Tuesday, October 28, 2008

Ayo Tolak Tambang Pasir Besi Kulon Progo!

Ayo Tolak Tambang Pasir Besi!!

Rencana penambangan pasir besi yang akan dilakukan oleh PT Jogja Magasa Mining (PT JMM) yang menggandeng perusahaan Indomines dari Australia dengan nilai investasi sebesar US $ 600 juta sudah sampai pada tahap Kontrak Karya (KK). Penandatanganan Kontrak Karya yang rencananya akan dilakukan minggu kemarin sampai saat ini belum juga terealisasi.

Bambang Setiawan, Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM mengatakan penandatanganan Kontrak Karya yang sebelumnya dijadwalkan minggu kemarin kini tinggal menunggu waktu dari Menteri ESDM. "Minggu yang lalu Pak Menteri mendadak harus ke China mendampingi RI-1" jelas Bambang melalui pesan singkat.

Akan tetapi selama hari Kamis-Sabtu di Kulon Progo terjadi aksi penolakan dari ribuan warga pesisir yang lokasinya akan dijadikan area penambangan. Aksi tersebut bahkan disusul dengan kericuhan akibat kemunculan beberapa warga yang pro penambangan yang melakukan perusakan pada posko-posko warga di sepanjang pesisir.

Menanggapi hal tersebut,Presiden Direktur PT JMM Lutfi Heyder mengatakan pihaknya akan terus menunggu kapan Kontrak Karya tersebut ditandatangani. " Kami sudah mengikuti semua prosedur sesuai hukum dan aturan yang berlaku untuk sampai kepada Kontrak karya tersebut. Jika ada pro dan kontra itu bukan urusan saya" tegasnya. Jika Kontrak Karya sudah ditandatangani PT JMM akan segera memulai AMDAL. "kalau AMDAL sudah beres maka proyek bisa dimulai" jelas Lutfi.

Nampaknya yang harap-harap cemas menunggu penandatanganan Kontrak Karya tersebut bukan cuma PT JMM, pemerintah daerah juga mengakui sangat mengharapkan KK tersebut segera ditandatangani. Mulyono, Wakil Bupati Kulon Progo yang dihubungi melalui telepon mengatakan,"Silahkan demonstrasi tidak dilarang, tapi kami menghendaki itu (Kontrak Karya) dapat ditandatangani secepatnya, mudah-mudahan bisa dalam minggu ini" jelas Mulyono.

Sementara itu Supriyadi, ketua Paguyuban Petani Lahan Pasir Kulon Progo yang mewakili sekitar 30.000 warga pesisir mengatakan masyarakat akan tetap menolak rencana tambang pasir besi tersebut. "Meskipun Kontrak Karya akan ditandatangani 50 kali sekalipun kami tetap menolak" tegasnya. Supriyadi menyayangkan kebijakan pemerintah yang tidak mengakomodasi kepentingan warganya. " Jika pemerintah tetap ngotot dengan penambangan tersebut, ya kita tunggu saja nanti apa yang akan terjadi" ungkapnya.

Supriyadi menjelaskan, saat ini warga pesisir masih berusaha meredam suasana akibat insiden penyerangan terhadap mereka kemarin. "kami menekankan kepada warga agar warga tetap tenang dan bertani seperti biasa agar perekonomian tidak goncang" jelasnya."kami menanam cabe, semangka dan sayur-sayuran disana, dimana dari hasil pertanian tersebut perputaran uang di setiap desa bisa mencapai miliaran rupiah perbulan" tambah Supriyadi.

Tambang pasir besi yang rencananya akan dilakukan selama 20 tahun di 4 kecamatan ( Galur, Panjatan, Wates dan temon) sepanjang 22 KM dengan kedalaman 10 meter, dan seluas sekitar 3.000 hektar ini setiap tahunnya bisa menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. Lokasi penambangan itu sendiri sebagian besar merupakan lahan produktif yang digunakan warga untuk kegiatan pertanian hortikultur yang sudah puluhan tahun digarap warga di 4 kecamatan tersebut.
.

Meifita @ Harian Kontan

No comments: