adalah VISI. Yah, sama halnya ketika kita sedang duduk di kelas dan mengikuti kuliah.. 50 orang dalam kelas itu melakukan hal yang sama, mencatat dan mendengarkan dosen. Tapi berapa banyak yang punya cita-cita? berapa banyak yang berani bermimpi?

Gustiku...katakan jika aku keliru, hidup yang cuma singkat ini akan kubawa kemana? aku akan mencatat makna seperti apa? aku ingat, kita semua akan berakhir menjadi makanan cacing bukan? lalu apa yang akan membedakan yang satu dengan yang lain?

Wednesday, November 26, 2008

saat-saat terakhir

Akhirnya, hari ini aku bisa berlega hati untuk keluar dari pekerjaan ini. Walaupun tidak dengan baik-baik, karena orang-orang bicara tentang hal yang aneh. Tapi sudahlah, karena aku percaya Tuhan yang paling tahu tentang segala isi hati, dan Dia akan menjagaku dari para pemakan bangkai...tukang fitnah.

Aku sudah merencanakan banyak hal, buku dan film yang belum selesai kutulis, guru yang belum kutemukan. Tak sabar rasanya, mengasah pena di luar sana, bertemu dengan keajaiban-keajaiban selanjutnya. Tuhan...aku menunggu saat pertemuan itu.

Aku yakin mereka disini adalah orang-orang yang baik. Mungkin aku yang tak memahami mereka, atau mereka yang tak memahami aku. Aku yakin, Tuhan memiliki cerita yang indah tentang tempat dimana aku pernah bersinggah. Kita telah memilihnya, dan belajar dari Guru terbaik bukan? aku tidak pernah menyesali sesuatu yang pernah terjadi..

Monday, November 24, 2008

cukup sudah cukup walau tak pernah cukup

cukup sudah, walau tak pernah cukup, aku yakin itu. tapi aku harus henti disini.. iya kan? coba tolong jawab.. karena banyak lagi yang harus dimulai, sebelum terlambat.

Rencananya aku mau resign akhir bulan ini, biar bulan depan bisa segera ke Kediri dan belajar sebentar disana. Toeflku harus 600 bung! membayangkannya sudah berat.. tapi aku harus.. karena waktuku semakin sempit..

Aku masih bingung bagaimana menyampaikan ke bosku, sumpeh deh looo... ternyata gak gampang, lebih berat rasanya daripada mau mutusin pacar. Redakturku itu baik semua, teman-temanku juga baik, office boy baik, gaji disini baik, pekerjaanku baik,..

tapi aku masih ingin mendalami ekofeminisme dan belajar dari guru-guru yang lain, aku masih ingin ke ISS dan mencoba membuat perubahan..

Kita akan jadi peluru. Tapi jangan lupa untuk melahirkan lebih banyak peluru lagi..

Maka jadilah rahim yang melahirkan cinta dan pembebas

Friday, November 14, 2008

Love u Mama

Siang tadi ada sms dari Ade, aku dah sampe kantor waktu itu. Isi SMSnya "Mama sudah di Jogja, tadi kecelakaan, bisnya kebalik, tapi untung gapapa," innalillahi.. rasanya jantungku mau runtuh saja. Aku langsung telpon mama, mendengar suaranya rasanya lega.. Alhamdulillah..Tuhan terimakasih masih ijinkan aku berbakti padanya di dunia.

mama dari 2 hari kemarin memang di Solo sama tanteku, ada sodara nikahan. Sebelum pulang memang mau mampir Jogja, ngambil barang2ku yang tersisa (sisanya segudang tapi), tus mau pulang naik travel ke PWT.

Rasanya sama kayak waktu mama sakit dan trombositnya tinggal seucrit. Dari jakarta aku langsung cabut ke PWT. Parah, sampai pindah rumah sakit, dua kali tranfusi trombosit. Seminggu aku tidur disampingnya, berdoa.. Tuhan, beri aku kesempatan untuk menjaganya, berbakti lebih panjang lagi. Aku belum juga memberinya menantu, cucu yang pintar-pintar, belum membuatnya bahagia.

Tadi pagi aku liputan ke kidzania, membayangkan membuat yang serupa di PWT. Membayangkan punya anak-anak dan belajar bersama mereka. Membayangkan Mama... Bahagia rasanya, jika keluarga kita sempurna.. Dan kita akan menikmatinya sampai tua.

Tuesday, November 4, 2008

Mereka Tidak putus Asa

Mereka Tidak putus Asa
Hari ini, sejam sebelum penandatanganan Kontrak karya Penambangan, Pak Dirjen Minerbapabum DESDM Bambang Setiawan mengirimkan smsnya, "Hari ini jam dua siang,"katanya. Aku langsung lemas.. Kuhubungi kawan-kawan segera. Mengabarkan berita buruk ini.

Setelah dua tahun berjuang, aku yakin bukan ini akhirnya. Karena kita tidak akan berhenti disini, karena kita tidak akan menyerah. Duh Gusti..

sama sekali tidak boleh lengah, masyarakat juga punya batas kesabaran. aku juga harus hati-hati menyampaikan kabar, apapun, tidak boleh menyulut orang-orang, karena anarkisme jelas tak menghasilkan apa-apa. So..come on meif, bertindak taktis dan berpikir cerdaslah...

aku tahu ini bukan akhir dunia, aku ingin percaya kita masih hidup di dunia penuh kasih sayang, aku ingin yakin setiap manusia yang lahir dari rahim pasti memiliki hati. Tapi aku juga tidak lupa, bahwa banyak orang lebih sering bertindak bodoh daripada cerdas. Atau kadang-kadang kita juga begitu lugu untuk dibodohi. Dan kebodohan itu yang membuat kita menjual harga diri dan bangsa ini kepada tuan yang lain..

Mereka tidak putus asa. Seribu kali penandatanganan kontrak karya sekalipun, kita tidak akan menyerah. Tanah ini punya sejarah, pasir ini punya cerita, kita tidak akan henti disini untuk anak cucu kita.

kamu yakin bukan? apa kamu mendengarkan? Tanah yang mana lagi yang akan kita jual? anak-anak siapa lagi yang akan terlahir jadi buruh? berapa banyak lagi kita akan berhutang? pantaskah kita mengemis 1,5 % sementara mereka berpesta dengan 98,5% dari mengambil pasir kita yang kaya besi? pasir yang telah menghidupi kita tanpa meminta imbal jasa. pasir yang menumbuhkan kehidupan hingga jantung kita terus berdetak dan perut kita kenyang oleh rasa syukur.. pasir yang telah diberkati Tuhan untuk anak cucu kita.