Di bibir hujan aku mengecup luka yang kubuat didadamu yang sunyi, aku telah membunuhmu kemarin. Pembunuhan yang selalu gagal sebelum-sebelumnya. Walau tanah sudah mencatat namamu dan surga sudah menyiapkan pesta untuk kepulanganmu. Mungkin aku yang tak membiarkanmu pergi. Aku yang mencintai sekaligus membencimu. Aku yang selalu berusaha meniadakanmu, tidak dalam hidup dan ingatanku.
Kemarin aku membunuhmu.. dalam sebuah puisi.
“ada keajaiban di setiap tunas yang tumbuh, ada keindahan disetiap daun yang gugur, angin telah mengecupnya dengan ciuman paling sempurna, tanah menyambutnya hingga tiada” dan kini kau sudah mati. Tidak kusisakan walau cuma nafasmu, bau tubuhmu, dan senyum serta airmata yang mewarnai wajahmu dalam ingatanku. Tidak, walau aku juga mencatat semuanya dalam buku-buku yang lama, dalam tembok-tembok kamarku yang bisu, dan di sepanjang jalan-jalan yang pernah kita lewati bersama, di stasiun, terminal. Di kampusmu, di kampusku. Hujan seminggu ini sudah mengguyurnya, setiap jejak yang tercatat kembali jadi tanah, jadi air, jadi embun, jadi udara, jadi debu, menguap bersama setiap rasa sakit yang dibuat oleh waktu, ketika kau ada.
Di bibir hujan aku mengecup luka yang kubuat di jantungmu yang diam. Ini pusaramu, dan ini pusaraku. Di antaranya ada sungai, tempat airmataku membanjir ke samudera, ada sebuah padang yang ditumbuhi ilalang, tempat aku menari menyanyikan cinta, ada sebuah rumah kecil tempat buku-buku kususun dan kubacakan disampingmu, hingga seisi dunia bisa kubawakan kehadapanmu, ketika aku tak mampu menyentuh tanganmu untuk kubawa berlari dari amazone hingga sahara, dari artic hingga antartika.
Dibibir hujan aku mengucap selamat tinggal padamu. Agar tak ada lagi yang akan disakiti setelah kematianmu. Doa-doa kususun dalam puisi saat subuh, saat aku menghadapkan wajah pada Sang Pemilik Fajar yang mempertemukan kita. Semoga hari ini kau berbahagia di Surga, bersama bidadari yang kau pilih untuk mencintaimu, dan cita-cita yang kau pilih untuk kau tuju. Aku akan tetap ada disini, tetap mencintaimu, di tepian hujan ucapkan salam perpisahanku yang terakhir sebelum musim berganti matahari.
No comments:
Post a Comment