Monday, October 5, 2009

Mencintai seseorang butuh ketulusan, keikhlasan untuk menerima setiap keadaan dan keberanian untuk berkorban dan memperjuangkan semua yang terbaik, keberanian untuk disakiti, juga kehilangan. Mencintai juga membutuhkan keimanan, penyerahan diri total pada Sang Pemberi Karunia, cinta tak pernah tanpa airmata, dan tak tumbuh tanpa kehendakNya, Tuhan selalu punya rencana yang terbaik untuk kita.

Untuk cinta aku telah menunggu. Karena sesuatu yang indah tak datang dengan tergesa-gesa. Untuk cinta aku bersabar, cinta seperti benih terbaik yang dititipkan Tuhan untuk kujaga, kutanam dimusim yang tepat, dan kuhidupi dengan segenap kesabaran. Kebahagiaan yang luar biasa ketika melihatnya tumbuh, bersemi dan kelak kan membawa lebih banyak lagi kebahagiaan bagi sekelilingku, mereka yang berteduh pada pohon cintaku, yang memetik buahnya mengatasi lapar dan dahaga. Pada kuncup yang bersemi dan daun yang gugur selalu ada keajaiban dan manfaat. Aku percaya, karena menanam benih cinta berarti menanam harapan dengan sepenuh keimanan, membesarkan dengan doa dan kesabaran, berbagi dengan tulus semua yang diberikan cinta pada kita, untuk semua yang membutuhkan.

Aku menunggu, walau harus berkali-kali jatuh dan gagal, tak semua benih yang bersemi bisa menjadi besar, kadang musim merenggutnya dan jamur mematikan akar-akarnya, serangga-serangga datang dan merusaknya, berkali-kali gagal, mungkin juga karena aku tak pandai menjaganya, mungkin aku menanamnya di musim yang keliru atau tak bersabar menunggu setiap pertumbuhannya. Aku menunggu, bertahun-tahun menunggu, kadang waktu menyakitiku, ketika cinta yang kujaga dengan sungguh-sungguh berakhir menjadi makanan serangga, tapi serangga juga harus hidup bukan? Terkadang kita harus menanam hanya untuk memberinya makan, semua tetap bermanfaat. Tak ada benih yang keliru, karena Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk kita.

Aku menunggu,untuk cintaMU

di bibir hujan

Di bibir hujan aku mengecup luka yang kubuat didadamu yang sunyi, aku telah membunuhmu kemarin. Pembunuhan yang selalu gagal sebelum-sebelumnya. Walau tanah sudah mencatat namamu dan surga sudah menyiapkan pesta untuk kepulanganmu. Mungkin aku yang tak membiarkanmu pergi. Aku yang mencintai sekaligus membencimu. Aku yang selalu berusaha meniadakanmu, tidak dalam hidup dan ingatanku.

Kemarin aku membunuhmu.. dalam sebuah puisi.

“ada keajaiban di setiap tunas yang tumbuh, ada keindahan disetiap daun yang gugur, angin telah mengecupnya dengan ciuman paling sempurna, tanah menyambutnya hingga tiada” dan kini kau sudah mati. Tidak kusisakan walau cuma nafasmu, bau tubuhmu, dan senyum serta airmata yang mewarnai wajahmu dalam ingatanku. Tidak, walau aku juga mencatat semuanya dalam buku-buku yang lama, dalam tembok-tembok kamarku yang bisu, dan di sepanjang jalan-jalan yang pernah kita lewati bersama, di stasiun, terminal. Di kampusmu, di kampusku. Hujan seminggu ini sudah mengguyurnya, setiap jejak yang tercatat kembali jadi tanah, jadi air, jadi embun, jadi udara, jadi debu, menguap bersama setiap rasa sakit yang dibuat oleh waktu, ketika kau ada.

Di bibir hujan aku mengecup luka yang kubuat di jantungmu yang diam. Ini pusaramu, dan ini pusaraku. Di antaranya ada sungai, tempat airmataku membanjir ke samudera, ada sebuah padang yang ditumbuhi ilalang, tempat aku menari menyanyikan cinta, ada sebuah rumah kecil tempat buku-buku kususun dan kubacakan disampingmu, hingga seisi dunia bisa kubawakan kehadapanmu, ketika aku tak mampu menyentuh tanganmu untuk kubawa berlari dari amazone hingga sahara, dari artic hingga antartika.

Dibibir hujan aku mengucap selamat tinggal padamu. Agar tak ada lagi yang akan disakiti setelah kematianmu. Doa-doa kususun dalam puisi saat subuh, saat aku menghadapkan wajah pada Sang Pemilik Fajar yang mempertemukan kita. Semoga hari ini kau berbahagia di Surga, bersama bidadari yang kau pilih untuk mencintaimu, dan cita-cita yang kau pilih untuk kau tuju. Aku akan tetap ada disini, tetap mencintaimu, di tepian hujan ucapkan salam perpisahanku yang terakhir sebelum musim berganti matahari.

angin

Angin

tiba-tiba angin yang keras menyapu dari langit, dedaun berguguran, debu-debu pontang-panting menciumi jalanan. Pohon-pohon memaksa tegak, walau kemarau telah mengeringkan ujung-ujung akarnya.Tragis! musim berjalan seperti tanpa harapan.

mereka bilang, panggil dia angin. Angin saja, seolah itu wahyu yang tak bisa diganti. walau juga tidak penting untuk digubris. matanya, si angin itu, seperti burung bangkai kelaparan, sama sekali tak tampan layaknya elang seperti yang dibilang orang-orang.Tapi mereka memujanya, angin suka menabur duit, menabur duit setiap hari. bersama debu dan kabut smog yang menurutku beracun, menyesakkan. seperti yang baru saja lewat, angin tak pernah datang tanpa uang. dan tentu saja, tidak pernah juga disambut tanpa pesta-pesta.

bah! mereka memujanya seperti dewa. Angin makin tinggi hati saja. kenapa juga aku harus kesal,apakah aku cemburu padanya?. Bibirnya bahkan tak lebih baik dari bibir lintah yang suka menghisap, lebih tepat lagi, seperti bibir politisi yang suka membual.

setahun lalu, sebelum angin mulai menyerang, kotaku adalah surga yang tidak memerlukan dewa-dewa untuk dipuja, tak memerlukan uang untuk mengisi perut, apalagi membeli cinta. rumah kami hanyalah pohon-pohon dan sungai-sungai harga diri. tak lebih tak kurang. kehidupan berjalan dalam nafas panjang tanpa rasa takut, bahkan kami tak membutuhkan kunci untuk pintu-pintu kami..

Lalu datanglah angin yang mengaku Tuhan lain peradaban. katanya kami bar-bar, bangsa yang masih memakan daun dan ikan. yang masih menanam dan meramu.angin mengajari kami membangun menara, pabrik-pabrik,bendungan-bendungan, mempertemukan kami pada listrik, membuat bintang-bintang datang ke rumah kami, hingga malam kami menjadi siang. dan hidup kami benar-benar selalu siang..

dan setelah itu kami lupa caranya menanam
kami hanya tau caranya membangun.
bekerja saja. menanam bukanlah pekerjaan bukan?

angin menjadi dewa, benar-benar menjadi dewa, ia mendatangkan makanan dalam kapsul-kapsul instan yang mengenyangkan. tak ada waktu untuk mengunyah, karena kami harus bekerja.. kami harus memuja!

aku hendak pergi mencapaimu

30.03.05

Aku hendak pergi mencapaimu
Sudah kutangkap dalam mataku, wajahmu.
Tapi aku terlalu lelah
Hingga jatuh disini
Di pintumu

Apa kau merasakan hadirku
Satu-satu nafas di kerongkonganku
Apa kau mendengarnya
Detak jantungku

Aku hampir mati
Walau aku tidak lagi takut
Ketika dulu kau mendongengkan kematian untukku
Setiap menjelang tidur

Aku hanya takut
Anjing-anjing akan menemukan mayatku
Sebelum kau membukakan pintu.

Tapi apalah bedanya bukan
Kematian tetap beku, tetap sunyi
Dan anjing-anjing kadang lebih mengerti
Tentang kesepianku
Tentang kerinduanku padamu

Sentuhlah sekali saja
Nafasku yang terakhir
Jika aku tak pernah pantas
Tidur dalam pelukanmu


Sentuhlah sekali saja
Sebelum tubuh kembali dingin
Dan hangat mentari tak lagi berarti
Kecuali membuat kupu-kupu datang
Menyelimuti

Sentuhlah
Walau Cuma gagang pintumu
Atau sekedar tengok aku lewat jendelamu
Dan saksikanlah
Kepergianku
Bersama anjing-anjing
Di pintu
Altarmu

(Meif, suatu malam bersama bulan setengah lingkaran)

Saturday, June 27, 2009

pulang yuk

aku lg di salatiga, humpff.. padahal baru sehari di rumah setelah 2 minggu perjlanan jakarta, bogor, cianjur, bandung, jogja, sukabumi.. musti anterin rian, aku berharap dia bisa sekolah disini,, ketimbang membawa beban di rumah dan sekolah yang itu-itu saja dan gak naik kelas lagi..
tapi dasar anak kecil, segini ja udah gak betah.. terserah lah, besok kuajak ke jogja sebelum pulang.

mein Gott.. ada yang lucu, ada yang tidak menyenangkan, ada yang patut ditangisi dan dilupakan dalam perjalanan dua minggu ini.. such a life.. begitulah hidup.. tapi sampai hari ini aku masih tidak tahu harus berpijak dimana, terbaaaaanggg teruuuusss...

aku yang capung atau kamu? dan siapa ilalangnya?

sudahlah.. hidup berkelindan entah akan membawa kita kemana.. tapi aku tau, kemanapun kita tetaplah menuju kepulangan yang sesungguhnya, dan aku menunggu saat terbaik itu.

aku kangen KAMU, Gusti...