Thursday, November 27, 2008
ViSi
Ada cerita tentang tiga orang pemecah batu. lalu datanglah orang yang bertanya kepada mereka, "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya. Orang pertama menjawab, "Aku sedang memecah batu," , orang kedua menjawab, "Aku sedang memecah batu untuk membuat masjid," , sementara orang ketiga menjawab, "Aku sedang membangun peradaban," katanya.
Ketiganya, memang sedang melakukan kegiatan yang sama, memecah batu. Tapi mereka bertiga berbeda... yang membedakan adalah VISI. Yah, sama halnya ketika kita sedang duduk di kelas dan mengikuti kuliah.. 50 orang dalam kelas itu melakukan hal yang sama, mencatat dan mendengarkan dosen. Tapi berapa banyak yang punya cita-cita? berapa banyak yang berani bermimpi?
Gustiku...katakan jika aku keliru, hidup yang cuma singkat ini akan kubawa kemana? aku akan mencatat makna seperti apa? aku ingat, kita semua akan berakhir menjadi makanan cacing bukan? lalu apa yang akan membedakan yang satu dengan yang lain?
Wednesday, November 26, 2008
saat-saat terakhir
Akhirnya, hari ini aku bisa berlega hati untuk keluar dari pekerjaan ini. Walaupun tidak dengan baik-baik, karena orang-orang bicara tentang hal yang aneh. Tapi sudahlah, karena aku percaya Tuhan yang paling tahu tentang segala isi hati, dan Dia akan menjagaku dari para pemakan bangkai...tukang fitnah.
Aku sudah merencanakan banyak hal, buku dan film yang belum selesai kutulis, guru yang belum kutemukan. Tak sabar rasanya, mengasah pena di luar sana, bertemu dengan keajaiban-keajaiban selanjutnya. Tuhan...aku menunggu saat pertemuan itu.
Aku yakin mereka disini adalah orang-orang yang baik. Mungkin aku yang tak memahami mereka, atau mereka yang tak memahami aku. Aku yakin, Tuhan memiliki cerita yang indah tentang tempat dimana aku pernah bersinggah. Kita telah memilihnya, dan belajar dari Guru terbaik bukan? aku tidak pernah menyesali sesuatu yang pernah terjadi..
Monday, November 24, 2008
cukup sudah cukup walau tak pernah cukup
Rencananya aku mau resign akhir bulan ini, biar bulan depan bisa segera ke Kediri dan belajar sebentar disana. Toeflku harus 600 bung! membayangkannya sudah berat.. tapi aku harus.. karena waktuku semakin sempit..
Aku masih bingung bagaimana menyampaikan ke bosku, sumpeh deh looo... ternyata gak gampang, lebih berat rasanya daripada mau mutusin pacar. Redakturku itu baik semua, teman-temanku juga baik, office boy baik, gaji disini baik, pekerjaanku baik,..
tapi aku masih ingin mendalami ekofeminisme dan belajar dari guru-guru yang lain, aku masih ingin ke ISS dan mencoba membuat perubahan..
Kita akan jadi peluru. Tapi jangan lupa untuk melahirkan lebih banyak peluru lagi..
Maka jadilah rahim yang melahirkan cinta dan pembebas
Friday, November 14, 2008
Love u Mama
mama dari 2 hari kemarin memang di Solo sama tanteku, ada sodara nikahan. Sebelum pulang memang mau mampir Jogja, ngambil barang2ku yang tersisa (sisanya segudang tapi), tus mau pulang naik travel ke PWT.
Rasanya sama kayak waktu mama sakit dan trombositnya tinggal seucrit. Dari jakarta aku langsung cabut ke PWT. Parah, sampai pindah rumah sakit, dua kali tranfusi trombosit. Seminggu aku tidur disampingnya, berdoa.. Tuhan, beri aku kesempatan untuk menjaganya, berbakti lebih panjang lagi. Aku belum juga memberinya menantu, cucu yang pintar-pintar, belum membuatnya bahagia.
Tadi pagi aku liputan ke kidzania, membayangkan membuat yang serupa di PWT. Membayangkan punya anak-anak dan belajar bersama mereka. Membayangkan Mama... Bahagia rasanya, jika keluarga kita sempurna.. Dan kita akan menikmatinya sampai tua.
Tuesday, November 4, 2008
Mereka Tidak putus Asa
Hari ini, sejam sebelum penandatanganan Kontrak karya Penambangan, Pak Dirjen Minerbapabum DESDM Bambang Setiawan mengirimkan smsnya, "Hari ini jam dua siang,"katanya. Aku langsung lemas.. Kuhubungi kawan-kawan segera. Mengabarkan berita buruk ini.
Setelah dua tahun berjuang, aku yakin bukan ini akhirnya. Karena kita tidak akan berhenti disini, karena kita tidak akan menyerah. Duh Gusti..
sama sekali tidak boleh lengah, masyarakat juga punya batas kesabaran. aku juga harus hati-hati menyampaikan kabar, apapun, tidak boleh menyulut orang-orang, karena anarkisme jelas tak menghasilkan apa-apa. So..come on meif, bertindak taktis dan berpikir cerdaslah...
aku tahu ini bukan akhir dunia, aku ingin percaya kita masih hidup di dunia penuh kasih sayang, aku ingin yakin setiap manusia yang lahir dari rahim pasti memiliki hati. Tapi aku juga tidak lupa, bahwa banyak orang lebih sering bertindak bodoh daripada cerdas. Atau kadang-kadang kita juga begitu lugu untuk dibodohi. Dan kebodohan itu yang membuat kita menjual harga diri dan bangsa ini kepada tuan yang lain..
Mereka tidak putus asa. Seribu kali penandatanganan kontrak karya sekalipun, kita tidak akan menyerah. Tanah ini punya sejarah, pasir ini punya cerita, kita tidak akan henti disini untuk anak cucu kita.
kamu yakin bukan? apa kamu mendengarkan? Tanah yang mana lagi yang akan kita jual? anak-anak siapa lagi yang akan terlahir jadi buruh? berapa banyak lagi kita akan berhutang? pantaskah kita mengemis 1,5 % sementara mereka berpesta dengan 98,5% dari mengambil pasir kita yang kaya besi? pasir yang telah menghidupi kita tanpa meminta imbal jasa. pasir yang menumbuhkan kehidupan hingga jantung kita terus berdetak dan perut kita kenyang oleh rasa syukur.. pasir yang telah diberkati Tuhan untuk anak cucu kita.
Tuesday, October 28, 2008
Ayo Tolak Tambang Pasir Besi Kulon Progo!
Rencana penambangan pasir besi yang akan dilakukan oleh PT Jogja Magasa Mining (PT JMM) yang menggandeng perusahaan Indomines dari Australia dengan nilai investasi sebesar US $ 600 juta sudah sampai pada tahap Kontrak Karya (KK). Penandatanganan Kontrak Karya yang rencananya akan dilakukan minggu kemarin sampai saat ini belum juga terealisasi.
Bambang Setiawan, Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM mengatakan penandatanganan Kontrak Karya yang sebelumnya dijadwalkan minggu kemarin kini tinggal menunggu waktu dari Menteri ESDM. "Minggu yang lalu Pak Menteri mendadak harus ke China mendampingi RI-1" jelas Bambang melalui pesan singkat.
Akan tetapi selama hari Kamis-Sabtu di Kulon Progo terjadi aksi penolakan dari ribuan warga pesisir yang lokasinya akan dijadikan area penambangan. Aksi tersebut bahkan disusul dengan kericuhan akibat kemunculan beberapa warga yang pro penambangan yang melakukan perusakan pada posko-posko warga di sepanjang pesisir.
Menanggapi hal tersebut,Presiden Direktur PT JMM Lutfi Heyder mengatakan pihaknya akan terus menunggu kapan Kontrak Karya tersebut ditandatangani. " Kami sudah mengikuti semua prosedur sesuai hukum dan aturan yang berlaku untuk sampai kepada Kontrak karya tersebut. Jika ada pro dan kontra itu bukan urusan saya" tegasnya. Jika Kontrak Karya sudah ditandatangani PT JMM akan segera memulai AMDAL. "kalau AMDAL sudah beres maka proyek bisa dimulai" jelas Lutfi.
Nampaknya yang harap-harap cemas menunggu penandatanganan Kontrak Karya tersebut bukan cuma PT JMM, pemerintah daerah juga mengakui sangat mengharapkan KK tersebut segera ditandatangani. Mulyono, Wakil Bupati Kulon Progo yang dihubungi melalui telepon mengatakan,"Silahkan demonstrasi tidak dilarang, tapi kami menghendaki itu (Kontrak Karya) dapat ditandatangani secepatnya, mudah-mudahan bisa dalam minggu ini" jelas Mulyono.
Sementara itu Supriyadi, ketua Paguyuban Petani Lahan Pasir Kulon Progo yang mewakili sekitar 30.000 warga pesisir mengatakan masyarakat akan tetap menolak rencana tambang pasir besi tersebut. "Meskipun Kontrak Karya akan ditandatangani 50 kali sekalipun kami tetap menolak" tegasnya. Supriyadi menyayangkan kebijakan pemerintah yang tidak mengakomodasi kepentingan warganya. " Jika pemerintah tetap ngotot dengan penambangan tersebut, ya kita tunggu saja nanti apa yang akan terjadi" ungkapnya.
Supriyadi menjelaskan, saat ini warga pesisir masih berusaha meredam suasana akibat insiden penyerangan terhadap mereka kemarin. "kami menekankan kepada warga agar warga tetap tenang dan bertani seperti biasa agar perekonomian tidak goncang" jelasnya."kami menanam cabe, semangka dan sayur-sayuran disana, dimana dari hasil pertanian tersebut perputaran uang di setiap desa bisa mencapai miliaran rupiah perbulan" tambah Supriyadi.
Tambang pasir besi yang rencananya akan dilakukan selama 20 tahun di 4 kecamatan ( Galur, Panjatan, Wates dan temon) sepanjang 22 KM dengan kedalaman 10 meter, dan seluas sekitar 3.000 hektar ini setiap tahunnya bisa menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. Lokasi penambangan itu sendiri sebagian besar merupakan lahan produktif yang digunakan warga untuk kegiatan pertanian hortikultur yang sudah puluhan tahun digarap warga di 4 kecamatan tersebut.
.
Meifita @ Harian Kontan
Friday, October 24, 2008
ego
Jalan-jalan telah kita lewati begitu panjang dan jauh tapi aku tak bisa berhenti, tak bisa memohonmu untuk berhenti, mungkin berjalan bisa mengurung airmataku agar tak jatuh. agar aku bisa menyusun nafas satu-satu. Agar tak menangis.
Kita sudah sampai disini, dan kau tak berkata apa-apa. Kita sudah dekat, padahal kita tak ingin sampai. Aku tau kita tidak ingin cepat pulang. Tidak ingin waktu berlalu dan menjadi senja, lalu kita akan berpisah. Kenapa? kau berusaha menahan matahari agar tak menjadi malam, tapi, tak sepatah katapun untuk menahanku.
Aku menemukan rindu di matamu yang mendung. Aku menemukan cinta di senyummu yang tertahan. Semua selalu serba pelan dan hati-hati sekarang. Karena kita sudah terlalu sering saling menyakiti. Aku juga menangkap haru, di wajah sendumu. Begitu lama, kita baru bisa bertemu.
Bagaimana aku mengatakannya? sementara aku tau bahwa semua percuma. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Lima tahun lalu kita mengawalinya, kita menumbuhkannya dalam doa dan kepasrahan. Kita membumbuinya dengan kecemburuan dan ego. Kita mengakhirinya, dengan airmata..
Monday, October 20, 2008
kita bisa
Aku emang udah janji sama Papa mau nengokin kakak sepupuku di Bogor. Pas mudik lebaran kemarin Papa sampe gak enak banget, coz ternyata beberapa hari sebelum lebaran istri kakak sepupuku meninggal. Dan aku belum sempat kesana. Hiks! jadi merasa bersalah.. Makanya Meif, kalau uda niat jangan ditunda2 lagi... Forgive me ya Allah. Padahal jakarta - Bogor kan deket...
Siang itu aku kesana, naik Pakuan. Aku gak terlalu hapal kota Bogor. Maklum, sekalipun beberapa kali kesana gak pernah pake kendaraan umum. Mama udah ngasih tau, katanya cari ramayana, naik angkot dari sana. Tapi...ternyata Ramayananya udah berganti jadi BTM, Bogor Trade Mall. jadinya keder deh..bener gak yaak..sukurnya, Kakakku dengan baik hati menjemput..hehe..
Dan sampailah aku ke rumahnya yang teduh. Nyampe sana langsung di sambut hujan, hiyaa senang sekali.. ( Lupa ya kalo bogor kota hujan, biasa aja kalee..) delapan tahun lalu terakhir aku maen ke rumah ini, waktu itu aku masih kelas 2 SMA. Ceritanya, lagi jadi finalis lomba karya tulis se jawa Bali di IPB, gitu. Rumahnya masih sama, bedanya cuma sekarang gak ada Mba Dien, jadi sepi.
Tapi, meif mari kita meramaikan suasana... karena dengan atau tanpa kesedihan hidup harus terus berjalan..
aku..sejujurnya iri, mereka begitu saling mencintai. Mungkin, mereka pasangan paling romantis dalam keluargaku. Sapaan yang lembut, keluarga yang hangat, saling mencintai satu dengan lain. Bedanya kakak sama papa adalah, papaku kurang pandai mengekspresikan cintanya sama mamaku, hehehe.. garing, jayus..tapi..tentu mamaku tau betapa papa cinta pada mama, haha.
Pagi itu kami makan bubur ayam di daerah gunung batu. minggu yang cerah..sambil kakak ajak aku keliling dengan mobilnya, ngapalin jalan katanya. kami lalu bercerita tentang banyak hal, tentang pekerjaan, riset-risetnya, lingkungan, kuliahnya, semua..menyenangkan.. lalu sampai disebuah jalan, dia melambatkan laju mobilnya. "mbakyumu dimakamkan disini" katanya pelan.
Lalu..sepertinya hujan datang lebih pagi..
tapi, aku yakin dia tegar. karena semua milik Tuhan dan akan kembali padaNya bukan?
aku belajar, kita bisa mencintai seseorang sampai saat-saat paling akhir.. kita bisa. Aku mengalami itu dengan kakek, dengan nenek, Alhamdulillah, Tuhan mengijinkan aku menjaga mereka sampai detik terakhir.. aku percaya, kita bisa mencintai seseorang, bahkan ketika dia sudah tidak ada disisi kita lagi..
Friday, October 17, 2008
memanah peluang bisnis syariah
Siapa yang tidak ingin cantik? berkerudung sekalipun, semestinya juga menjaga kulit dan rambut tetap apik. Jumlah orang yang sadar tentang kebutuhan alamiah untuk tampil lebih baik ini terus bertambah. Inilah segmen yang mulai dijamah, membuka salon khusus muslimah, biar cantik tetap sesuai syariah.
Salah satu yang menseriusi bisnis salon khusus muslimah ini adalah Agustaf Alvi. Ketertarikan Agus berawal setelah dia melihat Salon Muslimah di Bogor milik teman istrinya, merasa bahwa ini akan berprospek baik, tak menunggu lama salon milik Ibu Salmah itu pun dikembangkan dan dipatentkan sebagai merk dagang. Saat ini Salmah sudah memiliki 5 cabang, Cimanggis, Cibubur, Dumai, pekanbaru dan Bukittinggi.
" Saya melihat salon adalah profit generator yang bagus, resikonya paling kecil, dan jika tidak laku barang-barangnya masih bisa dijual dengan harga yang bagus" jelas Agus. Tapi Agus memberi catatan, yang coba dikembangkannya adalah Rumah salon khusus Muslimah. Menurutnya rumah bisa menjadi tempat usaha yang menguntungkan.
Segmen muslimah pada waktu itu (tahun 2002) saat Agus mulai mengembangkan Salmah belum banyak digarap. Agus percaya jika ia memulainya sejak awal Salmah bisa jadi market leader di bisnis Salon Muslimah. "saat ini kepedulian orang Islam pada produk yang syar'i, halal dan sehat terus meningkat, tapi belum banyak yang sungguh-sungguh menyediakan kebutuhan tersebut" jelas Agus.
Perbedaan Salmah dengan salon umum terletak pada pemilihan produk yang halal dan dipercaya oleh pelanggan muslimah, ruangan yang bebas laki-laki dan tentu saja suasana yang Islami.Jenis jasa yang ditawarkan tidak jauh berbeda, dari mulai perawatan rambut, perawatan kecantikan dan perawatan tubuh seperti spa, lulur, sauna, pijat refleksi sampai paket pra nikah dan pasca melahirkan juga ditawarkan.
Umumnya pelanggan yang datang lebih senang mengambil paket perawatan tubuh, "jarang yang datang untuk potong rambut saja, karena muslimah tidak terlalu peduli pada model rambut ya?" kata Agus. Jadi rata-rata uang yang dikeluarkan per orang yang datang Rp 100.000. Padahal dihari biasa saja Salmah bisa kedatangan 10 orang perhari. Marjin yang didapat Agus, minimal 40 % dari Omzet. " Jika karyawan tidak boros listrik, air, dan bahan perawatan tentu keuntungan bisa lebih besar lagi" Kata Agus.
Tapi bisnis salon khusus muslimah juga bukan tanpa kendala.Agus mengakui masalahnya paling besar adalah sumber daya manusia. Padahal SDM penting bagi kesinambungan suatu bisnis. Saat ini belum ada pusat training muslimah yang memberikan skill seperti itu. "ini kan salon muslimah, ada kurikulum tentang syariah. Jadi karyawan harus mengerti juga" kata Agus.
Saat ini Salmah membuka kesempatan kerjasama dengan mereka yang berminat mengembangkan salon khusus muslimah. Agus masih menggratiskan franchise fee, biaya bergabung dan tanpa royalti. Cukup dengan investasi Rp 75 juta, modal tersebut akan digunakan untuk rekrutmen, training, 90 lebih item peralatan salon dan spa, interior, SOP, dan kosmetika untuk 3-6 bulan pertama.
"saya hanya mensyaratkan mereka memakai brand saya, dan membeli bahan-bahan salon dan kosmetika dari saya. Rencananya gratis franchise fee dan lain-lain itu sampai Salmah ada minimum 10 outlet. Setelah itu baru saya komersilkan" jelas Agus.
Selain Agus, ada Yulia Astuti dan Lindawaty, kakak beradik jebolan universitas Indonesia yang membuka Salon Moz5. Kesulitan mencari salon khusus muslimah yang mereka alami memberi inspirasi untuk membuka Moz5 tahun 2003. Moz5 sudah memiliki 8 outlet, empat diantaranya merupakan hasil kemitraan.
Fauzia Rahmawati, juru bicara Moz5 mengatakan, "awalnya Moz5 buka di Margonda, dimana segmennya adalah mahasiswi muslim di kampus sekitarnya. Tapi permintaan pasar terus bertambah, sehingga Moz5 pun giat melebarkan sayapnya" jelas Rahma. Yulia dan Linda pun serius belajar cara-cara mengembangkan bisnis, mengikuti seminar-seminar, pameran dan banyak membaca.
Moz5 menawarkan dua jenis paket kemitraan. Pertama adalah paket investasi senilai Rp 89 juta dan paket konsultasi Rp 60.500.000. Bedanya, paket konsultasi mitra bisa berdiri sendiri dengan brand sendiri, Moz5 hanya memberikan 3 bulan pendampingan. Rahma mengatakan, "insya Allah, dua tahun modal bisa kembali" kata Rahma.
Saat ini Moz5 sedang bersiap membuka dua cabang barunya di Bandung dan Surabaya. dalam sehari di masing-masing cabang bisa kedatangan pelanggan 20 orang. Jika hari Sabtu dan Minggu bahkan bisa mencapai 40 orang. Harga yang dipatok Moz5 paling murah Rp 17.500 dan paling mahal Rp 540.000 untuk paket perawatan pra nikah.
buat yg mau nikah (termasuk gw?)
Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga wilayah DKI Jakarta, Sulasmiati Supardan mengatakan, sebelum memilih catering, konsumen harus tahu apakah catering tersebut memiliki pengalaman dan bertanggungjawab atau tidak." pilih yang punya tanggungjawab, tidak hanya soal masakan yang sesuai dengan pesanan tetapi juga tepat waktu" jelas Sulasmiati.
Sulasmiati juga mengatakan,"Konsumen harus waspada, ada catering yang suka memaksa dalam berpromosi" jelasnya. Tidak jarang, ada catering yang memberi iming-iming berlebihan, baik diskon langsung maupun harga yang murah. Sulasmiati mencontohkan, dari jumlah undangan atau perkiraan tamu yang hadir, perhitungannya adalah 70 % untuk buffe dan 30 % untuk gubug. jika undangannya lebih banyak bisa diganti perbandingannya 60 : 40. "Jadi sudah ada standarnya" jelas Sulasmiati.
"jika tidak sesuai standar, bisa-bisa jam 9 makanan sudah habis, tamu yang belakangan tak kebagian" kata Sulasmiati. ini jangan sampai terjadi pada pesta yang hanya 1 kali seumur hidup. Selain itu komunikasi yang transparan juga harus dibangun antara konsumen dan pihak catering." konsumen harus berterus terang berapa anggaran yang tersedia dan berapa tamu yang diundang" kata Sulasmiati. Karena ketika konsumen tidak jujur, catering pun akan salah dalam memperhitungkan. " Lalu jika makanan kurang siapa yang malu, pengantin dan cateringnya kan?" ucap Sulasmiati.
Selain Sulasmiati, Tuty Rooswiati pemilik Tuty Catering juga memberi saran, agar konsumen memilih catering bukan yang sekedar murah, tapi yang layak dan terjangkau. "jika sempat survei lah di acara-acara pernikahan, tapi datang setelah jam 12" kata Tuty. menurut Tuty, jika datang jam sekian konsumen akan tahu apakah cateringnya bagus atau tidak. Jika jam 12 makanan sudah habis, suasana berantakan, ini bisa menjadi gambaran bahwa catering tersebut kurang profesional.
Konsumen juga harus mengenal dengan baik siapa cateringnya. "terkadang ada catering yang tidak memasak sendiri, siomay beli dimana, kue pesan dimana, sup atau satenya dimana, jadi kan tidak bisa dikontrol kualitas dan kebersihannya" jelas Tuty. Biasanya dari makananannya terlihat, apakah masing-masing dikerjakan dengan baik atau tidak. Catering yang baik tentu sangat menjaga mutu, rasa dan kualitas masakannya, walaupun itu hanya puding.
Kebersihan peralatan makan juga penting, jangan sampai tamu enggan makan karena piring atau gelasnya kurang bersih. "jika perlu dapur juga harus ditunggu oleh panitia, agar bisa sama-sama ikut mengontrol" kata Tuty, karena ada juga catering yang tidak jujur dan memberikan servis kurang dari jumlah pesanan.
Selain itu pilihlah catering yang mengerjakan sesuai kemampuan. "ada juga catering yang semua permintaan ditanggapi tanpa melihat kemampuan, akhirnya kualitas dinomor duakan" jelas Tuty. Jadi catering yang selalu mengiyakan juga belum tentu bisa menjaga kualitas servis.
Terpenting Tuty menyarankan, lihat dan dengarkan pengalaman orang sebelum-sebelumnya. "promosi bukan jaminan dalam kualitas layanan." kata Tuty. Maka tidak ada salahnya bertanya pada kerabat dan teman tentang pengalaman mereka soal memilih catering. "ini kan bisnis kepercayaan, konsumenlah yang saling merekomendasikan" kelas Tuty.
Gusti..
maka tolong katakan sesuatu.. karena aku menunggu.
katakan saja, jika sekarang waktunya
aku akan menyambut surga.
lihatlah, di riang pohon, jiwaku dihembus bayu
aku tak kan kemana
selama nafas masih merdeka
di bulir pasir dan pucuk-pucuk enau yang meneteskan madu.
aku akan jadi embun
jika pagi masih menyala dibenak para jelata
nelayan menebar jala, menjemput rupa cinta
laut kita kaya
aku akan jadi embun
yang melahirkan pagi
sebelum sirnanya
Sunday, October 12, 2008
Menangkap untung dari budidaya kodok lembu
Menangkap Untung dari Katak Lembu.
Hujan buatan tampak mengguyur kawanan kodok di dalam kolam-kolam berukuran 5 x 5 meter. Ini bukan kodok biasa, 30-an ekor kodok dalam kolam tersebut adalah katak lembu atau Bullfrog, salah satu komoditi andalan ekspor. Musim kemarau mengharuskan Kurniawan petani bullfrog di Sragen untuk menjaga agar sumber pendapatannya itu tetap lembab, bisa berus bernyanyi memanggil hujan uang.
Salah satu pembudidaya katak lembu adalah Kurniawan. Pegawai dinas pekerjaan umum Sragen ini sudah lima tahun nyambi sebagai pembudidaya bullfrog. Kurniawan melihat peluang budidaya bullfrog sangat baik karena termasuk komoditas yang masih jarang dengan pangsa pasar tertentu, dan membutuhkan ketelatenan khusus.
Kurniawan membudidayakan bullfrog di dalam 40 kolam. Dari kolam tersebut, rata-rata setiap bulannya Kurniawan mampu menjual sampai 1,5 kuintal bullfrog yang harganya saat ini mencapai Rp 44.000 rupiah perkilo. " kalau musim kemarau seperti sekarang biasanya mahal, tapi harga stabilnya antara Rp 32.000 - 35.000 rupiah. Selain menjual produksi sendiri, Kurniawan juga menjadi pengepul dari daerah sekitarnya, para pembudidaya skala kecil sehingga dalam sebulan total dia bisa menjual 2- 5 kuintal bullfrog.
Pasar bullfrog masih terbuka lebar, Kurniawan mengaku cukup kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang besar. " biasanya pengepul datang kemari langsung dari Surabaya, Semarang dan Jakarta, bullfrog memang khusus untuk konsumsi hotel dan restoran. " bullfrog berbeda dngan jenis swikee, sama-sama kodok hijau tetapi jenis dari Amerika". Kurniawan pernah menjajal pangsa luar negeri tetapi kesulitan untuk memenuhi kontinuitas produksi. " dulu sehari diminta memenuhi 50 kg saja, itupun harus ukuran 1-1,5 kilo, berat sekali sampai pontang-panting. " jawabnya. Harga untuk ekspor tersebut diakuinya lebih mahal 150 % - 200 % dari harga dalam negeri, " tapi saya memilih dalam negeri saja. Lagipula, birokrasinya ribet dan buyer banyak tuntutan dan syarat, selain kontinuitas tadi susah dipenuhi" ungkapnya.
Ketika musim penghujan, biasanya Kurniawan kelebihan jumlah anakan atau precil, "kadang jual precil juga untuk dibesarkan petani lain" kata Kurniawan. harga perekor precil saat ini berkisar antara Rp 1000 - 1500. Sementara itu harga indukan berkisar antara Rp 150.000 sampai Rp 200.000 per ekor. " untuk produksi saya setidaknya harus memiliki 5 pejantan dan sepuluh betina, tapi per ekor kan bisa bertelur sampai 3000 ekor. hanya saja dari 100 % yang menetas jika musim kemarau seperti ini 30-40 % saja yang bisa sampai dewasa" jelasnya.
Kurniawan tidak bisa memastikan berapa pengeluarannya untuk operasional, tetapi menurutnya pakan untuk bullfrog tidak terlalu mahal. " Bludru kami beri makan cacing sutera atau kutu air, precil biasanya diberi dedak, lalu yang besar kami beri konsentrat, jangkrik hidup atau belalang" jawab Kurniawan. Lebih jauh, Kurniawan optimis, budidaya bullfrog memiliki prospek cerah dan menjanjikan. " untuk pemain baru kan agak berat karena harus telaten, sebaiknya mulai dari beberapa ekor dulu jangan langsung besar agar bisa belajar" katanya memberi tips.
Selain kurniawan, di Tangerang ada Anho, pembudidaya katak lembu.Anho khusus memenuhi pasar dari Jakarta dan sekitarnya. Rencananya, bulan November nanti Anho akan memanen kurang lebih 1000 ekor katak lembu, " kalau mau beli sekarang tidak ada, masih kecil-kecil" katanya. Biaya operasional pemeliharaan katak lembu paling banyak untuk pakan. " saya memberi pakan lele, sebulan mungkin sekitar 1000 ekor atau 30 kg, kalau air tidak beli" kata Anho.
Modal awal Anho memulai budidaya katak lembu, Anho tidak bisa memastikan berapa, " tidak banyak, cuma untuk membuat bak saja, dan pertama kali dulu masih beli benih precil dari Surabaya" jawabnya. Jika tertarik memelihara dari precil, sampai siap panen membutuhkan waktu hanya 4 bulan. Tapi jika ingin memijahkan sendiri, waktunya bisa mencapai 6 bulan.
Sunday, September 28, 2008
Muntahkan apa saja yang kau makan untuk bumi ini!
Dari Irfan Dwianto
Ungkapan yang bernada refleksi atas apa yang telah kita konsumsi dan apa yang telah kita perbuat untuk lingkungan bumi tempat kita hidup. Kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi manusia membuat manusia semakin kompleks untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia ini.
Bayangkan 5% dari komposisi masyarakat dunia mengkonsumsi 26% cadangan minyak dunia. Suatu angka atau persentase yang tidak berimbang. Dan ini berimplikasi pada naiknya kandungan CO2 di udara. Terbukti di India telah terjadi kabut asap yang di sebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil.
DI JUAL CEPAT DAN MURAH, planet BUMI
Dari Nadya Karimasari
"...Biang persoalan lingkungan hidup, masa depan Planet Bumi dan keselamatan rakyat yang hidup di dalamnya adalah sistem politik dan ekonomi kapitalis. Sistem ini hanya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara bersaing dan mengabaikan urusan lingkungan hidup. Untuk melawan sistem ini, slogan 'Bumi bukan Komoditi' telah dipopulerkan oleh gerakan anti-kapitalisme di dunia. Gerakan anti-kapitalisme terang-terangan menolak gagasan kapitalisme yang mendudukkan rakyat dan sumber-sumber kehidupan alami sebagai barang dagangan..." Manifesto WALHI.
(http://www.walhi.or.id/ttgkami/kebijakan/manifesto_wlh/)
Saya mengenal seorang gadis remaja, siswi SMA yang lincah dan bersemangat. Layaknya insan muda gemar mempertanyakan arti hidup dan mencari jati diri, teman saya itu tidak ingin kehadirannya di bumi ini berujung sia-sia. Ia ingin ikut melakukan sesuatu untuk mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik. Sebagai seorang pecinta lingkungan, dia memilih untuk mengkhususkan aksinya terutama di bidang upaya penyelamatan lingkungan hidup. Selain membuang sampah pada tempatnya, ia juga membiasakan diri untuk hemat bahan bakar, hemat listrik, hemat air, hemat plastik, dan terutama - sebagai anak sekolahan - mendaur ulang kertas bekas pakai untuk dijadikan notes. "Supaya hutan tidak gundul dan bisa mencegah banjir," ujarnya singkat. Yang dia lakukan sebenarnya sangat mudah dan sederhana, namun entah mengapa tidak semua orang cukup peduli untuk melakukan hal-hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan hanya berpikiran, "Alah, gak ngaruh, kali."
Suatu hari, saya mengajaknya berkeliling di kampus UGM. Sampai di Fakultas Kehutanan, ia tertegun. Ada sebuah poster yang menarik perhatiannya. Ia teringat satu kardus besar di rumah, penuh dengan notes daur ulangnya. Ia jadi bertanya, benarkah apa yang dilakukannya selama ini sia-sia belaka? Karena poster besar bergambar hutan gundul itu bertuliskan "Saat ini, setiap menit hutan hilang seluas 6 kali lapangan sepakbola." Itulah contoh langsung yang menggambarkan kedigdayaan kapitalisme: modal besar, hasil besar, keuntungan besar berlipat ganda dan, untuk mencapainya, dibutuhkan penjarahan habis-habisan terhadap lingkungan alam.
Kapitalisme dikenal sebagai sistem produksi yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Demi mencetak laba dan memenangkan persaingan dalam menguasai pasar, segala cara dihalalkan, meskipun cara tersebut mencederai lingkungan. Produksi tidak didasarkan pada kebutuhan, namun justru kebutuhanlah yang diciptakan melalui produksi. Supaya arus penjualan tetap deras, barang-barang paling gres silih berganti menjejali benak calon konsumen. Segala sesuatu harus mengikuti perkembangan yang terbaru, tercanggih, ataupun termahal, meskipun barang-barang tersebut inefisien dan tidak diperlukan. Tak heran jika produksi yang berlebihan (overproduction) menjadi hal yang biasa. Pada akibatnya, terjadi penumpukan sampah
dan pencemaran yang tak tertahankan.
Untuk mempertahankan kelangsungan produksinya, selain harus terus-menerus memperluas pasar, kapitalisme juga harus terus-menerus menemukan penyedia sumber produksi baru. Muncullah ekspansi atau penjajahan yang meluluhlantakkan ekosistem alami, serta memberangus kearifan lokal penduduk setempat yang hidup sesuai dengan irama alam. Hutan atau gua yang tadinya dikeramatkan tidak berarti apa-apa bagi kaum kapitalis imperialis. Bagi mereka, segala sesuatu hanya dihargai sebatas nilai tukarnya. Ini berdampak pada punahnya lingkungan alam.
Selain memboyong kekayaan alam dan menzalimi masyarakat, mereka masih
menjadikan Negara Dunia Ketiga sebagai tempat pembuangan limbah industrial yang mereka hasilkan. Menurut memo internal seorang Ahli Utama Bank Dunia, Lawrence Summers (1992), ia menyarankan bahwa Bank Dunia perlu semakin mendorong migrasi industri kotor ke negara-negara berkembang
karena tiga alasan:
tingkat upah di negara tersebut tergolong rendah dan kepadatan penduduk yang tinggi (manusianya lebih 'murah' daripada manusia negara maju)
negara-negara tersebut belum cukup mendapat pencemaran
tuntutan akan lingkungan bersih untuk alasan kesehatan kemungkinan berasal dari masyarakat yang kaya. Masyarakat yang mengalami kematian balita 200 perseribu tidak perlu mendapat barang mewah berupa udara bersih.
(disarikan dari Jhamtani, Hira. 2001. Ancaman Globalisasi dan Imperialisme Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, halaman 154. Butir nomor 3 dikutip apa adanya).
Ibon Databank, seorang peneliti asal Filipina menyatakan bahwa perusahaan transnasional (trans-national corporation) terbukti senantiasa menjadi penghasil utama limbah beracun dan berbahaya. Ironisnya, atas menipisnya cadangan 'sumber daya alam' serta menurunnya kualitas kehidupan dan lingkungan, Bank Dunia dan PBB justru mempersalahkan Negara Dunia Ketiga yang terlalu banyak penduduk (overpopulated), dan menutup mata terhadap kenyataan bahwa Negara Dunia Pertama-lah yang - walaupun memiliki penduduk lebih sedikit - namun mengkonsumsi jauh lebih banyak (overconsumption). Data statistik menunjukkan bahwa 20% teratas dari total populasi bumi (yang berada di Amerika Seikat dan Eropa) ternyata mengkonsumsi 80% dari keseluruhan sumber alam, termasuk air, hasil pertanian, perkebunan, hasil-hasil hutan dan bahan tambang. (http://www.etext.org/Politics/MIM/mt/mt12capenv.html)
Bukan berarti tidak ada pembelaan dari penganut paham kapitalis. Menurut kaum ini, kapitalisme perlu dipertahankan justru demi pelestarian lingkungan itu sendiri. Kapitalisme dianggap sebagai satu-satunya sistem yang menghargai kepemilikan pribadi. Ini jauh lebih efektif sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan, karena diasumsikan bahwa setiap orang akan menjaga propertinya. Jika sang pemilik enggan atau gagal menjaga miliknya dengan baik, atau justru mencemarkannya atau membiarkannya tercemar, maka itu adalah urusan mereka masing-masing, selama tidak mengganggu milik orang lain. Yang jelas, kelalaian tersebut akan membuat properti berkurang nilainya (value reducing). Tentunya, hal semacam ini akan dihindari oleh setiap pemilik properti. Selain itu, kapitalisme adalah sistem yang paling mampu menyediakan jalan keluar bagi permasalahan lingkungan hidup, karena kapitalisme adalah sistem yang paling memicu kemajuan teknologi. Menurut mereka, teknologilah yang akan menjadi solusi dari kelangkaan sumber daya alam, pencemaran, dan sebagainya. Tanpa teknologi, dengan kata lain tanpa kapitalisme persoalan lingkungan hidup tak akan teratasi. (http://www.capitalism.org/faq/environment.htm)
Pembelaan tersebut patut dipertanyakan. Mereka menjadikan bumi dan seisinya sebagai sebentuk 'hak milik'. Jika sesuatu sudah menjadi hak milik, maka diperbolehkan untuk memperlakukannya sekehendak hati si pemilik. Bila ditilik lebih lanjut, sebenarnya siapakah yang mampu menjadi sang empunya dari 'properti' yang mereka maksudkan itu? Pastinya tidak semua orang! Dalam kuasa sistem kapitalisme, hanya segelintir orang yang memiliki modal-lah yang memegang kendali atas uang, kepemilikan, dan 'sumber daya' alam di bumi ini. Umat manusia lainnya cukup menjadi mayoritas yang dikorbankan.
Penggunaan istilah 'sumber daya' alam sendiri menunjukkan kecenderungan yang sangat kapitalistik, yakni pemanfaatan alam semata-mata sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa memedulikan sama sekali apakebutuhan alam itu sendiri. Alam menjadi objek dari subjek manusia yang berkuasa. Manusia menjadi superordinat, dan alam sebagai subordinatnya. Alam dianggap sebagai sesuatu yang pasif, tanpa mengindahkan bahwa alam punya kekuatan dan kekuasaan untuk menentukan nasib manusia. Sedemikian takaburkah manusia, sehingga ia durhaka dan lupa bahwa sejatinya ia adalah bagian dari alam jua? Tidak sampaikah otak mereka untuk mengetahui bahwasanya apa yang menimpa alam pada gilirannya akan menimpa dirinya sendiri pula?
Alih-alih menjaga kelestarian lingkungan, para pemilik tersebut justru menghisap, mengeruk dan mengeksploitasi alam dengan tingkat keserakahan maksimal. Masalah value reducing yang mereka bicarakan itu menjadi omong kosong. Sebab, akibat dari perbuatan eksploitatif mereka tidak dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan oleh generasi penerus. Berharap pada teknologi yang mereka janjikan pun nyaris tak ada gunanya. Teknologi yang dikembangkan lagi-lagi adalah yang berorientasi profit, ujung-ujungnya tetap saja merusak lingkungan. Pelestarian alam melalui jargon 'pembangunan keberlanjutan' (sustainable development) hanya menjadi kedok untuk melancarkan nafas usaha mereka sampai beberapa dekade ke depan.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian alam. Namun, selama upaya-upaya tersebut tidak menyentuh 'biang' persoalan, kita masih belum bisa mengharapkan adanya perubahan yang signifikan. Pendekatan personal seperti yang dilakukan teman saya tadi perlu dikembangkan dan diteruskan menjadi upaya-upaya kolektif untuk melindungi bumi kita tercinta. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kesadaran moral masyarakat, melainkan adanya kepentingan-kepentingan terselubung (vested interested) yang ingin mempertahankan keadaan sebagaimana adanya, agar perolehan keuntungan mereka terselamatkan (motif ekonomi). Jika kita masih sayang bumi dan seisinya, tidak ada cara lain selain mengenyahkan sistem Kapitalisme.
(Nadya Karimasari)
armageddon
from : Anti Ecocide/mepi
Ingatkah kamu dengan sebuah film bertahun-tahun lalu yang bercerita tentang ancaman meteor yang akan segera menabrak bumi dan bakal menghancurkan kehidupan di bumi? Armageddon, judul film itu. Aksi heroic Bruce Willis tentu gak bisa kamu lupakan. Atau pasangan keren Ben Affleck dan Liv Tyler yang bikin kamu cemburu? Yeah.. ada banyak dongeng tentang kiamat. Semua agama memastikan kedatangannya.
Tanpa bermaksud melupakan semua sebab yang mungkin itu, kamu juga nggak boleh lupa factor yang saat ini menjadi bom waktu bagi kehancuran kehidupan di planet bumi. Bukan akibat kutukan atau invasi alien dan perang antar planet, tapi akibat ulah manusia itu sendiri. Sampai ada ungkapan satir: manusia menggali liang kuburnya sendiri, mengundang kematiannya sendiri. Tragis! Atau bodoh???
Modernitas merupakan dua wajah yang menawarkan madu dan racun sekaligus. Perkembangan teknologi, pesatnya produksi dan gaya hidup menciptakan konsekuensinya masing-masing. Sampai ditemukannya plastic yang menggeser daun, ditemukannya mobil berbahan bakar fosil yang menggeser kereta kuda, atau hutan beton yang menggusur pohon-pohon, mungkin manusia sendiri tak berpikir terlalu jauh, modernitas, globalisasi dan pembangunan memiliki konsekuensi logis yang tak terhindarkan.
Lihatlah pembangunan yang membuat kota-kota kumuh, sungai-sungai tercemar dan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan. Industri memacu produksi masal demi akumulasi kapital, pabrik-pabrik terus dibangun hingga sawah-sawah tergusur, perumahan-perumahan menjamur dan pusat-pusat perbelanjaan berkembang luar biasa.
Sekarang coba kamu bermain dengan perjalanan sebab akibat dari fenomena diatas.
v Modernitas tak bisa dipisahkan dari kapitalisme dan industrialisasi
v Industri mensyaratkan proses yang tidak bisa lepas dari alam
Proses produksi mesyaratkan:
Eksploitasi alam,
karena bahan baku industri maupun bahan-bahan pendukungnya tak mengambil dari planet lain, apalagi jatuh begitu saja dari langit
Pencemaran udara, tanah, air
Produksi banyak berupa produksi massal. Enggak mungkin industri memproduksi barang skala kecil-kecilan, kecuali industri rumah tangga. Semakin besar produksi berbanding lurus dengan pencemaran yang dihasilkan. Limbah smog atau kabut asap, limbah cair, maupun zat sisa-sisa produksi tidak mungkin dihindarkan. Mau dibuang kemana kalau bukan ke sungai, laut, negara tetangga (seperti yang biasa dilakukan terhadap Indonesia, negara importir limbah). Kita belum punya teknologi yang bisa setor limbah ke luar angkasa kan? Jangankan, merubah limbah biar nggak berasa limbah pun susah..
Penggunaan energi yang tinggi
Industri jelas butuh energi. Dari yang berbahan bakar fosil sampai pemakaian listrik yang besar. Pemborosan lagi?
Berkontribusi terhadap pemanasan global
Pasti. Smog atau kabut asap yang diciptakan, penggunaan CFC dan bahan-bahan perusak ozon lainnya, penggusuran pohon-pohon untuk lokasi pabrik-pabrik dan pertambangan, dan banyak lagi, menjadi warning. Pemanasan global, hujan asam, meluasnya lubang ozon, tak terhindarkan.
Sementara itu, ada banyak instrument yang perlu di bangun untuk memperlancar jalannya industrialisasi. Misalnya :
Pembangunan dan perluasan jalan-jalan untuk memperlancar arus distribusi
Penambahan sarana-sarana pemasok energi
Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan
Dari produksi dan distribusi maka sekarang kamu bisa lanjutkan ke daur konsumsi.
Ada belanja --- ada barang --- ada sampah
Barang yang kamu konsumsi tentu bukan hanya barang habis pakai yang langsung segera berakhir masuk ke dalam mulutmu. Makanan dan minuman juga ada bungkusnya yang akan menjadi sampah. Sementara itu ketika habis kegunaan suatu barang atau kamu sudah bosan, barangmu juga akan berganti status menjadi sampah.
· Pernahkah kamu coba menghitung berapa banyak sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu, sebulan, setahun dan seumur hidup???
· Pernahkah kamu berpikir kemana nanti perginya sampah-sampahmu dan apa akibatnya bagi alam?
Produksi bukan sekedar mengolah suatu barang hingga memiliki nilai kegunaan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produksi mensyaratkan proses yang panjang dan berisiko besar mengeksploitasi alam, pemborosan energi dan pencemaran.
Konsumsi juga demikian. Konsumsi bukan sekedar persoalan bahwa kamu punya uang dan kamu bisa mendapatkan barang yang kamu butuhkan ( atau barang yang kamu inginkan? __ seringkali bahkan kamu sadar bahwa kamu membutuhkan barang itu setelah melihat iklannya di televisi, artinya sebenarnya kamu tidak membutuhkan barang itu!)
Manusia sering berpikir bahwa alam adalah sesuatu yang given. Ini pemberian Tuhan yang layak dinikmati, layak diambil demi kebutuhanmu (bedakan kebutuhan dengan keserakahan). Karena terberi tanpa harus membayar mahal dan berusaha terlalu keras, manusia jadi menyepelekan. Padahal alam punya batas toleransi juga, jika kamu menyakitinya dan mengancam keseimbangan dalam ekosistemnya, jangan kaget jika suatu hari nanti alam-lah yang akan menjadi musuh paling jahat dan ancaman paling dahsyat bagi hidupmu. Apa kamu mau menunggu dan membuktikan ancamannya??
the burning season
Indigenous People and Ecological Movement
by: Meifita
Jika kita membayangkan film-film lingkungan hidup, lebih sering kita membayangkan film-film discovery. Ngomongin lingkungan hidup berarti ngomongin hutan, satwa liar, laut, kurang lebih itu. Tapi ada satu film menarik yang menawarkan suatu gambaran aksi lingkungan hidup yang beda. Judul film yang di produksi tahun 1994 ini adalah The Burning Season.
Film ini mengangkat aksi seorang aktivis lingkungan hidup di hutan hujan tropis yang terkenal, Amazon. Aktivis yang akhirnya terbunuh pada pertengahan tahun 80-an ini merupakan penyadap karet hutan tradisional di sebuah provinsi bernama Cachoeira, Brazil. Chico Mendes nama pria itu, mungkin kamu pernah dengar.
Setting film ini diawali di Cachoeira tahun 1951, saat Chico kecil membantu ayahnya menjual gulungan karet hutan hasil kerja mereka kepada seorang pengepul, lebih tepatnya penipu dan lintah darat. Mereka tak berkutik ketika timbangan dikurangi, lalu dipotong ini itu, hingga pendapatan mereka hampir tak bersisa.
Cerita-cerita sama seperti nasib peasant dimanapun. Petani-petani miskin yang selalu saja ditipu dan dipermainkan. Mereka buta huruf, lemah secara apapun. Ada banyak buku menarik yang bisa kamu baca tentang cerita-cerita peasant, seperti sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tentang para cafoni, istilah ejekan untuk peasant di Italia, pada era fasis. Novel berjudul Fontamara ini layak kamu baca, dan bersiaplah kesal.
Chico kecil lalu bertemu dengan Euclides Tavora, seorang aktivis perserikatan yang datang dari Sao Paolo dan menyaksikan sendiri ketika bapak dan anak yang buta huruf ini dibohongi timbangannya. Chico kecil lalu diajari membaca, sampai suatu hari Tavora dibakar di hadapan petani-petani penyadap karet, sebagai hukuman karena hendak membuat serikat kerja di daerah itu. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Tapi Chico kecil merekam ingatan tentang malam itu.
Setting berlanjut ke tahun 1983. saat itu datang seseorang dari San Fe, Wilson Pinheiro. Ia merintis sebuah organisasi serikat pedesaan di Cachoeira dan Chico menjadi tangan kanannya. Mereka menentang pembangunan jalan dan pembakaran hutan. Pada saat itu dimana-mana terjadi pembakaran hutan untuk membersihkan lahan bagi usaha peternakan sapi sebuah perusahaan besar.
Wilson Pinheiro yang dibantu oleh Regina De Carvalho, seorang ekologis dan ahli masyarakat hutan dari universitas Sao Paolo melakukan perjuangan tanpa senjata melalui perserikatan, bersama para seringuiero atau rubber-tapper di Cachoeira mereka memagari dengan tubuh mereka sendiri ketika pohon-pohon karet akan digergaji oleh orang-orang suruhan perusahaan yang berkepentingan dengan jalan tersebut. Wilson Pinheiro dibunuh di kantornya, tak lama setelah aksi yang berani itu. Chico Mendes kemudian menggantikan tugasnya.
Perjuangan Chico baru dimulai. Ia masih harus menghadapi tentara-tentara federal yang menangkapi anggota perserikatan. Karena setelah Pinheiro terbunuh terjadi kerusuhan, menyusul pembunuhan terhadap otak pelaku pembunuh Pinheiro. Setelah keadaan cukup aman, Chico kembali menghidupkan perserikatan. Dan kembali masalah-masalah yang sama datang lagi. Ada insiden yang membuat tangan seorang anak buah Chico harus diamputasi ketika mereka terus menerus berkeras melarang penebangan pohon. Hingga cerita menarik ketika datang teman Regina, Steven Kaye, seorang pembuat film documenter yang bermaksud memfilmkan aksi Chico dan perserikatannya melawan usaha-usaha pembakaran hutan.
Chico bahkan sempat mencalonkan diri dan mengikuti pemilihan umum calon gubernur, namun hanya 10 % yang memilihnya karena kecurangan-kecurangan yang dilakukan lawan politiknya. Namun ia tak menyerah, seperti juga istri dan teman-temannya terus mendukung.
Film documenter yang dibuat oleh Kaye tak disadari telah membuat Chico mendapat penghargaan internasional sebagai penyelamat hutan hujan tropis. Chico diundang ke Miami dan menjadi tamu di pertemuan anggota PBB. Ada banyak hal yang ironis disini. Para wakil Negara-negara sama sekali tak menggubrisnya, jangankan memberi dukungan. Ia dianggap tak baik untuk bisnis. Tapi tentu saja Chico dan Kaye tak menyerah, presentasinya yang baik mampu mengundang dunia untuk mendukung aksinya menghentikan pembuatan jalan dan menyelamatkan rainforest.
Tapi ternyata dihentikannya pembuatan jalan mengundang insiden baru dengan Darli Alves, pemilik peternakan yang selama ini berkonflik secara terbuka dengan perserikatan. Darli Alves dan anak buahnya berkeras menebang pohon-pohon dan membuka jalan. Sebaliknya Chico dan penduduk desa laki-laki perempuan dan anak-anak juga berkeras melindungi pohon-pohon mereka. Dalam hujan mereka dipukuli, tapi kepiawaian Chico mengatur anak buahnya untuk tetap bertindak tanpa kekerasan patut mendapat pujian. Dalam insiden itu mereka memilih mundur. Tapi dalam perjalanan pulang mereka ditembaki oleh orang-orang berkuda suruhan Darli Alves. Seorang anak kecil mati karena insiden itu. Tragis!
Tak hanya itu, Jair Inglesias, seorang pemuda yang begitu setia pada perjuangan Chico dan perserikatan juga dibunuh dengan sembilan tembakan saat ia sedang menyadap karet di hutan. Kematian-kematian orang yang mereka cintai membuat kemarahan yang luar biasa. Sebagian mereka ingin sebuah perang terbuka, sementara Chico dan sebagian yang lain tak menginginkan perang dan senjata. Mereka pembunuh, tapi kita tidak harus jadi pembunuh juga. Begitu kata Chico.
Berita tentang pembunuhan-pembunuhan di Cachoeira tentu tak bisa ditutup-tutupi. Media menulisnya dan membuat dunia tahu. Alfred Sezero yang investor dan Galvao yang menjadi lawan politik Chico dalam pemilihan umum menilai situasi ini sudah sangat tidak baik. Insiden demi insiden bisa mengagalkan semua rencana mereka. Apa yang sudah terjadi sama sekali tidak baik untuk investasi dan karier politik.
Dengan dikawal sepasukan militer Sezero dan Galvao mengunjungi perserikatan. Berbicara (baca : berusaha menyuap) dengan Chico untuk lebih kompromis. Tapi tentu saja Chico bukan orang yang bisa dibeli. Perundingan yang alot terus berjalan. Sementara penduduk desa menanti di luar. Kehabisan akal, akhirnya kedua orang itu menyerah. Pembuatan jalan dihentikan, hutan dan tanah mereka akan dilindungi. Cachoeira akan menjadi sebuah kawasan yang dilindungi secara hukum, dan mereka semua bisa bekerja disana dengan aman.
Disinilah puncak kemenangan Chico dan kawan-kawannya. Kemenangan ini membuat Darli Alves terbakar. Saat itulah terror terhadap hidup Chico dimulai. Seperti Pinheiro, Chico berakhir di kantor (sekaligus rumahnya) sendiri, meninggalkan dua orang anak dan Ilzamar, Istri yang dicintainya. Tapi Chico berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai ia menjemput ajal. Dan ia tidak akan dilupakan.
Begitulah film ini bercerita.
Apa yang dilakukan Chico, Pinheiro dan anggota perserikatan tak hanya mengajarkan pada kita tentang konsistensi, nir senjata dan nir kekerasan. Lebih dari itu, film ini membuka mata kita pada satu kenyataan bahwa kadangkala demi uang banyak hal telah dikorbankan. Tak hanya lingkungan hidup, tapi juga mereka orang-orang yang selama ini bergantung pada lingkungan dan menjaganya sepenuh hati.
Para rubber-tapper tradisional bukan orang-orang serakah, mereka bahkan tak mengambil lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Seperti Chico kecil berkata pada Tavora, jangan menggores terlalu dalam karena Curupira akan marah, jika kau mengambil terlalu banyak mahluk cebol hutan itu akan menyuruh hutan menelanmu. Cerita ini bukan sekedar dongeng anak kecil, tapi bahwa ada kearifan yang dimiliki orang-orang ini. Kearifan untuk menjaga hutan dan tidak menjadi serakah.
Perjuangan Chico dan teman-temannya tak lebih dari sebuah harapan sederhana bahwa mereka bisa bekerja dengan baik dan mendapat hasil yang baik dari hutan dan tanah mereka sendiri, bahwa ada bagian anak cucu dan keturunan mereka di tanah tersebut. Tidak lebih.
We can survive as a species only if we live by the rules of the biosphere. The biosphere has enough for everyone’s needs if the global economy respect the limits set by sustainability and justice. As Gandhi reminded us : “ the earth has enough for everyone’s needs, but not for some people’s greed.” (Vandhana Shiva- Globalization and Poverty: 2001)
Sunday, September 21, 2008
masih tetap tersenyum-PADI
ketika keretaku tak datang lagi
menjemput cintaku yang telah lama mati
seperti layaknya bintang tak bersinar
namun aku masih tetap tersenyum
ketika kekasih ku meninggalkan aku
ku tak tahu kemana dia telah pergi
tak tersentuh tak terjamah
tak kudengar lagi
namun aku masih menikmati hidup
ketika keretaku telah datang kembali
membawa cintaku tertera di dasar hati
menawarkan kepedihan di antara tawa
namun aku masih tetap tersenyum
namun aku masih tetap tersenyum
//
20 sept 08
malam terlalu cepat datang, soreku bising tak terjelaskan, aku kehilangannya.. lagi..
Tuhan, bantu aku untuk tetap tersenyum..
Thursday, September 18, 2008
tips buat yang mau mudiks pake pesawat
tapi buat anda yang mau mudik pake pesawat, ada baiknya anda membaca report yang satu ini.
Menurut Sudaryatmo, pengurus harian YLKI, potensi pelanggaran terutama soal tarif. " di indonesia itu ada dua jenis tarif, low cost carrier sama full service carrier. beberapa operator ada yang menerapkan tarif melebihi batas atas, terkadang juga terjadi konsumen membayar dengan biaya full service tapi mendapatkan pelayanan untuk low cost, Jelas Sudaryatmo.
Persoalan yang kedua biasanya soal pelanggaran jadwal penerbangan. Nah disinilah terkadang operator tidak memberikan informasi yang cukup kepada konsumen apabila terjadi keterlambatan, juga soal estimasi keberangkatan. seharusnya konsumen mendapatkan informasi yang jelas, sekaligus kompensasi terhadap konsumen," Misalnya ketika mereka harus menunggu, maka konsumen harus mendapatkan snak, makan atau penginapan, tergantung kasusnya,"jelas Sudaryatmo.
Peran pemerintah sebagai pembuat dan pengawas kebijakan juga penting agar mudik berjalan dengan lancar sesuai harapan dan konsumen tidak dirugikan. "regulator harus tegas, karena aturannya kan sudah jelas, termasuk juga batas atas itu apa sanksinya, jika terlambat apa kompensasinya, semua sudah diatur. tinggal bagaimana pelaksanaannya. Karena itu pemerintah juga harus memonitor bagaimana di lapangan" kata Sudyatmoko.
Untuk keamanan dan kenyamanan saat mudik, Sudyatmoko memberi tips kepada para pengguna jasa pesawat terbang.
Pertama, jika sudah menentukan tujuan, pertama pastikan tarif tiket tidak melewati batas atas sesuai peraturannya. ketika sudah mendapat tiket, perhatikan dengan benar jam dan terminal keberangkatan. dan upayakan bahwa 1 jam sebelumnya sudah ada di lokasi.
jika ada masalah yang pertama adalah hubungi operator dan service center bandara, jika tidak dapat diselesaikan dapat menghubungi YLKI melalui telpon 7981858/59 atau melalui SMS ke 08128002527.
YLKI akan melakukan fasilitasi, sesuai dengan pengaduan yang ada, YLKI akan memfasilitasi dialog antara konsumen, regulator dan operator nanti setelah lebaran. dari situ akan terlihat bagaimana komitmen pihak-pihak tersebut untuk menyelesaikan kasus yang ada (sumber, Kontan, 21 september 2008)
aku menunggu
serupa haru rasarindu di pucuk senja
Tuhan, ini hari keberapa?
jika menunggu berarti doa
menunggu, sebelum jiwa rasa hampa
tidak ada tanda, hanya kata dan rambu biasa
persimpangan tak bertanda
cuma cerita dari pejuang yang tak sempat meninggalkan nama
aku menunggu
jika menunggu adalah cinta
aku menunggu,untuk senyummu
tentang angin
tiba-tiba angin yang keras menyapu dari langit, dedaun berguguran, debu-debu pontang-panting menciumi jalanan. Pohon-pohon memaksa tegak, walau kemarau telah mengeringkan ujung-ujung akarnya.Tragis! musim berjalan seperti tanpa harapan.
mereka bilang, panggil dia angin. Angin saja, seolah itu wahyu yang tak bisa diganti. walau juga tidak penting untuk digubris. matanya, si angin itu, seperti burung bangkai kelaparan, sama sekali tak tampan layaknya elang seperti yang dibilang orang-orang.Tapi mereka memujanya, angin suka menabur duit, menabur duit setiap hari. bersama debu dan kabut smog yang menurutku beracun, menyesakkan. seperti yang baru saja lewat, angin tak pernah datang tanpa uang. dan tentu saja, tidak pernah juga disambut tanpa pesta-pesta.
bah! mereka memujanya seperti dewa. Angin makin tinggi hati saja. kenapa juga aku harus kesal,apakah aku cemburu padanya?. Bibirnya bahkan tak lebih baik dari bibir lintah yang suka menghisap, lebih tepat lagi, seperti bibir politisi yang suka membual.
setahun lalu, sebelum angin mulai menyerang, kotaku adalah surga yang tidak memerlukan dewa-dewa untuk dipuja, tak memerlukan uang untuk mengisi perut, apalagi membeli cinta. rumah kami hanyalah pohon-pohon dan sungai-sungai harga diri. tak lebih tak kurang. kehidupan berjalan dalam nafas panjang tanpa rasa takut, bahkan kami tak membutuhkan kunci untuk pintu-pintu kami..
Lalu datanglah angin yang mengaku Tuhan lain peradaban. katanya kami bar-bar, bangsa yang masih memakan daun dan ikan. yang masih menanam dan meramu.angin mengajari kami membangun menara, pabrik-pabrik,bendungan-bendungan, mempertemukan kami pada listrik, membuat bintang-bintang datang ke rumah kami, hingga malam kami menjadi siang. dan hidup kami benar-benar selalu siang..
dan setelah itu kami lupa caranya menanamkami hanya tau caranya membangun.bekerja saja. menanam bukanlah pekerjaan bukan?
angin menjadi dewa, benar-benar menjadi dewa, ia mendatangkan makanan dalam kapsul-kapsul instan yang mengenyangkan. tak ada waktu untuk mengunyah, karena kami harus bekerja.. kami harus memuja!
jangan berhenti
Aku gak tau kenapa bisa sampai disini, beberapa orang bilang aku tidak konsisten.
Tapi mereka tidak mengerti.
Aku tidak tau seberapa lama aku akan berada disini.
Tapi aku harus menikmati setiap detiknya dan menemukan maknaku sendiri.
Tidak ada yang sia-sia.
Jalan kita masih panjang, sayang..
seperti langit yang entah dimana ujung dan awalnya
mimpi kita masih jauh, sayang..
jangan berhenti sekarang, kita belum lagi berjuang
di keriuhan ini
dimana waktu tak pernah disudahi
dan kata tak henti dijelajahi
aku yakin aku masih bisa bertemu dengan batinku
dan belantara hening
yang bisa menjawab tanyaku
jangan berhenti, sayang
walau mungkin kita tak menang
tapi rindu akan menuntun kita pulang
pada jiwa yang lapang
Jakarta,10 September 2008