Sunday, September 28, 2008

Muntahkan apa saja yang kau makan untuk bumi ini!

Muntahkan apa saja yang kau makan untuk bumi ini!
Dari Irfan Dwianto
“Kita mengkonsumsi lebih banyak dari generasi sebelumnya.”
Ungkapan yang bernada refleksi atas apa yang telah kita konsumsi dan apa yang telah kita perbuat untuk lingkungan bumi tempat kita hidup. Kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi manusia membuat manusia semakin kompleks untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia ini.
Kegiatan produksi dan konsumsi tidak dapat dihindarkan. Produksi massal serta diikuti tentunya oleh konsumsi massal berpengaruh pada keseimbangan ekosistem dunia. Kecenderungan manusia untuk terus berkonsumsi merupakan suatu yang kemudian dibentuk dan dikonstruksi untuk suatu kepentingan akumulasi modal kelompok atau golongan tertentu.
Bayangkan 5% dari komposisi masyarakat dunia mengkonsumsi 26% cadangan minyak dunia. Suatu angka atau persentase yang tidak berimbang. Dan ini berimplikasi pada naiknya kandungan CO2 di udara. Terbukti di India telah terjadi kabut asap yang di sebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil.
Ini hanya salah satu kasus pencemaran lingkungan karena aktivitas manusia. Mengapa hal ini terus terjadi. Beberapa ahli lingkungan hidup (Spinoza, Thoreau, Jhon Muir) berpendapat bahwa kerusakan lingkungan tidak terlepas dari cara pandang manusia terhadap bumi ini.(Abdul Wahid Situmorang, 2005,”Antoposentrisme Vs Ekonsentrisme”,Replubika,23 April 2005, hal 2) Antroposentris Vs. Ekosentrisme dua perspektif yang terus menerus bertarung untuk mencari suatu pembenaran diantara para pengikutnya.
Manusia menjadi pusat dari bumi, dimana manusia merupakan makluk yang paling sempurna. Alam tersedia untuk manusia dan dapat digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan mendorong perspektif ini mendapat legitimasi dan digunakan sebagai ideologi revolusi Industri sebagai suatu bentuk penjajahan baru terhadap bumi. Ini pun kemudian menjadi awal dari era kapitalisme. Ekosentrisme merupakan anti doxa dari perspektif ini. Manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang bisa semena-mena sekalipun manusia dianggap sebagai makhluk yang sempurna. Manusia diberi akal yang berguna untuk bersikap arif dan bijaksana dalam mengelola alam. Teknologi misalnya, diciptakan untuk menjaga keseimbangan hidup antara makhluk hidup di muka bumi (Carolyn Merchant: 1999). Perspektif ini pun menjadi populer di era perkembangan kapitalisme dunia.
Dua Perspektif yang selalu mengikuti perkembangan kapitalisme. Dimana manusia memang dibentuk dan diposisikan sebagai makhluk yang terus menerus berkonsumsi. Konsumsi yang tidak dapat dilepaskan sebagai suatu mekanisme dari tindakan ekonomi.
“ All You can Eat” yang dijadikan semboyan suatu produk restoran yang kemudian direproduksi menjadi semangat manusia (Life Style) untuk terus hidup dan menjaga eksistensinya. Awalnya hanya sebatas bagaimana manusia berkonsumsi untuk perut. Namun berikutnya hal ini yang kemudian dimanipulasi dengan slogan “All You can buy.” Tentunya ini setali tiga uang dengan bagaimana bila konsumsi tanpa produksi. Manusia akan kekurangan dan manusia akan mati tentunya, selogan itu akan berubah menjadi ” All you can eat and die after”
Ketika harga minyak mencapai titik tertingginya dalam 15 tahun terakhir, maka produksi kendaraan bermotor mencapai titik puncak mencapai titik 532 juta (Worldwatch Institute: 2000). Dan konsumsi kendaraan berarti konsumsi bahan bakar fosil dan berimplikasi pada peningkatan emisi gas buang dan ini kemudian mencemari udara. Industri kendaraan ini tidak berdiri sendiri, industi plastik, PVC, alumunium, besi, karet, ikut hidup dan masing-masing menyumbang polusinya. Itu hanya ilustrasi dari suatu kegiatan manusia dalam mengkomsumsi kendaraan bermotor.
Ketika penemuan teknologi mencapi puncaknya, 90 % dari energi komersial yang dipakai di sleuruh dunia tetap berasal dari bahan bakar fosil. Tanpa kita sadari industri-industri ini mengunakan satu sumber energi yang sama, yaitu bahan bakar fosil. Kelangkaan sumber energi yang baru kita rasakan belakangan ini saya rasa menjadi suatu permulaan dari suatu bencana besar, bencana global yaitu kelangkaan energi minyak bumi.
Bagaimana manusia kemudian eksis. Manusia yang sudah terlanjur sebagai pemproduksi massal sekaligus pengkonsumsi massal. Sedangkan Dunia ini tercipta hanya sekali sekalipun dapat berkesinambungan.
Modernitas, gaya hidup, teknologi, dan kerusakan alam ini merupakan hal yang sudah tidak dapat kita hindarkan. Kuncinya adalah pada manusia sendiri. Maukah kita belajar dan menciptakan dunia yang sehat.
Energi alternatif, barang alternatif, gaya hidup alternatif produksi yang sejalan dengan kelestarian lingkungan dan kepedulian kita terhadap lingkungan. 3R, Recycle, re-use, replace, merupakan slogan yang umum digunakan oleh pencinta lingkungan hidup. Merupakan suatu usaha untuk menjaga eksistensi kita, sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab generasi manusia di bumi.
Manusia tidak akan lepas dari konsumsinya. Namun gerakan massa diperlukan untuk kembali membentuk dan menjadi kekuatan utama untuk kembali mengkontruksi gaya hidup konsumsi masa kini. Dari mulai memisahkan sampah organik dan non-organik, beralih mengunakan sepeda, atau mematikan mesin kendaraan bermotor ketika lampu merah, membatasi konsumsi plastik, sampai kepada penyatuan pikiran untuk menciptakan dunia yang sehat dan berkesinambungan. Pertanyaan yang masih mengganjal adalah maukah kita kemudian memuntahkan apa yang telah kita makan untuk bumi ini.

DI JUAL CEPAT DAN MURAH, planet BUMI

Dijual Cepat dan Murah: Planet Bumi


Dari Nadya Karimasari

"...Biang persoalan lingkungan hidup, masa depan Planet Bumi dan keselamatan rakyat yang hidup di dalamnya adalah sistem politik dan ekonomi kapitalis. Sistem ini hanya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara bersaing dan mengabaikan urusan lingkungan hidup. Untuk melawan sistem ini, slogan 'Bumi bukan Komoditi' telah dipopulerkan oleh gerakan anti-kapitalisme di dunia. Gerakan anti-kapitalisme terang-terangan menolak gagasan kapitalisme yang mendudukkan rakyat dan sumber-sumber kehidupan alami sebagai barang dagangan..." Manifesto WALHI.
(http://www.walhi.or.id/ttgkami/kebijakan/manifesto_wlh/)
Saya mengenal seorang gadis remaja, siswi SMA yang lincah dan bersemangat. Layaknya insan muda gemar mempertanyakan arti hidup dan mencari jati diri, teman saya itu tidak ingin kehadirannya di bumi ini berujung sia-sia. Ia ingin ikut melakukan sesuatu untuk mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik. Sebagai seorang pecinta lingkungan, dia memilih untuk mengkhususkan aksinya terutama di bidang upaya penyelamatan lingkungan hidup. Selain membuang sampah pada tempatnya, ia juga membiasakan diri untuk hemat bahan bakar, hemat listrik, hemat air, hemat plastik, dan terutama - sebagai anak sekolahan - mendaur ulang kertas bekas pakai untuk dijadikan notes. "Supaya hutan tidak gundul dan bisa mencegah banjir," ujarnya singkat. Yang dia lakukan sebenarnya sangat mudah dan sederhana, namun entah mengapa tidak semua orang cukup peduli untuk melakukan hal-hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan hanya berpikiran, "Alah, gak ngaruh, kali."
Suatu hari, saya mengajaknya berkeliling di kampus UGM. Sampai di Fakultas Kehutanan, ia tertegun. Ada sebuah poster yang menarik perhatiannya. Ia teringat satu kardus besar di rumah, penuh dengan notes daur ulangnya. Ia jadi bertanya, benarkah apa yang dilakukannya selama ini sia-sia belaka? Karena poster besar bergambar hutan gundul itu bertuliskan "Saat ini, setiap menit hutan hilang seluas 6 kali lapangan sepakbola." Itulah contoh langsung yang menggambarkan kedigdayaan kapitalisme: modal besar, hasil besar, keuntungan besar berlipat ganda dan, untuk mencapainya, dibutuhkan penjarahan habis-habisan terhadap lingkungan alam.
Kapitalisme dikenal sebagai sistem produksi yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Demi mencetak laba dan memenangkan persaingan dalam menguasai pasar, segala cara dihalalkan, meskipun cara tersebut mencederai lingkungan. Produksi tidak didasarkan pada kebutuhan, namun justru kebutuhanlah yang diciptakan melalui produksi. Supaya arus penjualan tetap deras, barang-barang paling gres silih berganti menjejali benak calon konsumen. Segala sesuatu harus mengikuti perkembangan yang terbaru, tercanggih, ataupun termahal, meskipun barang-barang tersebut inefisien dan tidak diperlukan. Tak heran jika produksi yang berlebihan (overproduction) menjadi hal yang biasa. Pada akibatnya, terjadi penumpukan sampah
dan pencemaran yang tak tertahankan.
Untuk mempertahankan kelangsungan produksinya, selain harus terus-menerus memperluas pasar, kapitalisme juga harus terus-menerus menemukan penyedia sumber produksi baru. Muncullah ekspansi atau penjajahan yang meluluhlantakkan ekosistem alami, serta memberangus kearifan lokal penduduk setempat yang hidup sesuai dengan irama alam. Hutan atau gua yang tadinya dikeramatkan tidak berarti apa-apa bagi kaum kapitalis imperialis. Bagi mereka, segala sesuatu hanya dihargai sebatas nilai tukarnya. Ini berdampak pada punahnya lingkungan alam.
Selain memboyong kekayaan alam dan menzalimi masyarakat, mereka masih
menjadikan Negara Dunia Ketiga sebagai tempat pembuangan limbah industrial yang mereka hasilkan. Menurut memo internal seorang Ahli Utama Bank Dunia, Lawrence Summers (1992), ia menyarankan bahwa Bank Dunia perlu semakin mendorong migrasi industri kotor ke negara-negara berkembang
karena tiga alasan:
tingkat upah di negara tersebut tergolong rendah dan kepadatan penduduk yang tinggi (manusianya lebih 'murah' daripada manusia negara maju)
negara-negara tersebut belum cukup mendapat pencemaran
tuntutan akan lingkungan bersih untuk alasan kesehatan kemungkinan berasal dari masyarakat yang kaya. Masyarakat yang mengalami kematian balita 200 perseribu tidak perlu mendapat barang mewah berupa udara bersih.
(disarikan dari Jhamtani, Hira. 2001. Ancaman Globalisasi dan Imperialisme Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, halaman 154. Butir nomor 3 dikutip apa adanya).
Ibon Databank, seorang peneliti asal Filipina menyatakan bahwa perusahaan transnasional (trans-national corporation) terbukti senantiasa menjadi penghasil utama limbah beracun dan berbahaya. Ironisnya, atas menipisnya cadangan 'sumber daya alam' serta menurunnya kualitas kehidupan dan lingkungan, Bank Dunia dan PBB justru mempersalahkan Negara Dunia Ketiga yang terlalu banyak penduduk (overpopulated), dan menutup mata terhadap kenyataan bahwa Negara Dunia Pertama-lah yang - walaupun memiliki penduduk lebih sedikit - namun mengkonsumsi jauh lebih banyak (overconsumption). Data statistik menunjukkan bahwa 20% teratas dari total populasi bumi (yang berada di Amerika Seikat dan Eropa) ternyata mengkonsumsi 80% dari keseluruhan sumber alam, termasuk air, hasil pertanian, perkebunan, hasil-hasil hutan dan bahan tambang. (http://www.etext.org/Politics/MIM/mt/mt12capenv.html)
Bukan berarti tidak ada pembelaan dari penganut paham kapitalis. Menurut kaum ini, kapitalisme perlu dipertahankan justru demi pelestarian lingkungan itu sendiri. Kapitalisme dianggap sebagai satu-satunya sistem yang menghargai kepemilikan pribadi. Ini jauh lebih efektif sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan, karena diasumsikan bahwa setiap orang akan menjaga propertinya. Jika sang pemilik enggan atau gagal menjaga miliknya dengan baik, atau justru mencemarkannya atau membiarkannya tercemar, maka itu adalah urusan mereka masing-masing, selama tidak mengganggu milik orang lain. Yang jelas, kelalaian tersebut akan membuat properti berkurang nilainya (value reducing). Tentunya, hal semacam ini akan dihindari oleh setiap pemilik properti. Selain itu, kapitalisme adalah sistem yang paling mampu menyediakan jalan keluar bagi permasalahan lingkungan hidup, karena kapitalisme adalah sistem yang paling memicu kemajuan teknologi. Menurut mereka, teknologilah yang akan menjadi solusi dari kelangkaan sumber daya alam, pencemaran, dan sebagainya. Tanpa teknologi, dengan kata lain tanpa kapitalisme persoalan lingkungan hidup tak akan teratasi. (http://www.capitalism.org/faq/environment.htm)
Pembelaan tersebut patut dipertanyakan. Mereka menjadikan bumi dan seisinya sebagai sebentuk 'hak milik'. Jika sesuatu sudah menjadi hak milik, maka diperbolehkan untuk memperlakukannya sekehendak hati si pemilik. Bila ditilik lebih lanjut, sebenarnya siapakah yang mampu menjadi sang empunya dari 'properti' yang mereka maksudkan itu? Pastinya tidak semua orang! Dalam kuasa sistem kapitalisme, hanya segelintir orang yang memiliki modal-lah yang memegang kendali atas uang, kepemilikan, dan 'sumber daya' alam di bumi ini. Umat manusia lainnya cukup menjadi mayoritas yang dikorbankan.
Penggunaan istilah 'sumber daya' alam sendiri menunjukkan kecenderungan yang sangat kapitalistik, yakni pemanfaatan alam semata-mata sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa memedulikan sama sekali apakebutuhan alam itu sendiri. Alam menjadi objek dari subjek manusia yang berkuasa. Manusia menjadi superordinat, dan alam sebagai subordinatnya. Alam dianggap sebagai sesuatu yang pasif, tanpa mengindahkan bahwa alam punya kekuatan dan kekuasaan untuk menentukan nasib manusia. Sedemikian takaburkah manusia, sehingga ia durhaka dan lupa bahwa sejatinya ia adalah bagian dari alam jua? Tidak sampaikah otak mereka untuk mengetahui bahwasanya apa yang menimpa alam pada gilirannya akan menimpa dirinya sendiri pula?
Alih-alih menjaga kelestarian lingkungan, para pemilik tersebut justru menghisap, mengeruk dan mengeksploitasi alam dengan tingkat keserakahan maksimal. Masalah value reducing yang mereka bicarakan itu menjadi omong kosong. Sebab, akibat dari perbuatan eksploitatif mereka tidak dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan oleh generasi penerus. Berharap pada teknologi yang mereka janjikan pun nyaris tak ada gunanya. Teknologi yang dikembangkan lagi-lagi adalah yang berorientasi profit, ujung-ujungnya tetap saja merusak lingkungan. Pelestarian alam melalui jargon 'pembangunan keberlanjutan' (sustainable development) hanya menjadi kedok untuk melancarkan nafas usaha mereka sampai beberapa dekade ke depan.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian alam. Namun, selama upaya-upaya tersebut tidak menyentuh 'biang' persoalan, kita masih belum bisa mengharapkan adanya perubahan yang signifikan. Pendekatan personal seperti yang dilakukan teman saya tadi perlu dikembangkan dan diteruskan menjadi upaya-upaya kolektif untuk melindungi bumi kita tercinta. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kesadaran moral masyarakat, melainkan adanya kepentingan-kepentingan terselubung (vested interested) yang ingin mempertahankan keadaan sebagaimana adanya, agar perolehan keuntungan mereka terselamatkan (motif ekonomi). Jika kita masih sayang bumi dan seisinya, tidak ada cara lain selain mengenyahkan sistem Kapitalisme.
(Nadya Karimasari)

armageddon

Armageddon : Earth- mageddon!
from : Anti Ecocide/mepi

Ingatkah kamu dengan sebuah film bertahun-tahun lalu yang bercerita tentang ancaman meteor yang akan segera menabrak bumi dan bakal menghancurkan kehidupan di bumi? Armageddon, judul film itu. Aksi heroic Bruce Willis tentu gak bisa kamu lupakan. Atau pasangan keren Ben Affleck dan Liv Tyler yang bikin kamu cemburu? Yeah.. ada banyak dongeng tentang kiamat. Semua agama memastikan kedatangannya.

Tanpa bermaksud melupakan semua sebab yang mungkin itu, kamu juga nggak boleh lupa factor yang saat ini menjadi bom waktu bagi kehancuran kehidupan di planet bumi. Bukan akibat kutukan atau invasi alien dan perang antar planet, tapi akibat ulah manusia itu sendiri. Sampai ada ungkapan satir: manusia menggali liang kuburnya sendiri, mengundang kematiannya sendiri. Tragis! Atau bodoh???

Modernitas merupakan dua wajah yang menawarkan madu dan racun sekaligus. Perkembangan teknologi, pesatnya produksi dan gaya hidup menciptakan konsekuensinya masing-masing. Sampai ditemukannya plastic yang menggeser daun, ditemukannya mobil berbahan bakar fosil yang menggeser kereta kuda, atau hutan beton yang menggusur pohon-pohon, mungkin manusia sendiri tak berpikir terlalu jauh, modernitas, globalisasi dan pembangunan memiliki konsekuensi logis yang tak terhindarkan.

Lihatlah pembangunan yang membuat kota-kota kumuh, sungai-sungai tercemar dan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan. Industri memacu produksi masal demi akumulasi kapital, pabrik-pabrik terus dibangun hingga sawah-sawah tergusur, perumahan-perumahan menjamur dan pusat-pusat perbelanjaan berkembang luar biasa.

Sekarang coba kamu bermain dengan perjalanan sebab akibat dari fenomena diatas.

v Modernitas tak bisa dipisahkan dari kapitalisme dan industrialisasi

v Industri mensyaratkan proses yang tidak bisa lepas dari alam

Proses produksi mesyaratkan:

Eksploitasi alam,

karena bahan baku industri maupun bahan-bahan pendukungnya tak mengambil dari planet lain, apalagi jatuh begitu saja dari langit

Pencemaran udara, tanah, air

Produksi banyak berupa produksi massal. Enggak mungkin industri memproduksi barang skala kecil-kecilan, kecuali industri rumah tangga. Semakin besar produksi berbanding lurus dengan pencemaran yang dihasilkan. Limbah smog atau kabut asap, limbah cair, maupun zat sisa-sisa produksi tidak mungkin dihindarkan. Mau dibuang kemana kalau bukan ke sungai, laut, negara tetangga (seperti yang biasa dilakukan terhadap Indonesia, negara importir limbah). Kita belum punya teknologi yang bisa setor limbah ke luar angkasa kan? Jangankan, merubah limbah biar nggak berasa limbah pun susah..

Penggunaan energi yang tinggi

Industri jelas butuh energi. Dari yang berbahan bakar fosil sampai pemakaian listrik yang besar. Pemborosan lagi?

Berkontribusi terhadap pemanasan global

Pasti. Smog atau kabut asap yang diciptakan, penggunaan CFC dan bahan-bahan perusak ozon lainnya, penggusuran pohon-pohon untuk lokasi pabrik-pabrik dan pertambangan, dan banyak lagi, menjadi warning. Pemanasan global, hujan asam, meluasnya lubang ozon, tak terhindarkan.

Sementara itu, ada banyak instrument yang perlu di bangun untuk memperlancar jalannya industrialisasi. Misalnya :

Pembangunan dan perluasan jalan-jalan untuk memperlancar arus distribusi

Penambahan sarana-sarana pemasok energi

Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan

Dari produksi dan distribusi maka sekarang kamu bisa lanjutkan ke daur konsumsi.

Ada belanja --- ada barang --- ada sampah

Barang yang kamu konsumsi tentu bukan hanya barang habis pakai yang langsung segera berakhir masuk ke dalam mulutmu. Makanan dan minuman juga ada bungkusnya yang akan menjadi sampah. Sementara itu ketika habis kegunaan suatu barang atau kamu sudah bosan, barangmu juga akan berganti status menjadi sampah.

· Pernahkah kamu coba menghitung berapa banyak sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu, sebulan, setahun dan seumur hidup???

· Pernahkah kamu berpikir kemana nanti perginya sampah-sampahmu dan apa akibatnya bagi alam?

Produksi bukan sekedar mengolah suatu barang hingga memiliki nilai kegunaan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produksi mensyaratkan proses yang panjang dan berisiko besar mengeksploitasi alam, pemborosan energi dan pencemaran.

Konsumsi juga demikian. Konsumsi bukan sekedar persoalan bahwa kamu punya uang dan kamu bisa mendapatkan barang yang kamu butuhkan ( atau barang yang kamu inginkan? __ seringkali bahkan kamu sadar bahwa kamu membutuhkan barang itu setelah melihat iklannya di televisi, artinya sebenarnya kamu tidak membutuhkan barang itu!)

Manusia sering berpikir bahwa alam adalah sesuatu yang given. Ini pemberian Tuhan yang layak dinikmati, layak diambil demi kebutuhanmu (bedakan kebutuhan dengan keserakahan). Karena terberi tanpa harus membayar mahal dan berusaha terlalu keras, manusia jadi menyepelekan. Padahal alam punya batas toleransi juga, jika kamu menyakitinya dan mengancam keseimbangan dalam ekosistemnya, jangan kaget jika suatu hari nanti alam-lah yang akan menjadi musuh paling jahat dan ancaman paling dahsyat bagi hidupmu. Apa kamu mau menunggu dan membuktikan ancamannya??

the burning season

THE BURNING SEASON A film of
Indigenous People and Ecological Movement
by: Meifita

Jika kita membayangkan film-film lingkungan hidup, lebih sering kita membayangkan film-film discovery. Ngomongin lingkungan hidup berarti ngomongin hutan, satwa liar, laut, kurang lebih itu. Tapi ada satu film menarik yang menawarkan suatu gambaran aksi lingkungan hidup yang beda. Judul film yang di produksi tahun 1994 ini adalah The Burning Season.

Film ini mengangkat aksi seorang aktivis lingkungan hidup di hutan hujan tropis yang terkenal, Amazon. Aktivis yang akhirnya terbunuh pada pertengahan tahun 80-an ini merupakan penyadap karet hutan tradisional di sebuah provinsi bernama Cachoeira, Brazil. Chico Mendes nama pria itu, mungkin kamu pernah dengar.

Setting film ini diawali di Cachoeira tahun 1951, saat Chico kecil membantu ayahnya menjual gulungan karet hutan hasil kerja mereka kepada seorang pengepul, lebih tepatnya penipu dan lintah darat. Mereka tak berkutik ketika timbangan dikurangi, lalu dipotong ini itu, hingga pendapatan mereka hampir tak bersisa.

Cerita-cerita sama seperti nasib peasant dimanapun. Petani-petani miskin yang selalu saja ditipu dan dipermainkan. Mereka buta huruf, lemah secara apapun. Ada banyak buku menarik yang bisa kamu baca tentang cerita-cerita peasant, seperti sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tentang para cafoni, istilah ejekan untuk peasant di Italia, pada era fasis. Novel berjudul Fontamara ini layak kamu baca, dan bersiaplah kesal.

Chico kecil lalu bertemu dengan Euclides Tavora, seorang aktivis perserikatan yang datang dari Sao Paolo dan menyaksikan sendiri ketika bapak dan anak yang buta huruf ini dibohongi timbangannya. Chico kecil lalu diajari membaca, sampai suatu hari Tavora dibakar di hadapan petani-petani penyadap karet, sebagai hukuman karena hendak membuat serikat kerja di daerah itu. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Tapi Chico kecil merekam ingatan tentang malam itu.

Setting berlanjut ke tahun 1983. saat itu datang seseorang dari San Fe, Wilson Pinheiro. Ia merintis sebuah organisasi serikat pedesaan di Cachoeira dan Chico menjadi tangan kanannya. Mereka menentang pembangunan jalan dan pembakaran hutan. Pada saat itu dimana-mana terjadi pembakaran hutan untuk membersihkan lahan bagi usaha peternakan sapi sebuah perusahaan besar.

Wilson Pinheiro yang dibantu oleh Regina De Carvalho, seorang ekologis dan ahli masyarakat hutan dari universitas Sao Paolo melakukan perjuangan tanpa senjata melalui perserikatan, bersama para seringuiero atau rubber-tapper di Cachoeira mereka memagari dengan tubuh mereka sendiri ketika pohon-pohon karet akan digergaji oleh orang-orang suruhan perusahaan yang berkepentingan dengan jalan tersebut. Wilson Pinheiro dibunuh di kantornya, tak lama setelah aksi yang berani itu. Chico Mendes kemudian menggantikan tugasnya.

Perjuangan Chico baru dimulai. Ia masih harus menghadapi tentara-tentara federal yang menangkapi anggota perserikatan. Karena setelah Pinheiro terbunuh terjadi kerusuhan, menyusul pembunuhan terhadap otak pelaku pembunuh Pinheiro. Setelah keadaan cukup aman, Chico kembali menghidupkan perserikatan. Dan kembali masalah-masalah yang sama datang lagi. Ada insiden yang membuat tangan seorang anak buah Chico harus diamputasi ketika mereka terus menerus berkeras melarang penebangan pohon. Hingga cerita menarik ketika datang teman Regina, Steven Kaye, seorang pembuat film documenter yang bermaksud memfilmkan aksi Chico dan perserikatannya melawan usaha-usaha pembakaran hutan.

Chico bahkan sempat mencalonkan diri dan mengikuti pemilihan umum calon gubernur, namun hanya 10 % yang memilihnya karena kecurangan-kecurangan yang dilakukan lawan politiknya. Namun ia tak menyerah, seperti juga istri dan teman-temannya terus mendukung.

Film documenter yang dibuat oleh Kaye tak disadari telah membuat Chico mendapat penghargaan internasional sebagai penyelamat hutan hujan tropis. Chico diundang ke Miami dan menjadi tamu di pertemuan anggota PBB. Ada banyak hal yang ironis disini. Para wakil Negara-negara sama sekali tak menggubrisnya, jangankan memberi dukungan. Ia dianggap tak baik untuk bisnis. Tapi tentu saja Chico dan Kaye tak menyerah, presentasinya yang baik mampu mengundang dunia untuk mendukung aksinya menghentikan pembuatan jalan dan menyelamatkan rainforest.

Tapi ternyata dihentikannya pembuatan jalan mengundang insiden baru dengan Darli Alves, pemilik peternakan yang selama ini berkonflik secara terbuka dengan perserikatan. Darli Alves dan anak buahnya berkeras menebang pohon-pohon dan membuka jalan. Sebaliknya Chico dan penduduk desa laki-laki perempuan dan anak-anak juga berkeras melindungi pohon-pohon mereka. Dalam hujan mereka dipukuli, tapi kepiawaian Chico mengatur anak buahnya untuk tetap bertindak tanpa kekerasan patut mendapat pujian. Dalam insiden itu mereka memilih mundur. Tapi dalam perjalanan pulang mereka ditembaki oleh orang-orang berkuda suruhan Darli Alves. Seorang anak kecil mati karena insiden itu. Tragis!

Tak hanya itu, Jair Inglesias, seorang pemuda yang begitu setia pada perjuangan Chico dan perserikatan juga dibunuh dengan sembilan tembakan saat ia sedang menyadap karet di hutan. Kematian-kematian orang yang mereka cintai membuat kemarahan yang luar biasa. Sebagian mereka ingin sebuah perang terbuka, sementara Chico dan sebagian yang lain tak menginginkan perang dan senjata. Mereka pembunuh, tapi kita tidak harus jadi pembunuh juga. Begitu kata Chico.

Berita tentang pembunuhan-pembunuhan di Cachoeira tentu tak bisa ditutup-tutupi. Media menulisnya dan membuat dunia tahu. Alfred Sezero yang investor dan Galvao yang menjadi lawan politik Chico dalam pemilihan umum menilai situasi ini sudah sangat tidak baik. Insiden demi insiden bisa mengagalkan semua rencana mereka. Apa yang sudah terjadi sama sekali tidak baik untuk investasi dan karier politik.

Dengan dikawal sepasukan militer Sezero dan Galvao mengunjungi perserikatan. Berbicara (baca : berusaha menyuap) dengan Chico untuk lebih kompromis. Tapi tentu saja Chico bukan orang yang bisa dibeli. Perundingan yang alot terus berjalan. Sementara penduduk desa menanti di luar. Kehabisan akal, akhirnya kedua orang itu menyerah. Pembuatan jalan dihentikan, hutan dan tanah mereka akan dilindungi. Cachoeira akan menjadi sebuah kawasan yang dilindungi secara hukum, dan mereka semua bisa bekerja disana dengan aman.

Disinilah puncak kemenangan Chico dan kawan-kawannya. Kemenangan ini membuat Darli Alves terbakar. Saat itulah terror terhadap hidup Chico dimulai. Seperti Pinheiro, Chico berakhir di kantor (sekaligus rumahnya) sendiri, meninggalkan dua orang anak dan Ilzamar, Istri yang dicintainya. Tapi Chico berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai ia menjemput ajal. Dan ia tidak akan dilupakan.

Begitulah film ini bercerita.

Apa yang dilakukan Chico, Pinheiro dan anggota perserikatan tak hanya mengajarkan pada kita tentang konsistensi, nir senjata dan nir kekerasan. Lebih dari itu, film ini membuka mata kita pada satu kenyataan bahwa kadangkala demi uang banyak hal telah dikorbankan. Tak hanya lingkungan hidup, tapi juga mereka orang-orang yang selama ini bergantung pada lingkungan dan menjaganya sepenuh hati.

Para rubber-tapper tradisional bukan orang-orang serakah, mereka bahkan tak mengambil lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Seperti Chico kecil berkata pada Tavora, jangan menggores terlalu dalam karena Curupira akan marah, jika kau mengambil terlalu banyak mahluk cebol hutan itu akan menyuruh hutan menelanmu. Cerita ini bukan sekedar dongeng anak kecil, tapi bahwa ada kearifan yang dimiliki orang-orang ini. Kearifan untuk menjaga hutan dan tidak menjadi serakah.

Perjuangan Chico dan teman-temannya tak lebih dari sebuah harapan sederhana bahwa mereka bisa bekerja dengan baik dan mendapat hasil yang baik dari hutan dan tanah mereka sendiri, bahwa ada bagian anak cucu dan keturunan mereka di tanah tersebut. Tidak lebih.

We can survive as a species only if we live by the rules of the biosphere. The biosphere has enough for everyone’s needs if the global economy respect the limits set by sustainability and justice. As Gandhi reminded us : “ the earth has enough for everyone’s needs, but not for some people’s greed.” (Vandhana Shiva- Globalization and Poverty: 2001)

Sunday, September 21, 2008

masih tetap tersenyum-PADI

ketika keretaku tak datang lagi

menjemput cintaku yang telah lama mati

seperti layaknya bintang tak bersinar

namun aku masih tetap tersenyum

ketika kekasih ku meninggalkan aku

ku tak tahu kemana dia telah pergi

tak tersentuh tak terjamah

tak kudengar lagi

namun aku masih menikmati hidup

ketika keretaku telah datang kembali

membawa cintaku tertera di dasar hati

menawarkan kepedihan di antara tawa

namun aku masih tetap tersenyum

namun aku masih tetap tersenyum

//

20 sept 08

malam terlalu cepat datang, soreku bising tak terjelaskan, aku kehilangannya.. lagi..

Tuhan, bantu aku untuk tetap tersenyum..

Thursday, September 18, 2008

tips buat yang mau mudiks pake pesawat

lebaran sebentar lagi... aku blm dapat tiket niy...hehehe, libur cuma 5 hari.. udah termasuk waktu perjalanan. gtau deh pulang apa enggak..
tapi buat anda yang mau mudik pake pesawat, ada baiknya anda membaca report yang satu ini.

Menurut Sudaryatmo, pengurus harian YLKI, potensi pelanggaran terutama soal tarif. " di indonesia itu ada dua jenis tarif, low cost carrier sama full service carrier. beberapa operator ada yang menerapkan tarif melebihi batas atas, terkadang juga terjadi konsumen membayar dengan biaya full service tapi mendapatkan pelayanan untuk low cost, Jelas Sudaryatmo.

Persoalan yang kedua biasanya soal pelanggaran jadwal penerbangan. Nah disinilah terkadang operator tidak memberikan informasi yang cukup kepada konsumen apabila terjadi keterlambatan, juga soal estimasi keberangkatan. seharusnya konsumen mendapatkan informasi yang jelas, sekaligus kompensasi terhadap konsumen," Misalnya ketika mereka harus menunggu, maka konsumen harus mendapatkan snak, makan atau penginapan, tergantung kasusnya,"jelas Sudaryatmo.

Peran pemerintah sebagai pembuat dan pengawas kebijakan juga penting agar mudik berjalan dengan lancar sesuai harapan dan konsumen tidak dirugikan. "regulator harus tegas, karena aturannya kan sudah jelas, termasuk juga batas atas itu apa sanksinya, jika terlambat apa kompensasinya, semua sudah diatur. tinggal bagaimana pelaksanaannya. Karena itu pemerintah juga harus memonitor bagaimana di lapangan" kata Sudyatmoko.

Untuk keamanan dan kenyamanan saat mudik, Sudyatmoko memberi tips kepada para pengguna jasa pesawat terbang.
Pertama, jika sudah menentukan tujuan, pertama pastikan tarif tiket tidak melewati batas atas sesuai peraturannya. ketika sudah mendapat tiket, perhatikan dengan benar jam dan terminal keberangkatan. dan upayakan bahwa 1 jam sebelumnya sudah ada di lokasi.
jika ada masalah yang pertama adalah hubungi operator dan service center bandara, jika tidak dapat diselesaikan dapat menghubungi YLKI melalui telpon 7981858/59 atau melalui SMS ke 08128002527.

YLKI akan melakukan fasilitasi, sesuai dengan pengaduan yang ada, YLKI akan memfasilitasi dialog antara konsumen, regulator dan operator nanti setelah lebaran. dari situ akan terlihat bagaimana komitmen pihak-pihak tersebut untuk menyelesaikan kasus yang ada (sumber, Kontan, 21 september 2008)

aku menunggu

aku melihatnya,
serupa haru rasarindu di pucuk senja
Tuhan, ini hari keberapa?
jika menunggu berarti doa
menunggu, sebelum jiwa rasa hampa
tidak ada tanda, hanya kata dan rambu biasa
persimpangan tak bertanda
cuma cerita dari pejuang yang tak sempat meninggalkan nama
aku menunggu
jika menunggu adalah cinta
aku menunggu,untuk senyummu

tentang angin

Angin
tiba-tiba angin yang keras menyapu dari langit, dedaun berguguran, debu-debu pontang-panting menciumi jalanan. Pohon-pohon memaksa tegak, walau kemarau telah mengeringkan ujung-ujung akarnya.Tragis! musim berjalan seperti tanpa harapan.
mereka bilang, panggil dia angin. Angin saja, seolah itu wahyu yang tak bisa diganti. walau juga tidak penting untuk digubris. matanya, si angin itu, seperti burung bangkai kelaparan, sama sekali tak tampan layaknya elang seperti yang dibilang orang-orang.Tapi mereka memujanya, angin suka menabur duit, menabur duit setiap hari. bersama debu dan kabut smog yang menurutku beracun, menyesakkan. seperti yang baru saja lewat, angin tak pernah datang tanpa uang. dan tentu saja, tidak pernah juga disambut tanpa pesta-pesta.
bah! mereka memujanya seperti dewa. Angin makin tinggi hati saja. kenapa juga aku harus kesal,apakah aku cemburu padanya?. Bibirnya bahkan tak lebih baik dari bibir lintah yang suka menghisap, lebih tepat lagi, seperti bibir politisi yang suka membual.
setahun lalu, sebelum angin mulai menyerang, kotaku adalah surga yang tidak memerlukan dewa-dewa untuk dipuja, tak memerlukan uang untuk mengisi perut, apalagi membeli cinta. rumah kami hanyalah pohon-pohon dan sungai-sungai harga diri. tak lebih tak kurang. kehidupan berjalan dalam nafas panjang tanpa rasa takut, bahkan kami tak membutuhkan kunci untuk pintu-pintu kami..
Lalu datanglah angin yang mengaku Tuhan lain peradaban. katanya kami bar-bar, bangsa yang masih memakan daun dan ikan. yang masih menanam dan meramu.angin mengajari kami membangun menara, pabrik-pabrik,bendungan-bendungan, mempertemukan kami pada listrik, membuat bintang-bintang datang ke rumah kami, hingga malam kami menjadi siang. dan hidup kami benar-benar selalu siang..
dan setelah itu kami lupa caranya menanamkami hanya tau caranya membangun.bekerja saja. menanam bukanlah pekerjaan bukan?
angin menjadi dewa, benar-benar menjadi dewa, ia mendatangkan makanan dalam kapsul-kapsul instan yang mengenyangkan. tak ada waktu untuk mengunyah, karena kami harus bekerja.. kami harus memuja!

jangan berhenti

hidup itu...penuh kejutan.
Aku gak tau kenapa bisa sampai disini, beberapa orang bilang aku tidak konsisten.
Tapi mereka tidak mengerti.
Aku tidak tau seberapa lama aku akan berada disini.
Tapi aku harus menikmati setiap detiknya dan menemukan maknaku sendiri.
Tidak ada yang sia-sia.

Jalan kita masih panjang, sayang..
seperti langit yang entah dimana ujung dan awalnya
mimpi kita masih jauh, sayang..
jangan berhenti sekarang, kita belum lagi berjuang

di keriuhan ini
dimana waktu tak pernah disudahi
dan kata tak henti dijelajahi
aku yakin aku masih bisa bertemu dengan batinku
dan belantara hening
yang bisa menjawab tanyaku

jangan berhenti, sayang
walau mungkin kita tak menang
tapi rindu akan menuntun kita pulang
pada jiwa yang lapang


Jakarta,10 September 2008