Friday, July 5, 2013

Review Chapter 6 The Ideology of Environmental Concern



oleh Meifita D Handayani

Apa yang ditulis oleh Racher Carson “Silent Spring” 1962, menjadi semacam alarm bahaya bagi kelangsungan kehidupan termasuk manusia. Buku tersebut setidaknya mengisahkan tentang bahaya pestisida kimia, yang meracuni, tidak hanya menyerang insekt tapi bahkan menyerang bumi itu sendiri. Buku tersebut membuat shock banyak orang yang tidak pernah membayangkan betapa bahayanya penggunaan pestisida kimia, dan kemudian menjadi salah satu pemicu penting mengapa sampai hari ini, bnyak orang mendukung gerakan lingkungan. 

Mengapa  terjadi pergesaran yang kuat? Manusia secara dramatis telah merubah lingkungan selama berabad-abad tanpa membangkitkan gerakan lingkungan. Kemudian buku tersebut telah secara serius mempengaruhi dan mengkristalkan perhatian terhadap lingkungan. Bagaimana kita memahami arah ideologi ini? chapter ini akan membahas bagaimana sosiologi berusaha menjawab pertanyaan tersebut, termasuk sejarah lingkungan dan teori-teori advance. Menghadapi dominasi terhadap lingkungan, counter ide selalu berada disana. dimana ide tersebut menjadi semakin meluas karena tiga alasan;penemuan kembali tarikan moral terhadap alam, meningkatnya skala perubahan materi lingkungan, dan menyebarnya sikap dan institusi demokrasi. 

Ancient beginning

Sebetulnya perhatian terhadap lingkungan memiliki sejarah panjang, misalnya manusia menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar mereka, apakah ini aman, bermoral, dan terkadang juga pertanyaan apakah ini indah? Dan apakah dewa-dewa merestui. Debat tentang pemikian-pemikiran ini sudah berlangsung sejak jaman Romawi Kuno, Yunani dan China. 

Di Roma, puisi yang ditulis Horace menampilkan tidak hanya pujian kecantikan pedesaan dan kesederhanaan manusia dekat dengan alam, dan memuji konsekuensi sosial kehidupan pedesaan. Lebih dari itu  memandang alam sebagai basis moral di luar struktur kekuasaan manusia.  Sumber dari “social innocence” diluar kepentingan manusia dan keinginannya terhadap materi. Disini penemuan tentang kesadaran alam tidak sama dengan bebas dari moral kepentingan, namun setidaknya ada suatu pergulatan ide. Pada masa itu keserakahan luarbiasa dalam kehidupan dan pemandangan Romawi. Kehidupan sosial berubah karena keinginan-keinginan atas kekuasaan, pengaruh dan materi. Puisi Horace menjadi suatu pemikiran penting tentang natural conscience. 

Pergulatan ide sebagai respon manusia terhadap perkembangan sosial dan lingkungan hidupnya juga terjadi di yunani kuno. Nature adalah suatu idea yang tua dan kuat. Nature sendiri berasal dari bahasa latin natura, namun ini mengambil dari kata physis yunani. Lima abad sebelum masehi, term physis ini menjadi signifikan, pada masa itu masyarakat yunani dalam masa pertumbuhan kekuatan yang fantastis, penaklukan terhadap Persia membawa peningkatan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan kota. Pada saat itu juga berkembang pemikiran filsuf-filsuf tentang moral, agama, pengetahuan termasuk ketidak adilan sosial. Disini physis mungkin bisa menjadi suatu moral penuntun, mengakarkan kebenaran diluar manipulasi manusia, retorik, bias dan nafsu material. 

Pemikiran yunani kuno bukan yang pertama mengkritik nafsu material. Adalah filsuf Tao, memiliki pandangan skeptis tentang dunia. Tao melakukan kritik terhadap keinginan yang berpusat pada uang dalam masyarakatnya. Lao Tsu mengatakan, the sage desire not to desire and does not value goods wich are hard to come by. Taoism, Tao adalah “jalan” prinsip yang mendasari makna alam, darimana semua datang. Suatu alternatif diluar kepentingan pribadi dan menjadi suatu jalan petunjuk.

Basis Moral Kontemporer tentang perhatian lingkungan.

Menghubungkan konsep alam dengan konsep lain. Alam biasanya terikat dengan konsep-konsep lain seperti agama, pengetahuan dan perbedaan seperti ras dan gender. Dalam era sekarang ini dominasi terhadap lingkungan , konflik politik, ketidakadilan dan pertumbuhan ekonomi mengaskan bahwa basis moral kita diproduksi dan dipengaruhi oleh kekuasaan. Seperti ras, walupun dilihat sebagai “alami” namun ternyata lekat dengan moral, posisi sosial dan rewardsnya. Setiap pandangan, definisi kemudian tidak lagi melekat pada naturalnya tetapi memiliki hubungan-hubungan kekuasaan. 

Henry David Thoreau menulis soal nilai moral lingkungan. Masyarakat di abad 19 sudah memiliki kekhawatiran terhadap perubahan sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh revolusi industri, dan pandangannya kemudian sama, bahwa perlu kembali ke visi yang murni tentang alam. Alam sebagai alam, suatu dunia non sosial. Seni merayakan alam, kota-kota membangun taman, kebun dll, orang-orang kaya punya rumah lagi di pedesaan, bersamaan dengan perubahan luar biasa akibat revolusi industri. Thoreau melakukan kritik terhadap kekuasaan, dan tempat alternatif untuk berpijak, bahkan berjalan, termasuk kritik politik. Seperti Tao dan sophist, Thoreau juga mengkritik nafsu material, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi arogan. Thoreau pecaya alam bisa menuntun manusia di jalan yang benar. Thoreauvian dapat ditemukan dalam gerakan lingkungan sukarela dlam berbagai bentuk. Kritiknya terhadap nafsu material dapat ditemukan pada pemikiran environmentals tentang polusi, sampah, ketidaktanggungjawaban perusahaan, dan keserakahan yang mendalanginya. Tetapi bukan berarti ktivis dan gerakan lingkungan semua dilatarbelakangi pemikiran Thoreau, hanya saja mereka memiliki keprihati nan yang sama. 96 % responden pada survey 1990-1993 mengatakan para aktivis ini tidak pernah membaca pemikiran Thoreau maupun pemikiran-pemikiran tentang etik lingkungan seperti Gandhi, Leopold, bahkan pemikiran klasik seperti Tao, Sophist dan Horace. Mereka bergabung dalam gerakan lingkungan sebagai bagian dari air dimana kita semua berenang. 

Apakah moral lingkungan bebas dari kritik, tidak juga. Environmentalism yang berkembang ternyata sebagian (mungkin) dianggap akan cepat ditangkap dan cepat pula hilang, sebagai suatu isu yang besar namun tidak mengakar, kedua, isu lingkungan msih merupakan isu elite. 

The persistence of environmental concern

Apakah benar kepedulian lingkungan hanya dimulut saja? Survey yang dilakukan menunjukkan bahwa 65 % responden mau membayar pajak lebih tinggi untuk mencegah polusi, namun jumlah ini menurun terus menjadi 45 %. Apabila survey dilakukan ditengah earth summit, dimana media punya peranan besar memboomingkan isu lingkungan, bisa jadi hasilnya berbeda. Perhatian publik berubah dari waktu ke waktu dan dipengaruhi media dan momentum. 

Dugaan bahwa isu lingkungan menjadi isu elite yang dimiliki orang kulit putih, liberal, menurut studi di Amerika, pendapatan memiliki efek kecil terhadap kepedulian lingkungan. Sementara survey di Inggris, dukungan terhadap lingkungan lebih besar pada profesi kelas menengah, orang dengan pendapatan tinggi, pemimpin bisnis. Dalam studi yang lain, ras, kelas, dll memiliki pengaruh yang kecil dalam tingkatan perhatian terhadap isu lingkungan. 

Apakah status sosial mempengaruhi kesadaran lingkungan? Status sosial ternyata memiliki efek kecil terhadap kesadaran lingkungan. Bentuk dan basis kesadaran lingkungan mungkin berbeda antara status sosial, kelas, dll, namun bukan pada perbedaan level kesadarannya. Lebih jauh kesadaran lingkungan tidak ditemukan dalam perbedaan variabel demografik, tetapi lebih kepada nilai dan keyakinan sosial politik.
Inglehard menganalisis basis material kepedulian lingkungan. Perubahan dari nilai material ke postmaterial. Pada masyarakat post material, kecenderungan kaum muda lebih tertarik pada kebebasan, ekspresi diri dan kualitas hidup ketimbang keamanan ekonomi dan fisik. Inglehart mencatat, negara dengan jumlah postmterial lebih banyak memiliki aksi perlindungan lingkungan yang lebih tinggi. Tapi postmaterialism tidak dapat digunakan untuk melihat kepedulian lingkungan kaum miskin. Guba mengatakan, di negara miskin orang memperjuangkan lingkungan dan ini menjadi isu sentral untuk tujuan material. 

Teori yang lain adalah risk society dari Ulrich Beck dimana, mirip dengan ingelhart, bahwa ad pengaruh antara masyarakat modern dan kebangkitan isu lingkungan. Beck menekankan bahwa kita pada dasarnya tengah berbagi resiko, akibat teknologi dan modernitas. Seperti kata Beck, kemiskinan itu hierarkis, kabut asap itu demokratis, karena miskin dan kaya sama-sama menghirupnya. 

Perubahan paradigma. Orang secara pelan tpi pasti mengadopsi pemikiran lingkungan. Dunlap, membedakan paradigma lama dan baru sebagai respon  perubahan atas efek industri terhadap lingkungan. Paradigma lama mmengatakan bahwa manusia berhadapan dengan sumberdaya yang terbatas, dan basis tujuan mengatasinya adalah teknologi untuk menguasai alam untuk mencapai kesejahteraan . Pada paradigma yang baru manusia adalah bagian dari alam dan harus mengatur keseimbangan dengan alam. Para peneliti mendapatkan setidaknya beberapa paradigma dari dua paradigma ini yaitu; dominan sosial paradigm, human eksepsional paradigma, paradigma sosial teknologi, dan new environmental paradigma, alternatif environmental paradigma dan ecological sosial paradigma. 

Bagaimanapun akan jadi masalah ketika hanya membagi ideologi lingkungan ke dalam dua paradigma saja. Variasi dan ukuran yang digunakan mungkin saja hanya mewakili masyarakat yang diteliti atau diadvokasi saja dan mungkin saja tidak menunjukkan sikap lingkungan yang riil dari responden. Dan survey-survey yang dilakukan hanya melihat sikap hari ini, bukan pada bagaimana perubahan-perubahannya. 

Basis demokrasi pada kepedulian lingkungan kontemporer.  Pada prosesnya, ketika nilai-nilai tentang lingkungan dan kenyataan yang ada sebelumnya berdiri sangat jauh, saat ini lebih dekat  salahsatunya dengan demokrasi, kepekaan dan institusinya. Muncul dan berkembangnya kepekaan demokrasi secara umum berhubungan paralel dengan kepekaan terhadap lingkungan. Kepekaan lingkungan juga berkembang salah satunya dalam bentuk proteksi terhadap binatang, berkembangnya pemikiran demokratik tidak hanya membawa orang pada hak-hak lingkungan, tetapi juga hak binatang, dimana sebelumnya banyak dipakai untuk makanan, pakaian, olahraga, objek riset dll. 

Institusi demokrasi juga tidak kalah pentingnya, mereka punya peranan agar orang waspada terhadap masalah lingkungan. Tanpa hak-hak demokratik untuk memprotes, memilih, berbicara, environmentalisme mungkin tidak bisa berkembang dimana-mana sedemikian rupa.




No comments: