oleh : Meifita D. Handayani
Saya, selalu tergelitik dengan
pertanyaan bagaimana seharusnya seorang fasilitator atau peneliti pedesaan
belajar bersama petani. Masalah psikologis yang dihadapi ketika melakukan
fasilitasi atau riset biasanya, menurut pengalaman saya tentunya, adalah saya
merasa berada di langit, dan petani berada di bumi. Ini tentu saja bukan hanya
soal posisi dan perspektif tetapi secara teknis juga pada perbedaan dalam
perbendaharaan dan pilihan kata.
Misalnya ketika saya ingin mengajak
para petani mendiskusikan tentang mengapa pertanian alami (organik) penting
untuk dipelajari kembali. Saya yang bukan petani jadi kesulitan mengajak
berdiskusi karena saya masih menggunakan bahasa kampus, saya memiliki
pengetahuan ilmiah bahwa pertanian alami lebih sehat dan aman namun tidak
memiliki pengalaman empirik dengan pertanian. Dalam diskusi petani mungkin akan
iya-iya saja, manggut-manggut seolah mengerti, tapi bukan itu reaksi yang saya
inginkan ketika kami membahas ini. masalahnya ternyata adalah, saya masih
menggunakan “bahasa kampus” dan bukan bahasa mereka, yang kedua saya belum
memahami persoalan petani di daerah tersebut terkait dengan pertanian.
Saya kemudian teringat dengan
pengalaman Paulo Freire ketika mendampingi petani-petani di pedalaman Brazil
belajar membaca. Freire tidak berada disana sebagai orang asing, ia mendampingi
petani belajar membaca menggunakan istilah-istilah yang familiar dengan
petani-petani disana, misalnya bagaimana menulis tanah, jenis pohon, burung,
sumber air dan sebagainya. Ia mulai dari hal-hal yang berkaitan langsung dengan
life space (ruang hidup) petani-petani disana, karena itu mereka belajar lebih
cepat dan mudah.
Itulah yang saya lupakan, saya
sebelumnya tidak berangkat dari pemahaman bahwa petani memiliki persepsi dan pengalaman
tentang lingkungannya dimana mereka telah beradaptasi, menjalin interaksi dan
membangun sistem-sistem pengetahuan dan sosial-budayanya sendiri. Disini
misalnya, teori psikologi gestalt bisa dipergunakan. Pandangan pokok psikologi
Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu
kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt (http:/psikologi.or.id). Psikologi
Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu
pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi
phenomena.
Psikologi Gestalt merupakan salah
satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan
atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena
(gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt.
Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan
bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena
terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat
dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi
dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.
Terkait dengan masalah bagaimana
mendampingi petani yang sudah terlanjur begitu lama menggunakan pertanian
kimia, teori gestalt Kurt Koffka bisa membantu menjelaskan bagaimana proses
belajar bersama petani yang lebih tepat dengan memahami bahwa,:
a. Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu
pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan
secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali
kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
b. Perjalanan waktu berpengaruh
terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan
menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung
diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam
ingatan.
c. Latihan yang terus menerus akan
memperkuat jejak ingatan.
Seperti yang sudah kita ketahui,
melalui revolusi hijau yang masuk ke Indonesia sejak empat puluhan tahun lalu,
petani-petani diperkenalkan dengan teknik pertanian kimia yang mengubah teknik
bertani menjadi lebih modern. Petani perlahan-lahan tidak lagi menggunakan
tradisi dan pengetahuannya tentang teknik pertanian yang jauh lebih selaras
dengan alam. Sebelum menggunakan traktor petani biasa membajak sawahnya dengan
kerbau, yang kotorannya bisa digunakan sebagai pupuk kandang. Petani dahulu
juga menggunakan pestisida organik dari ramuan tumbuh-tumbuhan yang ada
disekitar mereka, tidak perlu membeli dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Mereka
yang sudah bertahun-tahun meninggalkan cara pertanian alami terkadang hanya
mengetahui bahwa satu-satunya cara bertani adalah menggunakan pupuk kimia dan
menyemprot hama dengan pestisida kimia yang berbahaya.
Menghadapi kondisi petani yang
sudah tidak mengenal pertanian alami dan lingkungannya yang sudah rusak dan
tercemar bahan-bahan kimia bagaimana caranya? Teori gestalt bisa membantu kita
memahami kondisi tersebut. Dari teori gestalt Koffka misalnya, saya bisa lebih
memahami tentang memory traces sebagai suatu pengalaman yang membekas di otak.
Saya percaya bahwa petani masih memiliki ingatan tentang pertanian alami yang
dulu mereka lakukan. Apabila ingatan-ingatan ini diorganisasikan kembali secara
sistematis mengikuti prinsip-prinsip gestalt maka petani bisa mempersepsikan
kembali pertanian alami tersebut, memahami perbedaannya dengan pertanian kimia,
dan dengan latihan terus menerus mampu mengganti cara pertanian yang berbahaya
tersebut. Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami
proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses
belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu
masalah. Tentu saja, perlu riset yang sungguh-sungguh untuk membuktikan hal
tersebut.
Lalu bagaimana peran saya sebagai
seorang fasilitator? Teori gestalt juga ternyata dapat diaplikasikan dalam
proses pembelajaran yang akan sangat berguna bagi teknik pendampingan petani. Misalnya
seorang fasilitator hendaknya memahami bahwa perilaku terarah pada tujuan (purposive
behavior). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons,
tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pendampingan
akan berjalan efektif jika petani mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh
karena itu, fasilitator hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas
pendampingan dan membantu petani dalam memahami tujuannya.
Namun teknik pendampingan juga
harus dalam pemahaman bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi pendampingan hendaknya
memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan petani,
disinilah prinsip tentang ruang hidup (life space) berperan.
Dalam kasus tentang pendampingan
pertanian organik misalnya, salah satu persoalannya adalah kebiasaan membeli
pupuk dan obat-obatan kimia akan membuat perilaku petani yang manja dan serba
instan. Ketika semuanya sudah tersedia dan tinggal membeli mengapa harus
repot-repot membuatnya sendiri. Disini ketika kita melihat langsung di lapangan
terkait persoalan ini maka di lingkungan tersebut kita bisa menyaksikan sendiri
bahwa ada pedagang-pedagang yang memberi pinjaman di awal tanam dan petani bisa
membayarnya di saat panen dengan bunga yang besar. Ternyata, masalahnya tidak
hanya pada bagaimana petani menjadi ketergantungan dengan pupuk kimia tetapi
ada masalah-masalah lain yang dihadapi petani dalam lingkungan kehidupan
sosial-ekonomi-budayanya, salah satunya ketergantungan terhadap tengkulak. Lalu
ketika kita melihat sendiri bagaimana kondisi sawah dan kebun yang tanahnya
keras, atau saat petani mengeluh bahwa kebutuhan pupuk kimianya semakin besar,
hal ini dapat ditemukan bersama-sama dilapangan, bahwa pemakaian pupuk kimia
membuat tanah menjadi tidak subur sehingga dosis penggunaan pupuk kimia terus
bertambah, hutang petani pada tengkulak pun bertambah tinggi. Memahami life
space petani akan membantu kita bersama-sama petani menguraikan rantai
persoalan yang sesungguhnya.
Akhirnya, dalam ranah sosiologi
pedesaan, teori psikologi lingkungan atau psikologi sosial menjadi penting
untuk memahami tingkah laku, persepsi dan lingkungan masyarakat yang membentuk
tingkah laku dan persepsi tersebut, bagaimana menjelaskan persoalan petani
tidak hanya dari teori-teori sosiologi-politik saja, juga untuk mendesain suatu
teknik pendampingan petani yang lebih tepat.
Sumber :
http:/ psikologi.or.id
No comments:
Post a Comment