Friday, July 5, 2013

Bagaimana Menggunakan Pendekatan Psikologi Lingkungan Dalam Pendampingan Petani?




 oleh : Meifita D. Handayani

Saya, selalu tergelitik dengan pertanyaan bagaimana seharusnya seorang fasilitator atau peneliti pedesaan belajar bersama petani. Masalah psikologis yang dihadapi ketika melakukan fasilitasi atau riset biasanya, menurut pengalaman saya tentunya, adalah saya merasa berada di langit, dan petani berada di bumi. Ini tentu saja bukan hanya soal posisi dan perspektif tetapi secara teknis juga pada perbedaan dalam perbendaharaan dan pilihan kata. 

Misalnya ketika saya ingin mengajak para petani mendiskusikan tentang mengapa pertanian alami (organik) penting untuk dipelajari kembali. Saya yang bukan petani jadi kesulitan mengajak berdiskusi karena saya masih menggunakan bahasa kampus, saya memiliki pengetahuan ilmiah bahwa pertanian alami lebih sehat dan aman namun tidak memiliki pengalaman empirik dengan pertanian. Dalam diskusi petani mungkin akan iya-iya saja, manggut-manggut seolah mengerti, tapi bukan itu reaksi yang saya inginkan ketika kami membahas ini. masalahnya ternyata adalah, saya masih menggunakan “bahasa kampus” dan bukan bahasa mereka, yang kedua saya belum memahami persoalan petani di daerah tersebut terkait dengan pertanian.
Saya kemudian teringat dengan pengalaman Paulo Freire ketika mendampingi petani-petani di pedalaman Brazil belajar membaca. Freire tidak berada disana sebagai orang asing, ia mendampingi petani belajar membaca menggunakan istilah-istilah yang familiar dengan petani-petani disana, misalnya bagaimana menulis tanah, jenis pohon, burung, sumber air dan sebagainya. Ia mulai dari hal-hal yang berkaitan langsung dengan life space (ruang hidup) petani-petani disana, karena itu mereka belajar lebih cepat dan mudah.

Itulah yang saya lupakan, saya sebelumnya tidak berangkat dari pemahaman bahwa petani memiliki persepsi dan pengalaman tentang lingkungannya dimana mereka telah beradaptasi, menjalin interaksi dan membangun sistem-sistem pengetahuan dan sosial-budayanya sendiri. Disini misalnya, teori psikologi gestalt bisa dipergunakan. Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt (http:/psikologi.or.id). Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomena. 

Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.

Terkait dengan masalah bagaimana mendampingi petani yang sudah terlanjur begitu lama menggunakan pertanian kimia, teori gestalt Kurt Koffka bisa membantu menjelaskan bagaimana proses belajar bersama petani yang lebih tepat dengan memahami bahwa,: 

 a. Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.

b. Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.

c. Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.

Seperti yang sudah kita ketahui, melalui revolusi hijau yang masuk ke Indonesia sejak empat puluhan tahun lalu, petani-petani diperkenalkan dengan teknik pertanian kimia yang mengubah teknik bertani menjadi lebih modern. Petani perlahan-lahan tidak lagi menggunakan tradisi dan pengetahuannya tentang teknik pertanian yang jauh lebih selaras dengan alam. Sebelum menggunakan traktor petani biasa membajak sawahnya dengan kerbau, yang kotorannya bisa digunakan sebagai pupuk kandang. Petani dahulu juga menggunakan pestisida organik dari ramuan tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar mereka, tidak perlu membeli dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Mereka yang sudah bertahun-tahun meninggalkan cara pertanian alami terkadang hanya mengetahui bahwa satu-satunya cara bertani adalah menggunakan pupuk kimia dan menyemprot hama dengan pestisida kimia yang berbahaya.

Menghadapi kondisi petani yang sudah tidak mengenal pertanian alami dan lingkungannya yang sudah rusak dan tercemar bahan-bahan kimia bagaimana caranya? Teori gestalt bisa membantu kita memahami kondisi tersebut. Dari teori gestalt Koffka misalnya, saya bisa lebih memahami tentang memory traces sebagai suatu pengalaman yang membekas di otak. Saya percaya bahwa petani masih memiliki ingatan tentang pertanian alami yang dulu mereka lakukan. Apabila ingatan-ingatan ini diorganisasikan kembali secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip gestalt maka petani bisa mempersepsikan kembali pertanian alami tersebut, memahami perbedaannya dengan pertanian kimia, dan dengan latihan terus menerus mampu mengganti cara pertanian yang berbahaya tersebut. Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu masalah. Tentu saja, perlu riset yang sungguh-sungguh untuk membuktikan hal tersebut. 

Lalu bagaimana peran saya sebagai seorang fasilitator? Teori gestalt juga ternyata dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran yang akan sangat berguna bagi teknik pendampingan petani. Misalnya seorang fasilitator hendaknya memahami bahwa perilaku terarah pada tujuan (purposive behavior). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pendampingan akan berjalan efektif jika petani mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, fasilitator hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pendampingan dan membantu petani dalam memahami tujuannya. 

Namun teknik pendampingan juga harus dalam pemahaman bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi pendampingan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan petani, disinilah prinsip tentang ruang hidup (life space) berperan. 

Dalam kasus tentang pendampingan pertanian organik misalnya, salah satu persoalannya adalah kebiasaan membeli pupuk dan obat-obatan kimia akan membuat perilaku petani yang manja dan serba instan. Ketika semuanya sudah tersedia dan tinggal membeli mengapa harus repot-repot membuatnya sendiri. Disini ketika kita melihat langsung di lapangan terkait persoalan ini maka di lingkungan tersebut kita bisa menyaksikan sendiri bahwa ada pedagang-pedagang yang memberi pinjaman di awal tanam dan petani bisa membayarnya di saat panen dengan bunga yang besar. Ternyata, masalahnya tidak hanya pada bagaimana petani menjadi ketergantungan dengan pupuk kimia tetapi ada masalah-masalah lain yang dihadapi petani dalam lingkungan kehidupan sosial-ekonomi-budayanya, salah satunya ketergantungan terhadap tengkulak. Lalu ketika kita melihat sendiri bagaimana kondisi sawah dan kebun yang tanahnya keras, atau saat petani mengeluh bahwa kebutuhan pupuk kimianya semakin besar, hal ini dapat ditemukan bersama-sama dilapangan, bahwa pemakaian pupuk kimia membuat tanah menjadi tidak subur sehingga dosis penggunaan pupuk kimia terus bertambah, hutang petani pada tengkulak pun bertambah tinggi. Memahami life space petani akan membantu kita bersama-sama petani menguraikan rantai persoalan yang sesungguhnya.

Akhirnya, dalam ranah sosiologi pedesaan, teori psikologi lingkungan atau psikologi sosial menjadi penting untuk memahami tingkah laku, persepsi dan lingkungan masyarakat yang membentuk tingkah laku dan persepsi tersebut, bagaimana menjelaskan persoalan petani tidak hanya dari teori-teori sosiologi-politik saja, juga untuk mendesain suatu teknik pendampingan petani yang lebih tepat. 

Sumber :
http:/ psikologi.or.id

No comments: