Saya
sering merasa terkesima dengan betapa baiknya negara, NGO,
perusahaan-perusahaan bahkan kampus yang hadir di desa-desa melalui
program-program baik budi, sebutlah beberapa contoh seperti bagi-bagi beras
melalui Raskin, beasiswa oleh perusahaan-perusahaan tambang melalui CSR,
pendampingan ekonomi desa oleh NGO, sampai program penelitian dan pendampingan oleh kampus-kampus. Dahulu, saya
merasa tidak perlu mencurigai ideologi dalam struktur tindakan baik budi
tersebut. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Bukankah orang-orang desa
yang miskin itu memang butuh bantuan? Dan, negara, NGO,perusahaan-perusahaan
bahkan kampus punya kemampuan untuk membantu.
Setelah
berulang kali datang ke desa, tinggal disana selama berbulan-bulan,
berinteraksi dengan masyarakat, dan “merasa” bahwa mereka adalah saya, dan saya
adalah bagian dari mereka, maka saya mulai mencurigai diri saya sendiri dan
setiap program baik budi yang hadir melalui aparatus negara, NGO, perusahaan
bahkan kampus.
Tindakan
baik budi yang dilakukan oleh individu-individu dalam identitas sebagai bagian
dari aparatus negara, NGO, perusahaan dan dunia akademis, memiliki kaitan erat
dengan ideologi. Ideologi sangat berperan dalam strukturasi tindakan sosial.
Semua upaya untuk memahami secara sistematis tindakan sosial tidak bisa lepas
dari fenomena ideologi. Dinamika masyarakat cenderung mengarah pada upaya suatu
kelompok sosial menunjukkan identitasnya atau merepresentasikan dirinya
(Haryatmoko, 2010,h.88).
Pertanyaan berikutnya, apakah tindakan baik budi yang
dilakukan kelompok-kelompok seperti NGO, perusahaan, akademisi dan bahkan
apparatus Negara adalah tindakan altruistic?
Kata
altruisme pertama kali muncul pada abad ke-19 oleh sosiologis Auguste Comte.
Berasal dari kata yunani “alteri” yang berarti orang lain. Menurut Comte, seseorang
memiliki tanggung jawab moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya. Menurut
Myers (1996) altruisme adalah suatu tindakan prososial dengan alasan
kesejahteraan orang lain tanpa ada kesadaran akan timbal balik (imbalan), dan
dengan mudah terjadi karena adanya ; (a) sosial responsibility, suatu
tanggungjawab sosial, (b) distres-inner reward, kepuasan pribadi dan (c) kin
selection, dimana ada salah satu karakteristik korban yang hampir sama dengan
si penolong.
Altruisme sebagai kebaikan artinya punya sifat
konstruktif, menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan sesama menjadi lebih baik.
Tindakan altruistic tidak berhenti pada tindakan itu sendiri, namun seharusnya
ada keberlanjutan dari hasil tindakan tersebut, dan itu bukanlah
ketergantungan. Program Raskin yang dilakukan Negara, merupakan salah satu
contohnya, Negara baik budi yang memberikan beras kepada orang-orang miskin
ternyata justru tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan dan malah menciptakan
ketergantungan. Lalu apa motif Negara memberlakukan program tersebut?
Contoh yang lain, saat melakukan penelitian di desa di
Batang, saya mendapati kebun-kebun milik petani hasil redistribusi lahan dalam
program PPAN (Program pembaruan Agraria Nasional) adalah lahan-lahan marginal
yang tidak layak untuk pertanian karena tepat berada di pinggir laut, rawan
abrasi dan sering terkena rob, tergenang air laut. Dari wawancara dengan petani
mereka senang diberi lahan yang luasnya masing-masing mendapat sekitar 1500-2000
m2. Seorang ibu bahkan mengatakan bahwa BPN adalah malaikat, bupati dan anggota
dewan juga malaikat. Acara serah terima sertifikat adalah acara yang ramai dan
mewah luar biasa di desa itu ketika para pejabat datang. Orang-orang di desa
itu sejenak lupa bahwa tanah yang diredistribusi kepada mereka hanya secuil
yang tidak berarti dibandingkan tanah kebun karet yang dikelola PTPN IX yang
membelah desa mereka.
Maka apakah praktek program baik budi kelompok
sosial tertentu adalah tindakan altruis?, saya menduga itu bukan tindakan
altruistik, namun ia dikemas dan dicitrakan sebagai tindakan altruis, dan ini
penting bagi produksi kesadaran dan kekuasaan.
Mencurigai
dan membongkar ideologi yang bermain di balik suatu tindakan yang seolah-olah
prososial tersebut membutuhkan riset yang sungguh-sungguh, tulisan ini tidak
akan membahas secara mendalam bagaimana ideologi bekerja dan menstrukturasi
suatu tindakan sosial yang sepertinya altruistik tersebut. Cukup memahami ini
sebagai latarbelakang saja. Bahwa ideologi hadir seperti motivasi pada tataran
proyek pribadi, sedangkan ideologi adalah motivasi bagi praksis sosial (Ricoeur
dalam Haryatmoko, 2010), maksudnya ideologi menjadi pembenaran sekaligus
menjadi pendorong suatu tindakan. Namun ideologi memiliki kelemahan, yaitu
disimulasi ( menyembunyikan kepentingan atau tujuan penguasa) terkait dengan
hubungan kekuasaan dan sistem kekuasaan.
Altruisme
“palsu” yang dihadirkan melalui program-program baik budi terhadap masyarakat
desa bisa direduksi dalam fenomena kekuasaan dan dominasi. Didalamnya terdapat
komunikasi makna, di dalam interaksi sosial yang ditentukan oleh kerangka
penafsiran yang tidak lepas dari tatanan pengetahuan kognitif yang menjadi
struktur pemaknaan suatu komunitas. Misalnya, disini perusahaan tambang
memberikan bantuan-bantuan kepada orang-orang di desa-desa sekitar lokasi
pertambangan, mereka membuat sekolah, jalan, tempat ibadah, memberikan beasiswa
dan lain sebagainya, perusahaan ingin hadir sebagai orang-orang baik, adanya
logo perusahaan di sekolah-sekolah yang di bangun merepresentasikan makna bahwa
dengan adanya perusahaan orang di desa bisa punya pendidikan, pendidikan adalah
syarat kesuksesan. Perusahaan dan orang-orang desa membangun tatanan
pengetahuan kognitifnya, mengesampingkan kemungkinan maksud yang lain, bahkan
menyingkirkan realitas bahwa kehadiran perusahaan telah memiskinkan, membuat
sumberair dan pangan penduduk hilang, membuat sawah petani kering dan lain
sebagainya. Altruisme palsu yang membentuk struktur pemaknaan palsu mereduksi
realitas. Bahkan mereka yang menjadi bagian dari perusahaan sekalipun merasa
bahwa kehadiran perusahaan tambang di desa adalah hal yang baik karena membuat
orang-orang desa punya pendidikan dengan sumbangan bangunan sekolahnya.
Ada
sahabat-sahabat di masa kuliah saya yang senang dan bangga dengan kebaikan hati
perusahaan tambang tempatnya bekerja. Suatu ketika ia menunjukkan betapa banyak
yang disumbang kepada penduduk lokal melalui program-program charity yang
mereka inisiasi sendiri saat liburan kerja. “kami mengadakan acara pengumpulan
dana, teman-teman semua menyumbang, lalu kami membawanya ke kampung orang sakai
yang miskin dan mereka sangat senang dengan bantuan buku-buku, mainan,
perlengkapan sekolah”.
Dugaan
saya, dan ini masih harus diuji melalui penelitian, altruisme dihadirkan dan
direproduksi untuk menyembunyikan realitas. Altruisme dipakai sangat baik untuk
fungsi-fungsi kekuasaan, dominasi dan bahkan kekerasan. Ia menghadirkan wajah
yang lain. Dalam pemikiran Etika-altruis Levinas, memahami “alter” atau yang
lain ini lebih sering bertitik tolak dari “ego”, dan karenanya adanya
kehadiran/keberadaan yang lain ini muncul dalam relasi dominasi.
Ketika
memandang orang-orang desa sebagai “liyan” , yang butuh bantuan, yang tidak
sejahtera karena tidak hidup sebagaimana orang-orang sejahtera di kota (dan ini
dilegitimasi oleh ukuran-ukuran tertentu), dan orang-orang desa pun akhirnya
menerima bahwa mereka terbelakang dan butuh dibantu, maka kita sudah melakukan
kekerasan terhadapnya. Altruisme palsu mereproduksi kekerasan (secara tidak
langsung) melalui komunikasi makna ini.
Bagaimana
di Halmahera orang-orang Tobelo Dalam yang hidup di hutan-hutan dengan berburu
dan meramu kemudian secara berkala di”budaya”kan melalui program pemukiman
kembali dan di”modern”kan dengan bantuan paket infrastruktur dan gaya hidup
baru, pada akhirnya harus
menerima bahwa mereka memang “tuna budaya” dan karenanya harus menerima budaya
yang lain. Roem Topatimasang dalam “Orang-orang Kalah” menuturkan dengan baik
proses kekerasan simbolik negara-perusahaan-NGO- gereja terhadap masyarakat
Tobelo Dalam, yang tentu saja, hadir di Halmahera dengan wajah altruisme yang
baik budi.
Akhirnya,
bercuriga menjadi pilihan saya, terhadap segala tindakan baik budi yang
dilakukan dalam konsepsi dominasi dan kekuasaan tersebut. Saya sendiri belum
mengerti bagaimana cara membongkar relasi dominasi dan kekerasan simbolik
melalui altruisme palsu ini bekerja dalam pembacaan psikologi sosial, karena nampaknya
kita memang belum bicara sampai tataran metodologi.
Haryatmoko.2010.Dominasi
Penuh Muslihat; Akar Kekerasan dan Diskriminasi. Jakarta : Gramedia.
Topatimasang,
Roem. 2000.Potret Orang-orang Kalah.. Yogyakarta: Insist Press
Bahan-bahan
presentasi dan catatan kuliah psikologi sosial.
No comments:
Post a Comment