oleh Meifita D Handayani
Apa yang ditulis oleh Racher Carson “Silent Spring” 1962,
menjadi semacam alarm bahaya bagi kelangsungan kehidupan termasuk manusia. Buku
tersebut setidaknya mengisahkan tentang bahaya pestisida kimia, yang meracuni,
tidak hanya menyerang insekt tapi bahkan menyerang bumi itu sendiri. Buku
tersebut membuat shock banyak orang yang tidak pernah membayangkan betapa
bahayanya penggunaan pestisida kimia, dan kemudian menjadi salah satu pemicu
penting mengapa sampai hari ini, bnyak orang mendukung gerakan lingkungan.
Mengapa terjadi
pergesaran yang kuat? Manusia secara dramatis telah merubah lingkungan selama
berabad-abad tanpa membangkitkan gerakan lingkungan. Kemudian buku tersebut
telah secara serius mempengaruhi dan mengkristalkan perhatian terhadap
lingkungan. Bagaimana kita memahami arah ideologi ini? chapter ini akan
membahas bagaimana sosiologi berusaha menjawab pertanyaan tersebut, termasuk
sejarah lingkungan dan teori-teori advance. Menghadapi dominasi terhadap
lingkungan, counter ide selalu berada disana. dimana ide tersebut menjadi
semakin meluas karena tiga alasan;penemuan kembali tarikan moral terhadap alam,
meningkatnya skala perubahan materi lingkungan, dan menyebarnya sikap dan
institusi demokrasi.
Ancient beginning
Sebetulnya perhatian terhadap lingkungan memiliki sejarah
panjang, misalnya manusia menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi
lingkungan sekitar mereka, apakah ini aman, bermoral, dan terkadang juga
pertanyaan apakah ini indah? Dan apakah dewa-dewa merestui. Debat tentang
pemikian-pemikiran ini sudah berlangsung sejak jaman Romawi Kuno, Yunani dan
China.
Di Roma, puisi yang ditulis Horace menampilkan tidak hanya pujian
kecantikan pedesaan dan kesederhanaan manusia dekat dengan alam, dan memuji
konsekuensi sosial kehidupan pedesaan. Lebih dari itu memandang alam sebagai basis moral di luar
struktur kekuasaan manusia. Sumber dari
“social innocence” diluar kepentingan manusia dan keinginannya terhadap materi.
Disini penemuan tentang kesadaran alam tidak sama dengan bebas dari moral kepentingan,
namun setidaknya ada suatu pergulatan ide. Pada masa itu keserakahan luarbiasa
dalam kehidupan dan pemandangan Romawi. Kehidupan sosial berubah karena
keinginan-keinginan atas kekuasaan, pengaruh dan materi. Puisi Horace menjadi
suatu pemikiran penting tentang natural conscience.
Pergulatan ide sebagai respon manusia terhadap perkembangan
sosial dan lingkungan hidupnya juga terjadi di yunani kuno. Nature adalah suatu
idea yang tua dan kuat. Nature sendiri berasal dari bahasa latin natura, namun
ini mengambil dari kata physis yunani. Lima abad sebelum masehi, term physis
ini menjadi signifikan, pada masa itu masyarakat yunani dalam masa pertumbuhan
kekuatan yang fantastis, penaklukan terhadap Persia membawa peningkatan ekonomi
dan pertumbuhan kesejahteraan kota. Pada saat itu juga berkembang pemikiran
filsuf-filsuf tentang moral, agama, pengetahuan termasuk ketidak adilan sosial.
Disini physis mungkin bisa menjadi suatu moral penuntun, mengakarkan kebenaran
diluar manipulasi manusia, retorik, bias dan nafsu material.
Pemikiran yunani kuno bukan yang pertama mengkritik nafsu
material. Adalah filsuf Tao, memiliki pandangan skeptis tentang dunia. Tao
melakukan kritik terhadap keinginan yang berpusat pada uang dalam
masyarakatnya. Lao Tsu mengatakan, the sage desire not to desire and does not
value goods wich are hard to come by. Taoism, Tao adalah “jalan” prinsip yang
mendasari makna alam, darimana semua datang. Suatu alternatif diluar
kepentingan pribadi dan menjadi suatu jalan petunjuk.
Basis Moral
Kontemporer tentang perhatian lingkungan.
Menghubungkan konsep alam dengan konsep lain. Alam biasanya
terikat dengan konsep-konsep lain seperti agama, pengetahuan dan perbedaan
seperti ras dan gender. Dalam era sekarang ini dominasi terhadap lingkungan ,
konflik politik, ketidakadilan dan pertumbuhan ekonomi mengaskan bahwa basis
moral kita diproduksi dan dipengaruhi oleh kekuasaan. Seperti ras, walupun
dilihat sebagai “alami” namun ternyata lekat dengan moral, posisi sosial dan
rewardsnya. Setiap pandangan, definisi kemudian tidak lagi melekat pada
naturalnya tetapi memiliki hubungan-hubungan kekuasaan.
Henry David Thoreau menulis soal nilai moral lingkungan. Masyarakat
di abad 19 sudah memiliki kekhawatiran terhadap perubahan sosial dan lingkungan
yang diakibatkan oleh revolusi industri, dan pandangannya kemudian sama, bahwa
perlu kembali ke visi yang murni tentang alam. Alam sebagai alam, suatu dunia
non sosial. Seni merayakan alam, kota-kota membangun taman, kebun dll,
orang-orang kaya punya rumah lagi di pedesaan, bersamaan dengan perubahan luar
biasa akibat revolusi industri. Thoreau melakukan kritik terhadap kekuasaan,
dan tempat alternatif untuk berpijak, bahkan berjalan, termasuk kritik politik.
Seperti Tao dan sophist, Thoreau juga mengkritik nafsu material, termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologi arogan. Thoreau pecaya alam bisa menuntun manusia di
jalan yang benar. Thoreauvian dapat ditemukan dalam gerakan lingkungan sukarela
dlam berbagai bentuk. Kritiknya terhadap nafsu material dapat ditemukan pada
pemikiran environmentals tentang polusi, sampah, ketidaktanggungjawaban
perusahaan, dan keserakahan yang mendalanginya. Tetapi bukan berarti ktivis dan
gerakan lingkungan semua dilatarbelakangi pemikiran Thoreau, hanya saja mereka
memiliki keprihati nan yang sama. 96 % responden pada survey 1990-1993
mengatakan para aktivis ini tidak pernah membaca pemikiran Thoreau maupun
pemikiran-pemikiran tentang etik lingkungan seperti Gandhi, Leopold, bahkan
pemikiran klasik seperti Tao, Sophist dan Horace. Mereka bergabung dalam
gerakan lingkungan sebagai bagian dari air dimana kita semua berenang.
Apakah moral lingkungan bebas dari kritik, tidak juga.
Environmentalism yang berkembang ternyata sebagian (mungkin) dianggap akan
cepat ditangkap dan cepat pula hilang, sebagai suatu isu yang besar namun tidak
mengakar, kedua, isu lingkungan msih merupakan isu elite.
The persistence of
environmental concern
Apakah benar kepedulian lingkungan hanya dimulut saja?
Survey yang dilakukan menunjukkan bahwa 65 % responden mau membayar pajak lebih
tinggi untuk mencegah polusi, namun jumlah ini menurun terus menjadi 45 %. Apabila
survey dilakukan ditengah earth summit, dimana media punya peranan besar
memboomingkan isu lingkungan, bisa jadi hasilnya berbeda. Perhatian publik
berubah dari waktu ke waktu dan dipengaruhi media dan momentum.
Dugaan bahwa isu lingkungan menjadi isu elite yang dimiliki
orang kulit putih, liberal, menurut studi di Amerika, pendapatan memiliki efek
kecil terhadap kepedulian lingkungan. Sementara survey di Inggris, dukungan
terhadap lingkungan lebih besar pada profesi kelas menengah, orang dengan
pendapatan tinggi, pemimpin bisnis. Dalam studi yang lain, ras, kelas, dll
memiliki pengaruh yang kecil dalam tingkatan perhatian terhadap isu lingkungan.
Apakah status sosial mempengaruhi kesadaran lingkungan?
Status sosial ternyata memiliki efek kecil terhadap kesadaran lingkungan.
Bentuk dan basis kesadaran lingkungan mungkin berbeda antara status sosial,
kelas, dll, namun bukan pada perbedaan level kesadarannya. Lebih jauh kesadaran
lingkungan tidak ditemukan dalam perbedaan variabel demografik, tetapi lebih
kepada nilai dan keyakinan sosial politik.
Inglehard menganalisis basis material kepedulian lingkungan.
Perubahan dari nilai material ke postmaterial. Pada masyarakat post material,
kecenderungan kaum muda lebih tertarik pada kebebasan, ekspresi diri dan
kualitas hidup ketimbang keamanan ekonomi dan fisik. Inglehart mencatat, negara
dengan jumlah postmterial lebih banyak memiliki aksi perlindungan lingkungan
yang lebih tinggi. Tapi postmaterialism tidak dapat digunakan untuk melihat
kepedulian lingkungan kaum miskin. Guba mengatakan, di negara miskin orang
memperjuangkan lingkungan dan ini menjadi isu sentral untuk tujuan material.
Teori yang lain adalah risk society dari Ulrich Beck dimana,
mirip dengan ingelhart, bahwa ad pengaruh antara masyarakat modern dan
kebangkitan isu lingkungan. Beck menekankan bahwa kita pada dasarnya tengah
berbagi resiko, akibat teknologi dan modernitas. Seperti kata Beck, kemiskinan
itu hierarkis, kabut asap itu demokratis, karena miskin dan kaya sama-sama
menghirupnya.
Perubahan paradigma. Orang secara pelan tpi pasti mengadopsi
pemikiran lingkungan. Dunlap, membedakan paradigma lama dan baru sebagai
respon perubahan atas efek industri
terhadap lingkungan. Paradigma lama mmengatakan bahwa manusia berhadapan dengan
sumberdaya yang terbatas, dan basis tujuan mengatasinya adalah teknologi untuk
menguasai alam untuk mencapai kesejahteraan . Pada paradigma yang baru manusia
adalah bagian dari alam dan harus mengatur keseimbangan dengan alam. Para
peneliti mendapatkan setidaknya beberapa paradigma dari dua paradigma ini
yaitu; dominan sosial paradigm, human eksepsional paradigma, paradigma sosial
teknologi, dan new environmental paradigma, alternatif environmental paradigma
dan ecological sosial paradigma.
Bagaimanapun akan jadi masalah ketika hanya membagi ideologi
lingkungan ke dalam dua paradigma saja. Variasi dan ukuran yang digunakan
mungkin saja hanya mewakili masyarakat yang diteliti atau diadvokasi saja dan
mungkin saja tidak menunjukkan sikap lingkungan yang riil dari responden. Dan
survey-survey yang dilakukan hanya melihat sikap hari ini, bukan pada bagaimana
perubahan-perubahannya.
Basis demokrasi pada kepedulian lingkungan kontemporer. Pada prosesnya, ketika nilai-nilai tentang
lingkungan dan kenyataan yang ada sebelumnya berdiri sangat jauh, saat ini
lebih dekat salahsatunya dengan
demokrasi, kepekaan dan institusinya. Muncul dan berkembangnya kepekaan
demokrasi secara umum berhubungan paralel dengan kepekaan terhadap lingkungan.
Kepekaan lingkungan juga berkembang salah satunya dalam bentuk proteksi
terhadap binatang, berkembangnya pemikiran demokratik tidak hanya membawa orang
pada hak-hak lingkungan, tetapi juga hak binatang, dimana sebelumnya banyak
dipakai untuk makanan, pakaian, olahraga, objek riset dll.
Institusi demokrasi juga tidak kalah pentingnya, mereka
punya peranan agar orang waspada terhadap masalah lingkungan. Tanpa hak-hak
demokratik untuk memprotes, memilih, berbicara, environmentalisme mungkin tidak
bisa berkembang dimana-mana sedemikian rupa.
No comments:
Post a Comment