Friday, October 17, 2008

buat yg mau nikah (termasuk gw?)

Pesta pernikahan, seharusnya menjadi saat-saat terbaik dalam hidup seseorang. Walaupun tidak jarang yang usia perkawinannya hanya seumur jagung. Tapi dalam pesta lah gengsi, kepuasan dan segalanya bertemu. Salah satu hal yang paling penting dalam sebuah seremoni selain khidmadnya prosesi pernikahan itu sendiri adalah makanan dan minuman yang tersaji. Karena itu memilih catering yang tepat sangat penting, agar tak ada yang perlu dikecewakan.

Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga wilayah DKI Jakarta, Sulasmiati Supardan mengatakan, sebelum memilih catering, konsumen harus tahu apakah catering tersebut memiliki pengalaman dan bertanggungjawab atau tidak." pilih yang punya tanggungjawab, tidak hanya soal masakan yang sesuai dengan pesanan tetapi juga tepat waktu" jelas Sulasmiati.

Sulasmiati juga mengatakan,"Konsumen harus waspada, ada catering yang suka memaksa dalam berpromosi" jelasnya. Tidak jarang, ada catering yang memberi iming-iming berlebihan, baik diskon langsung maupun harga yang murah. Sulasmiati mencontohkan, dari jumlah undangan atau perkiraan tamu yang hadir, perhitungannya adalah 70 % untuk buffe dan 30 % untuk gubug. jika undangannya lebih banyak bisa diganti perbandingannya 60 : 40. "Jadi sudah ada standarnya" jelas Sulasmiati.

"jika tidak sesuai standar, bisa-bisa jam 9 makanan sudah habis, tamu yang belakangan tak kebagian" kata Sulasmiati. ini jangan sampai terjadi pada pesta yang hanya 1 kali seumur hidup. Selain itu komunikasi yang transparan juga harus dibangun antara konsumen dan pihak catering." konsumen harus berterus terang berapa anggaran yang tersedia dan berapa tamu yang diundang" kata Sulasmiati. Karena ketika konsumen tidak jujur, catering pun akan salah dalam memperhitungkan. " Lalu jika makanan kurang siapa yang malu, pengantin dan cateringnya kan?" ucap Sulasmiati.

Selain Sulasmiati, Tuty Rooswiati pemilik Tuty Catering juga memberi saran, agar konsumen memilih catering bukan yang sekedar murah, tapi yang layak dan terjangkau. "jika sempat survei lah di acara-acara pernikahan, tapi datang setelah jam 12" kata Tuty. menurut Tuty, jika datang jam sekian konsumen akan tahu apakah cateringnya bagus atau tidak. Jika jam 12 makanan sudah habis, suasana berantakan, ini bisa menjadi gambaran bahwa catering tersebut kurang profesional.

Konsumen juga harus mengenal dengan baik siapa cateringnya. "terkadang ada catering yang tidak memasak sendiri, siomay beli dimana, kue pesan dimana, sup atau satenya dimana, jadi kan tidak bisa dikontrol kualitas dan kebersihannya" jelas Tuty. Biasanya dari makananannya terlihat, apakah masing-masing dikerjakan dengan baik atau tidak. Catering yang baik tentu sangat menjaga mutu, rasa dan kualitas masakannya, walaupun itu hanya puding.

Kebersihan peralatan makan juga penting, jangan sampai tamu enggan makan karena piring atau gelasnya kurang bersih. "jika perlu dapur juga harus ditunggu oleh panitia, agar bisa sama-sama ikut mengontrol" kata Tuty, karena ada juga catering yang tidak jujur dan memberikan servis kurang dari jumlah pesanan.

Selain itu pilihlah catering yang mengerjakan sesuai kemampuan. "ada juga catering yang semua permintaan ditanggapi tanpa melihat kemampuan, akhirnya kualitas dinomor duakan" jelas Tuty. Jadi catering yang selalu mengiyakan juga belum tentu bisa menjaga kualitas servis.

Terpenting Tuty menyarankan, lihat dan dengarkan pengalaman orang sebelum-sebelumnya. "promosi bukan jaminan dalam kualitas layanan." kata Tuty. Maka tidak ada salahnya bertanya pada kerabat dan teman tentang pengalaman mereka soal memilih catering. "ini kan bisnis kepercayaan, konsumenlah yang saling merekomendasikan" kelas Tuty.

No comments: