Muntahkan apa saja yang kau makan untuk bumi ini!
Dari Irfan Dwianto
Dari Irfan Dwianto
“Kita mengkonsumsi lebih banyak dari generasi sebelumnya.”
Ungkapan yang bernada refleksi atas apa yang telah kita konsumsi dan apa yang telah kita perbuat untuk lingkungan bumi tempat kita hidup. Kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi manusia membuat manusia semakin kompleks untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia ini.
Ungkapan yang bernada refleksi atas apa yang telah kita konsumsi dan apa yang telah kita perbuat untuk lingkungan bumi tempat kita hidup. Kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi manusia membuat manusia semakin kompleks untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia ini.
Kegiatan produksi dan konsumsi tidak dapat dihindarkan. Produksi massal serta diikuti tentunya oleh konsumsi massal berpengaruh pada keseimbangan ekosistem dunia. Kecenderungan manusia untuk terus berkonsumsi merupakan suatu yang kemudian dibentuk dan dikonstruksi untuk suatu kepentingan akumulasi modal kelompok atau golongan tertentu.
Bayangkan 5% dari komposisi masyarakat dunia mengkonsumsi 26% cadangan minyak dunia. Suatu angka atau persentase yang tidak berimbang. Dan ini berimplikasi pada naiknya kandungan CO2 di udara. Terbukti di India telah terjadi kabut asap yang di sebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil.
Bayangkan 5% dari komposisi masyarakat dunia mengkonsumsi 26% cadangan minyak dunia. Suatu angka atau persentase yang tidak berimbang. Dan ini berimplikasi pada naiknya kandungan CO2 di udara. Terbukti di India telah terjadi kabut asap yang di sebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil.
Ini hanya salah satu kasus pencemaran lingkungan karena aktivitas manusia. Mengapa hal ini terus terjadi. Beberapa ahli lingkungan hidup (Spinoza, Thoreau, Jhon Muir) berpendapat bahwa kerusakan lingkungan tidak terlepas dari cara pandang manusia terhadap bumi ini.(Abdul Wahid Situmorang, 2005,”Antoposentrisme Vs Ekonsentrisme”,Replubika,23 April 2005, hal 2) Antroposentris Vs. Ekosentrisme dua perspektif yang terus menerus bertarung untuk mencari suatu pembenaran diantara para pengikutnya.
Manusia menjadi pusat dari bumi, dimana manusia merupakan makluk yang paling sempurna. Alam tersedia untuk manusia dan dapat digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan mendorong perspektif ini mendapat legitimasi dan digunakan sebagai ideologi revolusi Industri sebagai suatu bentuk penjajahan baru terhadap bumi. Ini pun kemudian menjadi awal dari era kapitalisme. Ekosentrisme merupakan anti doxa dari perspektif ini. Manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang bisa semena-mena sekalipun manusia dianggap sebagai makhluk yang sempurna. Manusia diberi akal yang berguna untuk bersikap arif dan bijaksana dalam mengelola alam. Teknologi misalnya, diciptakan untuk menjaga keseimbangan hidup antara makhluk hidup di muka bumi (Carolyn Merchant: 1999). Perspektif ini pun menjadi populer di era perkembangan kapitalisme dunia.
Dua Perspektif yang selalu mengikuti perkembangan kapitalisme. Dimana manusia memang dibentuk dan diposisikan sebagai makhluk yang terus menerus berkonsumsi. Konsumsi yang tidak dapat dilepaskan sebagai suatu mekanisme dari tindakan ekonomi.
“ All You can Eat” yang dijadikan semboyan suatu produk restoran yang kemudian direproduksi menjadi semangat manusia (Life Style) untuk terus hidup dan menjaga eksistensinya. Awalnya hanya sebatas bagaimana manusia berkonsumsi untuk perut. Namun berikutnya hal ini yang kemudian dimanipulasi dengan slogan “All You can buy.” Tentunya ini setali tiga uang dengan bagaimana bila konsumsi tanpa produksi. Manusia akan kekurangan dan manusia akan mati tentunya, selogan itu akan berubah menjadi ” All you can eat and die after”
Ketika harga minyak mencapai titik tertingginya dalam 15 tahun terakhir, maka produksi kendaraan bermotor mencapai titik puncak mencapai titik 532 juta (Worldwatch Institute: 2000). Dan konsumsi kendaraan berarti konsumsi bahan bakar fosil dan berimplikasi pada peningkatan emisi gas buang dan ini kemudian mencemari udara. Industri kendaraan ini tidak berdiri sendiri, industi plastik, PVC, alumunium, besi, karet, ikut hidup dan masing-masing menyumbang polusinya. Itu hanya ilustrasi dari suatu kegiatan manusia dalam mengkomsumsi kendaraan bermotor.
Ketika penemuan teknologi mencapi puncaknya, 90 % dari energi komersial yang dipakai di sleuruh dunia tetap berasal dari bahan bakar fosil. Tanpa kita sadari industri-industri ini mengunakan satu sumber energi yang sama, yaitu bahan bakar fosil. Kelangkaan sumber energi yang baru kita rasakan belakangan ini saya rasa menjadi suatu permulaan dari suatu bencana besar, bencana global yaitu kelangkaan energi minyak bumi.
Bagaimana manusia kemudian eksis. Manusia yang sudah terlanjur sebagai pemproduksi massal sekaligus pengkonsumsi massal. Sedangkan Dunia ini tercipta hanya sekali sekalipun dapat berkesinambungan.
Modernitas, gaya hidup, teknologi, dan kerusakan alam ini merupakan hal yang sudah tidak dapat kita hindarkan. Kuncinya adalah pada manusia sendiri. Maukah kita belajar dan menciptakan dunia yang sehat.
Energi alternatif, barang alternatif, gaya hidup alternatif produksi yang sejalan dengan kelestarian lingkungan dan kepedulian kita terhadap lingkungan. 3R, Recycle, re-use, replace, merupakan slogan yang umum digunakan oleh pencinta lingkungan hidup. Merupakan suatu usaha untuk menjaga eksistensi kita, sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab generasi manusia di bumi.
Manusia tidak akan lepas dari konsumsinya. Namun gerakan massa diperlukan untuk kembali membentuk dan menjadi kekuatan utama untuk kembali mengkontruksi gaya hidup konsumsi masa kini. Dari mulai memisahkan sampah organik dan non-organik, beralih mengunakan sepeda, atau mematikan mesin kendaraan bermotor ketika lampu merah, membatasi konsumsi plastik, sampai kepada penyatuan pikiran untuk menciptakan dunia yang sehat dan berkesinambungan. Pertanyaan yang masih mengganjal adalah maukah kita kemudian memuntahkan apa yang telah kita makan untuk bumi ini.
No comments:
Post a Comment