Armageddon : Earth- mageddon!
from : Anti Ecocide/mepi
Ingatkah kamu dengan sebuah film bertahun-tahun lalu yang bercerita tentang ancaman meteor yang akan segera menabrak bumi dan bakal menghancurkan kehidupan di bumi? Armageddon, judul film itu. Aksi heroic Bruce Willis tentu gak bisa kamu lupakan. Atau pasangan keren Ben Affleck dan Liv Tyler yang bikin kamu cemburu? Yeah.. ada banyak dongeng tentang kiamat. Semua agama memastikan kedatangannya.
Tanpa bermaksud melupakan semua sebab yang mungkin itu, kamu juga nggak boleh lupa factor yang saat ini menjadi bom waktu bagi kehancuran kehidupan di planet bumi. Bukan akibat kutukan atau invasi alien dan perang antar planet, tapi akibat ulah manusia itu sendiri. Sampai ada ungkapan satir: manusia menggali liang kuburnya sendiri, mengundang kematiannya sendiri. Tragis! Atau bodoh???
Modernitas merupakan dua wajah yang menawarkan madu dan racun sekaligus. Perkembangan teknologi, pesatnya produksi dan gaya hidup menciptakan konsekuensinya masing-masing. Sampai ditemukannya plastic yang menggeser daun, ditemukannya mobil berbahan bakar fosil yang menggeser kereta kuda, atau hutan beton yang menggusur pohon-pohon, mungkin manusia sendiri tak berpikir terlalu jauh, modernitas, globalisasi dan pembangunan memiliki konsekuensi logis yang tak terhindarkan.
Lihatlah pembangunan yang membuat kota-kota kumuh, sungai-sungai tercemar dan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan. Industri memacu produksi masal demi akumulasi kapital, pabrik-pabrik terus dibangun hingga sawah-sawah tergusur, perumahan-perumahan menjamur dan pusat-pusat perbelanjaan berkembang luar biasa.
Sekarang coba kamu bermain dengan perjalanan sebab akibat dari fenomena diatas.
v Modernitas tak bisa dipisahkan dari kapitalisme dan industrialisasi
v Industri mensyaratkan proses yang tidak bisa lepas dari alam
Proses produksi mesyaratkan:
Eksploitasi alam,
karena bahan baku industri maupun bahan-bahan pendukungnya tak mengambil dari planet lain, apalagi jatuh begitu saja dari langit
Pencemaran udara, tanah, air
Produksi banyak berupa produksi massal. Enggak mungkin industri memproduksi barang skala kecil-kecilan, kecuali industri rumah tangga. Semakin besar produksi berbanding lurus dengan pencemaran yang dihasilkan. Limbah smog atau kabut asap, limbah cair, maupun zat sisa-sisa produksi tidak mungkin dihindarkan. Mau dibuang kemana kalau bukan ke sungai, laut, negara tetangga (seperti yang biasa dilakukan terhadap Indonesia, negara importir limbah). Kita belum punya teknologi yang bisa setor limbah ke luar angkasa kan? Jangankan, merubah limbah biar nggak berasa limbah pun susah..
Penggunaan energi yang tinggi
Industri jelas butuh energi. Dari yang berbahan bakar fosil sampai pemakaian listrik yang besar. Pemborosan lagi?
Berkontribusi terhadap pemanasan global
Pasti. Smog atau kabut asap yang diciptakan, penggunaan CFC dan bahan-bahan perusak ozon lainnya, penggusuran pohon-pohon untuk lokasi pabrik-pabrik dan pertambangan, dan banyak lagi, menjadi warning. Pemanasan global, hujan asam, meluasnya lubang ozon, tak terhindarkan.
Sementara itu, ada banyak instrument yang perlu di bangun untuk memperlancar jalannya industrialisasi. Misalnya :
Pembangunan dan perluasan jalan-jalan untuk memperlancar arus distribusi
Penambahan sarana-sarana pemasok energi
Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan
Dari produksi dan distribusi maka sekarang kamu bisa lanjutkan ke daur konsumsi.
Ada belanja --- ada barang --- ada sampah
Barang yang kamu konsumsi tentu bukan hanya barang habis pakai yang langsung segera berakhir masuk ke dalam mulutmu. Makanan dan minuman juga ada bungkusnya yang akan menjadi sampah. Sementara itu ketika habis kegunaan suatu barang atau kamu sudah bosan, barangmu juga akan berganti status menjadi sampah.
· Pernahkah kamu coba menghitung berapa banyak sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu, sebulan, setahun dan seumur hidup???
· Pernahkah kamu berpikir kemana nanti perginya sampah-sampahmu dan apa akibatnya bagi alam?
Produksi bukan sekedar mengolah suatu barang hingga memiliki nilai kegunaan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produksi mensyaratkan proses yang panjang dan berisiko besar mengeksploitasi alam, pemborosan energi dan pencemaran.
Konsumsi juga demikian. Konsumsi bukan sekedar persoalan bahwa kamu punya uang dan kamu bisa mendapatkan barang yang kamu butuhkan ( atau barang yang kamu inginkan? __ seringkali bahkan kamu sadar bahwa kamu membutuhkan barang itu setelah melihat iklannya di televisi, artinya sebenarnya kamu tidak membutuhkan barang itu!)
Manusia sering berpikir bahwa alam adalah sesuatu yang given. Ini pemberian Tuhan yang layak dinikmati, layak diambil demi kebutuhanmu (bedakan kebutuhan dengan keserakahan). Karena terberi tanpa harus membayar mahal dan berusaha terlalu keras, manusia jadi menyepelekan. Padahal alam punya batas toleransi juga, jika kamu menyakitinya dan mengancam keseimbangan dalam ekosistemnya, jangan kaget jika suatu hari nanti alam-lah yang akan menjadi musuh paling jahat dan ancaman paling dahsyat bagi hidupmu. Apa kamu mau menunggu dan membuktikan ancamannya??
from : Anti Ecocide/mepi
Ingatkah kamu dengan sebuah film bertahun-tahun lalu yang bercerita tentang ancaman meteor yang akan segera menabrak bumi dan bakal menghancurkan kehidupan di bumi? Armageddon, judul film itu. Aksi heroic Bruce Willis tentu gak bisa kamu lupakan. Atau pasangan keren Ben Affleck dan Liv Tyler yang bikin kamu cemburu? Yeah.. ada banyak dongeng tentang kiamat. Semua agama memastikan kedatangannya.
Tanpa bermaksud melupakan semua sebab yang mungkin itu, kamu juga nggak boleh lupa factor yang saat ini menjadi bom waktu bagi kehancuran kehidupan di planet bumi. Bukan akibat kutukan atau invasi alien dan perang antar planet, tapi akibat ulah manusia itu sendiri. Sampai ada ungkapan satir: manusia menggali liang kuburnya sendiri, mengundang kematiannya sendiri. Tragis! Atau bodoh???
Modernitas merupakan dua wajah yang menawarkan madu dan racun sekaligus. Perkembangan teknologi, pesatnya produksi dan gaya hidup menciptakan konsekuensinya masing-masing. Sampai ditemukannya plastic yang menggeser daun, ditemukannya mobil berbahan bakar fosil yang menggeser kereta kuda, atau hutan beton yang menggusur pohon-pohon, mungkin manusia sendiri tak berpikir terlalu jauh, modernitas, globalisasi dan pembangunan memiliki konsekuensi logis yang tak terhindarkan.
Lihatlah pembangunan yang membuat kota-kota kumuh, sungai-sungai tercemar dan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan. Industri memacu produksi masal demi akumulasi kapital, pabrik-pabrik terus dibangun hingga sawah-sawah tergusur, perumahan-perumahan menjamur dan pusat-pusat perbelanjaan berkembang luar biasa.
Sekarang coba kamu bermain dengan perjalanan sebab akibat dari fenomena diatas.
v Modernitas tak bisa dipisahkan dari kapitalisme dan industrialisasi
v Industri mensyaratkan proses yang tidak bisa lepas dari alam
Proses produksi mesyaratkan:
Eksploitasi alam,
karena bahan baku industri maupun bahan-bahan pendukungnya tak mengambil dari planet lain, apalagi jatuh begitu saja dari langit
Pencemaran udara, tanah, air
Produksi banyak berupa produksi massal. Enggak mungkin industri memproduksi barang skala kecil-kecilan, kecuali industri rumah tangga. Semakin besar produksi berbanding lurus dengan pencemaran yang dihasilkan. Limbah smog atau kabut asap, limbah cair, maupun zat sisa-sisa produksi tidak mungkin dihindarkan. Mau dibuang kemana kalau bukan ke sungai, laut, negara tetangga (seperti yang biasa dilakukan terhadap Indonesia, negara importir limbah). Kita belum punya teknologi yang bisa setor limbah ke luar angkasa kan? Jangankan, merubah limbah biar nggak berasa limbah pun susah..
Penggunaan energi yang tinggi
Industri jelas butuh energi. Dari yang berbahan bakar fosil sampai pemakaian listrik yang besar. Pemborosan lagi?
Berkontribusi terhadap pemanasan global
Pasti. Smog atau kabut asap yang diciptakan, penggunaan CFC dan bahan-bahan perusak ozon lainnya, penggusuran pohon-pohon untuk lokasi pabrik-pabrik dan pertambangan, dan banyak lagi, menjadi warning. Pemanasan global, hujan asam, meluasnya lubang ozon, tak terhindarkan.
Sementara itu, ada banyak instrument yang perlu di bangun untuk memperlancar jalannya industrialisasi. Misalnya :
Pembangunan dan perluasan jalan-jalan untuk memperlancar arus distribusi
Penambahan sarana-sarana pemasok energi
Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan
Dari produksi dan distribusi maka sekarang kamu bisa lanjutkan ke daur konsumsi.
Ada belanja --- ada barang --- ada sampah
Barang yang kamu konsumsi tentu bukan hanya barang habis pakai yang langsung segera berakhir masuk ke dalam mulutmu. Makanan dan minuman juga ada bungkusnya yang akan menjadi sampah. Sementara itu ketika habis kegunaan suatu barang atau kamu sudah bosan, barangmu juga akan berganti status menjadi sampah.
· Pernahkah kamu coba menghitung berapa banyak sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu, sebulan, setahun dan seumur hidup???
· Pernahkah kamu berpikir kemana nanti perginya sampah-sampahmu dan apa akibatnya bagi alam?
Produksi bukan sekedar mengolah suatu barang hingga memiliki nilai kegunaan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produksi mensyaratkan proses yang panjang dan berisiko besar mengeksploitasi alam, pemborosan energi dan pencemaran.
Konsumsi juga demikian. Konsumsi bukan sekedar persoalan bahwa kamu punya uang dan kamu bisa mendapatkan barang yang kamu butuhkan ( atau barang yang kamu inginkan? __ seringkali bahkan kamu sadar bahwa kamu membutuhkan barang itu setelah melihat iklannya di televisi, artinya sebenarnya kamu tidak membutuhkan barang itu!)
Manusia sering berpikir bahwa alam adalah sesuatu yang given. Ini pemberian Tuhan yang layak dinikmati, layak diambil demi kebutuhanmu (bedakan kebutuhan dengan keserakahan). Karena terberi tanpa harus membayar mahal dan berusaha terlalu keras, manusia jadi menyepelekan. Padahal alam punya batas toleransi juga, jika kamu menyakitinya dan mengancam keseimbangan dalam ekosistemnya, jangan kaget jika suatu hari nanti alam-lah yang akan menjadi musuh paling jahat dan ancaman paling dahsyat bagi hidupmu. Apa kamu mau menunggu dan membuktikan ancamannya??
1 comment:
info yang bagus. manusia harus sayang bumi. so, bagaimana dengan anda?
Post a Comment