THE BURNING SEASON A film of
Indigenous People and Ecological Movement
by: Meifita
Indigenous People and Ecological Movement
by: Meifita
Jika kita membayangkan film-film lingkungan hidup, lebih sering kita membayangkan film-film discovery. Ngomongin lingkungan hidup berarti ngomongin hutan, satwa liar, laut, kurang lebih itu. Tapi ada satu film menarik yang menawarkan suatu gambaran aksi lingkungan hidup yang beda. Judul film yang di produksi tahun 1994 ini adalah The Burning Season.
Film ini mengangkat aksi seorang aktivis lingkungan hidup di hutan hujan tropis yang terkenal, Amazon. Aktivis yang akhirnya terbunuh pada pertengahan tahun 80-an ini merupakan penyadap karet hutan tradisional di sebuah provinsi bernama Cachoeira, Brazil. Chico Mendes nama pria itu, mungkin kamu pernah dengar.
Setting film ini diawali di Cachoeira tahun 1951, saat Chico kecil membantu ayahnya menjual gulungan karet hutan hasil kerja mereka kepada seorang pengepul, lebih tepatnya penipu dan lintah darat. Mereka tak berkutik ketika timbangan dikurangi, lalu dipotong ini itu, hingga pendapatan mereka hampir tak bersisa.
Cerita-cerita sama seperti nasib peasant dimanapun. Petani-petani miskin yang selalu saja ditipu dan dipermainkan. Mereka buta huruf, lemah secara apapun. Ada banyak buku menarik yang bisa kamu baca tentang cerita-cerita peasant, seperti sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tentang para cafoni, istilah ejekan untuk peasant di Italia, pada era fasis. Novel berjudul Fontamara ini layak kamu baca, dan bersiaplah kesal.
Chico kecil lalu bertemu dengan Euclides Tavora, seorang aktivis perserikatan yang datang dari Sao Paolo dan menyaksikan sendiri ketika bapak dan anak yang buta huruf ini dibohongi timbangannya. Chico kecil lalu diajari membaca, sampai suatu hari Tavora dibakar di hadapan petani-petani penyadap karet, sebagai hukuman karena hendak membuat serikat kerja di daerah itu. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Tapi Chico kecil merekam ingatan tentang malam itu.
Setting berlanjut ke tahun 1983. saat itu datang seseorang dari San Fe, Wilson Pinheiro. Ia merintis sebuah organisasi serikat pedesaan di Cachoeira dan Chico menjadi tangan kanannya. Mereka menentang pembangunan jalan dan pembakaran hutan. Pada saat itu dimana-mana terjadi pembakaran hutan untuk membersihkan lahan bagi usaha peternakan sapi sebuah perusahaan besar.
Wilson Pinheiro yang dibantu oleh Regina De Carvalho, seorang ekologis dan ahli masyarakat hutan dari universitas Sao Paolo melakukan perjuangan tanpa senjata melalui perserikatan, bersama para seringuiero atau rubber-tapper di Cachoeira mereka memagari dengan tubuh mereka sendiri ketika pohon-pohon karet akan digergaji oleh orang-orang suruhan perusahaan yang berkepentingan dengan jalan tersebut. Wilson Pinheiro dibunuh di kantornya, tak lama setelah aksi yang berani itu. Chico Mendes kemudian menggantikan tugasnya.
Perjuangan Chico baru dimulai. Ia masih harus menghadapi tentara-tentara federal yang menangkapi anggota perserikatan. Karena setelah Pinheiro terbunuh terjadi kerusuhan, menyusul pembunuhan terhadap otak pelaku pembunuh Pinheiro. Setelah keadaan cukup aman, Chico kembali menghidupkan perserikatan. Dan kembali masalah-masalah yang sama datang lagi. Ada insiden yang membuat tangan seorang anak buah Chico harus diamputasi ketika mereka terus menerus berkeras melarang penebangan pohon. Hingga cerita menarik ketika datang teman Regina, Steven Kaye, seorang pembuat film documenter yang bermaksud memfilmkan aksi Chico dan perserikatannya melawan usaha-usaha pembakaran hutan.
Chico bahkan sempat mencalonkan diri dan mengikuti pemilihan umum calon gubernur, namun hanya 10 % yang memilihnya karena kecurangan-kecurangan yang dilakukan lawan politiknya. Namun ia tak menyerah, seperti juga istri dan teman-temannya terus mendukung.
Film documenter yang dibuat oleh Kaye tak disadari telah membuat Chico mendapat penghargaan internasional sebagai penyelamat hutan hujan tropis. Chico diundang ke Miami dan menjadi tamu di pertemuan anggota PBB. Ada banyak hal yang ironis disini. Para wakil Negara-negara sama sekali tak menggubrisnya, jangankan memberi dukungan. Ia dianggap tak baik untuk bisnis. Tapi tentu saja Chico dan Kaye tak menyerah, presentasinya yang baik mampu mengundang dunia untuk mendukung aksinya menghentikan pembuatan jalan dan menyelamatkan rainforest.
Tapi ternyata dihentikannya pembuatan jalan mengundang insiden baru dengan Darli Alves, pemilik peternakan yang selama ini berkonflik secara terbuka dengan perserikatan. Darli Alves dan anak buahnya berkeras menebang pohon-pohon dan membuka jalan. Sebaliknya Chico dan penduduk desa laki-laki perempuan dan anak-anak juga berkeras melindungi pohon-pohon mereka. Dalam hujan mereka dipukuli, tapi kepiawaian Chico mengatur anak buahnya untuk tetap bertindak tanpa kekerasan patut mendapat pujian. Dalam insiden itu mereka memilih mundur. Tapi dalam perjalanan pulang mereka ditembaki oleh orang-orang berkuda suruhan Darli Alves. Seorang anak kecil mati karena insiden itu. Tragis!
Tak hanya itu, Jair Inglesias, seorang pemuda yang begitu setia pada perjuangan Chico dan perserikatan juga dibunuh dengan sembilan tembakan saat ia sedang menyadap karet di hutan. Kematian-kematian orang yang mereka cintai membuat kemarahan yang luar biasa. Sebagian mereka ingin sebuah perang terbuka, sementara Chico dan sebagian yang lain tak menginginkan perang dan senjata. Mereka pembunuh, tapi kita tidak harus jadi pembunuh juga. Begitu kata Chico.
Berita tentang pembunuhan-pembunuhan di Cachoeira tentu tak bisa ditutup-tutupi. Media menulisnya dan membuat dunia tahu. Alfred Sezero yang investor dan Galvao yang menjadi lawan politik Chico dalam pemilihan umum menilai situasi ini sudah sangat tidak baik. Insiden demi insiden bisa mengagalkan semua rencana mereka. Apa yang sudah terjadi sama sekali tidak baik untuk investasi dan karier politik.
Dengan dikawal sepasukan militer Sezero dan Galvao mengunjungi perserikatan. Berbicara (baca : berusaha menyuap) dengan Chico untuk lebih kompromis. Tapi tentu saja Chico bukan orang yang bisa dibeli. Perundingan yang alot terus berjalan. Sementara penduduk desa menanti di luar. Kehabisan akal, akhirnya kedua orang itu menyerah. Pembuatan jalan dihentikan, hutan dan tanah mereka akan dilindungi. Cachoeira akan menjadi sebuah kawasan yang dilindungi secara hukum, dan mereka semua bisa bekerja disana dengan aman.
Disinilah puncak kemenangan Chico dan kawan-kawannya. Kemenangan ini membuat Darli Alves terbakar. Saat itulah terror terhadap hidup Chico dimulai. Seperti Pinheiro, Chico berakhir di kantor (sekaligus rumahnya) sendiri, meninggalkan dua orang anak dan Ilzamar, Istri yang dicintainya. Tapi Chico berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai ia menjemput ajal. Dan ia tidak akan dilupakan.
Begitulah film ini bercerita.
Apa yang dilakukan Chico, Pinheiro dan anggota perserikatan tak hanya mengajarkan pada kita tentang konsistensi, nir senjata dan nir kekerasan. Lebih dari itu, film ini membuka mata kita pada satu kenyataan bahwa kadangkala demi uang banyak hal telah dikorbankan. Tak hanya lingkungan hidup, tapi juga mereka orang-orang yang selama ini bergantung pada lingkungan dan menjaganya sepenuh hati.
Para rubber-tapper tradisional bukan orang-orang serakah, mereka bahkan tak mengambil lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Seperti Chico kecil berkata pada Tavora, jangan menggores terlalu dalam karena Curupira akan marah, jika kau mengambil terlalu banyak mahluk cebol hutan itu akan menyuruh hutan menelanmu. Cerita ini bukan sekedar dongeng anak kecil, tapi bahwa ada kearifan yang dimiliki orang-orang ini. Kearifan untuk menjaga hutan dan tidak menjadi serakah.
Perjuangan Chico dan teman-temannya tak lebih dari sebuah harapan sederhana bahwa mereka bisa bekerja dengan baik dan mendapat hasil yang baik dari hutan dan tanah mereka sendiri, bahwa ada bagian anak cucu dan keturunan mereka di tanah tersebut. Tidak lebih.
We can survive as a species only if we live by the rules of the biosphere. The biosphere has enough for everyone’s needs if the global economy respect the limits set by sustainability and justice. As Gandhi reminded us : “ the earth has enough for everyone’s needs, but not for some people’s greed.” (Vandhana Shiva- Globalization and Poverty: 2001)
No comments:
Post a Comment