Angin
tiba-tiba angin yang keras menyapu dari langit, dedaun berguguran, debu-debu pontang-panting menciumi jalanan. Pohon-pohon memaksa tegak, walau kemarau telah mengeringkan ujung-ujung akarnya.Tragis! musim berjalan seperti tanpa harapan.
mereka bilang, panggil dia angin. Angin saja, seolah itu wahyu yang tak bisa diganti. walau juga tidak penting untuk digubris. matanya, si angin itu, seperti burung bangkai kelaparan, sama sekali tak tampan layaknya elang seperti yang dibilang orang-orang.Tapi mereka memujanya, angin suka menabur duit, menabur duit setiap hari. bersama debu dan kabut smog yang menurutku beracun, menyesakkan. seperti yang baru saja lewat, angin tak pernah datang tanpa uang. dan tentu saja, tidak pernah juga disambut tanpa pesta-pesta.
bah! mereka memujanya seperti dewa. Angin makin tinggi hati saja. kenapa juga aku harus kesal,apakah aku cemburu padanya?. Bibirnya bahkan tak lebih baik dari bibir lintah yang suka menghisap, lebih tepat lagi, seperti bibir politisi yang suka membual.
setahun lalu, sebelum angin mulai menyerang, kotaku adalah surga yang tidak memerlukan dewa-dewa untuk dipuja, tak memerlukan uang untuk mengisi perut, apalagi membeli cinta. rumah kami hanyalah pohon-pohon dan sungai-sungai harga diri. tak lebih tak kurang. kehidupan berjalan dalam nafas panjang tanpa rasa takut, bahkan kami tak membutuhkan kunci untuk pintu-pintu kami..
Lalu datanglah angin yang mengaku Tuhan lain peradaban. katanya kami bar-bar, bangsa yang masih memakan daun dan ikan. yang masih menanam dan meramu.angin mengajari kami membangun menara, pabrik-pabrik,bendungan-bendungan, mempertemukan kami pada listrik, membuat bintang-bintang datang ke rumah kami, hingga malam kami menjadi siang. dan hidup kami benar-benar selalu siang..
dan setelah itu kami lupa caranya menanamkami hanya tau caranya membangun.bekerja saja. menanam bukanlah pekerjaan bukan?
angin menjadi dewa, benar-benar menjadi dewa, ia mendatangkan makanan dalam kapsul-kapsul instan yang mengenyangkan. tak ada waktu untuk mengunyah, karena kami harus bekerja.. kami harus memuja!
No comments:
Post a Comment