Wednesday, July 10, 2013

Altruisme “Palsu” dan Kekerasan Simbolik

oleh : Meifita D. Handayani
Saya sering merasa terkesima dengan betapa baiknya negara, NGO, perusahaan-perusahaan bahkan kampus yang hadir di desa-desa melalui program-program baik budi, sebutlah beberapa contoh seperti bagi-bagi beras melalui Raskin, beasiswa oleh perusahaan-perusahaan tambang melalui CSR, pendampingan ekonomi desa oleh NGO, sampai program penelitian dan pendampingan oleh kampus-kampus. Dahulu, saya merasa tidak perlu mencurigai ideologi dalam struktur tindakan baik budi tersebut. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Bukankah orang-orang desa yang miskin itu memang butuh bantuan? Dan, negara, NGO,perusahaan-perusahaan bahkan kampus punya kemampuan untuk membantu. 

Setelah berulang kali datang ke desa, tinggal disana selama berbulan-bulan, berinteraksi dengan masyarakat, dan “merasa” bahwa mereka adalah saya, dan saya adalah bagian dari mereka, maka saya mulai mencurigai diri saya sendiri dan setiap program baik budi yang hadir melalui aparatus negara, NGO, perusahaan bahkan kampus. 

Tindakan baik budi yang dilakukan oleh individu-individu dalam identitas sebagai bagian dari aparatus negara, NGO, perusahaan dan dunia akademis, memiliki kaitan erat dengan ideologi. Ideologi sangat berperan dalam strukturasi tindakan sosial. Semua upaya untuk memahami secara sistematis tindakan sosial tidak bisa lepas dari fenomena ideologi. Dinamika masyarakat cenderung mengarah pada upaya suatu kelompok sosial menunjukkan identitasnya atau merepresentasikan dirinya (Haryatmoko, 2010,h.88). 

Pertanyaan berikutnya, apakah tindakan baik budi yang dilakukan kelompok-kelompok seperti NGO, perusahaan, akademisi dan bahkan apparatus Negara adalah tindakan altruistic?  Kata altruisme pertama kali muncul pada abad ke-19 oleh sosiologis Auguste Comte. Berasal dari kata yunani “alteri” yang berarti orang lain. Menurut Comte, seseorang memiliki tanggung jawab moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya. Menurut Myers (1996) altruisme adalah suatu tindakan prososial dengan alasan kesejahteraan orang lain tanpa ada kesadaran akan timbal balik (imbalan), dan dengan mudah terjadi karena adanya ; (a) sosial responsibility, suatu tanggungjawab sosial, (b) distres-inner reward, kepuasan pribadi dan (c) kin selection, dimana ada salah satu karakteristik korban yang hampir sama dengan si penolong

Altruisme sebagai kebaikan artinya punya sifat konstruktif, menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan sesama menjadi lebih baik. Tindakan altruistic tidak berhenti pada tindakan itu sendiri, namun seharusnya ada keberlanjutan dari hasil tindakan tersebut, dan itu bukanlah ketergantungan. Program Raskin yang dilakukan Negara, merupakan salah satu contohnya, Negara baik budi yang memberikan beras kepada orang-orang miskin ternyata justru tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan dan malah menciptakan ketergantungan. Lalu apa motif Negara memberlakukan program tersebut? 

Contoh yang lain, saat melakukan penelitian di desa di Batang, saya mendapati kebun-kebun milik petani hasil redistribusi lahan dalam program PPAN (Program pembaruan Agraria Nasional) adalah lahan-lahan marginal yang tidak layak untuk pertanian karena tepat berada di pinggir laut, rawan abrasi dan sering terkena rob, tergenang air laut. Dari wawancara dengan petani mereka senang diberi lahan yang luasnya masing-masing mendapat sekitar 1500-2000 m2. Seorang ibu bahkan mengatakan bahwa BPN adalah malaikat, bupati dan anggota dewan juga malaikat. Acara serah terima sertifikat adalah acara yang ramai dan mewah luar biasa di desa itu ketika para pejabat datang. Orang-orang di desa itu sejenak lupa bahwa tanah yang diredistribusi kepada mereka hanya secuil yang tidak berarti dibandingkan tanah kebun karet yang dikelola PTPN IX yang membelah desa mereka. 

Maka apakah praktek program baik budi kelompok sosial tertentu adalah tindakan altruis?, saya menduga itu bukan tindakan altruistik, namun ia dikemas dan dicitrakan sebagai tindakan altruis, dan ini penting bagi produksi kesadaran dan kekuasaan. 

Mencurigai dan membongkar ideologi yang bermain di balik suatu tindakan yang seolah-olah prososial tersebut membutuhkan riset yang sungguh-sungguh, tulisan ini tidak akan membahas secara mendalam bagaimana ideologi bekerja dan menstrukturasi suatu tindakan sosial yang sepertinya altruistik tersebut. Cukup memahami ini sebagai latarbelakang saja. Bahwa ideologi hadir seperti motivasi pada tataran proyek pribadi, sedangkan ideologi adalah motivasi bagi praksis sosial (Ricoeur dalam Haryatmoko, 2010), maksudnya ideologi menjadi pembenaran sekaligus menjadi pendorong suatu tindakan. Namun ideologi memiliki kelemahan, yaitu disimulasi ( menyembunyikan kepentingan atau tujuan penguasa) terkait dengan hubungan kekuasaan dan sistem kekuasaan. 

Altruisme “palsu” yang dihadirkan melalui program-program baik budi terhadap masyarakat desa bisa direduksi dalam fenomena kekuasaan dan dominasi. Didalamnya terdapat komunikasi makna, di dalam interaksi sosial yang ditentukan oleh kerangka penafsiran yang tidak lepas dari tatanan pengetahuan kognitif yang menjadi struktur pemaknaan suatu komunitas. Misalnya, disini perusahaan tambang memberikan bantuan-bantuan kepada orang-orang di desa-desa sekitar lokasi pertambangan, mereka membuat sekolah, jalan, tempat ibadah, memberikan beasiswa dan lain sebagainya, perusahaan ingin hadir sebagai orang-orang baik, adanya logo perusahaan di sekolah-sekolah yang di bangun merepresentasikan makna bahwa dengan adanya perusahaan orang di desa bisa punya pendidikan, pendidikan adalah syarat kesuksesan. Perusahaan dan orang-orang desa membangun tatanan pengetahuan kognitifnya, mengesampingkan kemungkinan maksud yang lain, bahkan menyingkirkan realitas bahwa kehadiran perusahaan telah memiskinkan, membuat sumberair dan pangan penduduk hilang, membuat sawah petani kering dan lain sebagainya. Altruisme palsu yang membentuk struktur pemaknaan palsu mereduksi realitas. Bahkan mereka yang menjadi bagian dari perusahaan sekalipun merasa bahwa kehadiran perusahaan tambang di desa adalah hal yang baik karena membuat orang-orang desa punya pendidikan dengan sumbangan bangunan sekolahnya. 

Ada sahabat-sahabat di masa kuliah saya yang senang dan bangga dengan kebaikan hati perusahaan tambang tempatnya bekerja. Suatu ketika ia menunjukkan betapa banyak yang disumbang kepada penduduk lokal melalui program-program charity yang mereka inisiasi sendiri saat liburan kerja. “kami mengadakan acara pengumpulan dana, teman-teman semua menyumbang, lalu kami membawanya ke kampung orang sakai yang miskin dan mereka sangat senang dengan bantuan buku-buku, mainan, perlengkapan sekolah”. 

Dugaan saya, dan ini masih harus diuji melalui penelitian, altruisme dihadirkan dan direproduksi untuk menyembunyikan realitas. Altruisme dipakai sangat baik untuk fungsi-fungsi kekuasaan, dominasi dan bahkan kekerasan. Ia menghadirkan wajah yang lain. Dalam pemikiran Etika-altruis Levinas, memahami “alter” atau yang lain ini lebih sering bertitik tolak dari “ego”, dan karenanya adanya kehadiran/keberadaan yang lain ini muncul dalam relasi dominasi. 

Ketika memandang orang-orang desa sebagai “liyan” , yang butuh bantuan, yang tidak sejahtera karena tidak hidup sebagaimana orang-orang sejahtera di kota (dan ini dilegitimasi oleh ukuran-ukuran tertentu), dan orang-orang desa pun akhirnya menerima bahwa mereka terbelakang dan butuh dibantu, maka kita sudah melakukan kekerasan terhadapnya. Altruisme palsu mereproduksi kekerasan (secara tidak langsung) melalui komunikasi makna ini. 

Bagaimana di Halmahera orang-orang Tobelo Dalam yang hidup di hutan-hutan dengan berburu dan meramu kemudian secara berkala di”budaya”kan melalui program pemukiman kembali dan di”modern”kan dengan bantuan paket infrastruktur dan gaya hidup baru, pada akhirnya harus menerima bahwa mereka memang “tuna budaya” dan karenanya harus menerima budaya yang lain. Roem Topatimasang dalam “Orang-orang Kalah” menuturkan dengan baik proses kekerasan simbolik negara-perusahaan-NGO- gereja terhadap masyarakat Tobelo Dalam, yang tentu saja, hadir di Halmahera dengan wajah altruisme yang baik budi. 

Akhirnya, bercuriga menjadi pilihan saya, terhadap segala tindakan baik budi yang dilakukan dalam konsepsi dominasi dan kekuasaan tersebut. Saya sendiri belum mengerti bagaimana cara membongkar relasi dominasi dan kekerasan simbolik melalui altruisme palsu ini bekerja dalam pembacaan psikologi sosial, karena nampaknya kita memang belum bicara sampai tataran metodologi. 

Sumber :
Haryatmoko.2010.Dominasi Penuh Muslihat; Akar Kekerasan dan Diskriminasi. Jakarta : Gramedia.
Topatimasang, Roem. 2000.Potret Orang-orang Kalah.. Yogyakarta: Insist Press
Bahan-bahan presentasi dan catatan kuliah psikologi sosial.

No comments: