Ada sepotong awan yang bersiap jadi hujan, di tatapan matamu. Aku tak menyadarinya, hanya kunikmati perjalanan, disampingmu. Mencari kata untuk tak terluka. Aku selalu harus lebih kuat, menghadapi bahwa aku tak bisa memohon dan tak bisa mengatakan, aku mencintaimu.
Jalan-jalan telah kita lewati begitu panjang dan jauh tapi aku tak bisa berhenti, tak bisa memohonmu untuk berhenti, mungkin berjalan bisa mengurung airmataku agar tak jatuh. agar aku bisa menyusun nafas satu-satu. Agar tak menangis.
Kita sudah sampai disini, dan kau tak berkata apa-apa. Kita sudah dekat, padahal kita tak ingin sampai. Aku tau kita tidak ingin cepat pulang. Tidak ingin waktu berlalu dan menjadi senja, lalu kita akan berpisah. Kenapa? kau berusaha menahan matahari agar tak menjadi malam, tapi, tak sepatah katapun untuk menahanku.
Aku menemukan rindu di matamu yang mendung. Aku menemukan cinta di senyummu yang tertahan. Semua selalu serba pelan dan hati-hati sekarang. Karena kita sudah terlalu sering saling menyakiti. Aku juga menangkap haru, di wajah sendumu. Begitu lama, kita baru bisa bertemu.
Bagaimana aku mengatakannya? sementara aku tau bahwa semua percuma. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Lima tahun lalu kita mengawalinya, kita menumbuhkannya dalam doa dan kepasrahan. Kita membumbuinya dengan kecemburuan dan ego. Kita mengakhirinya, dengan airmata..
No comments:
Post a Comment