Friday, July 5, 2013

Resume terhadap Bagian kedua Robert K. Merton Middle-Range Theory buku Contemporary Sociological Theory (Wallace, Ruth A and Alison Wolf, 1999)



oleh Meifita D. Handayani

Salah satu yang penting dalam pemikiran Merton dari Fungsionalisme Parsonian adalah apa yang dia sebut sebagai Middle-Range Theories.  Merton menjelaskan;  di puncak pemikiran manusia, beberapa sosiolog mencari teori-kesatuan tunggal,  suatu tubuh penjelasan yang general seperti bagaimana lembaga-lembaga masuk ke dalam kerangka sosial, bagaimana nilai-nilai berbeda muncul dan perubahan mereka bekerja pada masyarakat dan sebagainya. Talcott Parson hanya melakukan itu, dan saya pikir membuat kemajuan berguna. Hal seperti itu akan melumpuhkan sosiologi menghabiskan seluruh waktu hari ini pada masalah-masalah praktis sebelum mengembangkan teori yang cukup, sehingga akan menghabiskan waktu pada abstrak, mencakup semua teori. Hari ini tugas utama kami adalah untuk mengembangkan teori-teori khusus yang berlaku untuk rentang data yang terbatas. Misalnya, teori tentang perilaku menyimpang, atau aliran kekuasaan dari generasi ke generasi, atau cara-cara tertentu di mana pengaruh pribadi berlaku.
Teori-teori menengah melampaui deskripsi belaka suatu fenomena sosial. Ini merupakan teori-teori dengan batasan asumsi, dimana hipotesa spesifik dapat diuji secara ilmiah. Dalam pandangan Merton, teori menengah ini akan secara terus menerus mengkonsolidasi menjadai teori yang lebih umum.  Yang dia lakukan adalah mengisi apa yang kosong diantara fakta kotor yang didapat dilapangan dengan teori-teori besar.  Disini Merton berdiri bersama pemikir besar Sosiologi seperti Durkheim dan Weber. Dia mencontohkan dua contoh klasih teori menengah yaitu teori Durkheim tentang bunuh diri dan Weber tentang etika protestan dan spirit kapitalisme.
Merton telah mengabdikan perhatiannya pada apa yang disebut kodifikasi dari analisis fungsional dalam sosiologi. Karyanya menunjukkan beberapa perbedaan penting dari Fungsionalisme Parson. Paradigma Fungsional Merton tidak terbuka untuk kritik terhadap konservatisme yang melekat dan teleologi. Namun Merton menawarkan sedikit proposisi tertentu tentang struktur masyarakat dari Parson. Seperti yang kita ketahui  para Fungsionalist  secara umum melihat masyarakat sebagai suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme mengintepretasi data dengan cara melihat struktur besar yang sudah ada dimana mereka terlibat.  Merton juga secara mendalam  sangat tertarik dengan integrasi sosial dan keadaan masyarakat yang equilibrium. Seperti Durkheim dan Parson, dia menganalisis masyarakat dengan referensi apakah  budaya dan struktur sosial  terintegrasi secara baik atau tidak. Ia juga tertarik pada kontribusi dari adat dan lembaga dalam masyarakat, dan mendefinisikan fungsi sebagai kontribusi atau konsekuensi yang "membuat adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu”. Akhirnya, Merton berpendapat bahwa nilai-nilai bersama yang sentral dalam menjelaskan bagaimana masyarakat dan institusi bekerja, sehingga berbagi perhatian menjadi pembeda utama lainnya dari semua analisis fungsionalis.
Melalui paradigma ini Merton mengklarifikasi dan kembali memperhatikan beberapa aspek mayor dari teori fungsionalisme. Bebarapa yang penting adalah pemikirannya tentang disfungsi, lalu bagaimana ia membedakan antara fungsi latent dan manifest, konsep tentang alternatif fungsional dan bagaimana ia berusaha memahami mekanisme dimana fungsi kemudian bisa terisi penuh.
Disfungsi
Pemikiran Parson melihat semua institusi yang ada adalah baik dan berfungsi bagi masyarakat. Tendensi ini menjadi serangan utama  terhadap fungsionalisme Parson. Merton membedakan dirinya dari posisi tersebut. Ia menghadirkan apa yang disebut sebagi disfungsi. Konsep disfungsi Merton terdiri atas dua pelengkap namun berbeda ide. Pertama, bahwa sesuatu mungkin memiliki konsekuensi  yang secara umum disfungsional. Kedua, konsekuensi ini dapat bervariasi sesuai siapa yang bicara. Sosiologi harus punya pertanyaan penting, “berfungsi atau tidak berfungsi untuk siapa??”
Contoh disfungsi yang penting dari Merton adalah Birokrasi. Secara umum, birokrasi memiliki fungsi kelembagaan dalam masyarakat industrial, dimana ada orang yang ahli dan respon yang bekerja efektif dalam lingkungan tersebut. Pemahaman tentang disfungsi ini membuat Merton berhati-hati terhadap bagaimana ketaatan terhadap aturan birokrasi dibentuk  dan kemudian berakhir sendiri. Situasi yang ia sebut sebagai ritualisme dalam teorinya tentang deviant. Ketaatan pada aturan memang baik secara moral dan sosial dan itu berfungsi bagi masyarakat, namun pengetahuan Merton tentang disfungsi ini membuatnya  harus waspada terhadap sisi gelap birokrasi.
Poin yang kedua dari Merton adalah bahwa institusi butuh untuk tidak secara umum berfungsi atau secara umum disfungsi, tapi bisa jadi fungsional untuk beberapa orang atu kelompok dan disfungsi untuk lainnya. Konsep Merton tentang disfungsi menjadi argumennya bahwa fungsionalisme tidak selamanya konservatif.
Fungsi Laten dan Manifest
Fungsi manifest adalah konsekuensi yang orang amati atau harapkan. fungsi laten adalah konsekuensi yang tidak diakui dan tidak dimaksudkan.  Parson cenderung menekankan fungsi nyata dari perilaku sosial. Merton memberikan perhatian khusus kepada fungsi laten dari hal-hal dan peningkatan pemahaman para fungsionalis bagaimana dapat membawa dengan mengungkap sesuatu yang laten.
Fungsi laten ini sebetulnya bukan hal yang baru. Durkheim tentang kohesi sebagai konsekuensi hukuman merupakan analisis laten terhadap hukuman. Pembedaan Merton atas fungsi laten dan manifest ini mendorong sosiologis untuk melakukan analisis dibalik alasan aksi individu, tapi adat dan institusi yang sudah ada. Analisis Merton terhadap mesin politik misalnya, menunjukkan adanya perbedaan antara fungsi laten dan manifest, yang menjelaskan cara institusi bekerja, dan bagaimana mereka bertahan. Hipotesanya, untuk survive, mesin harus  melayani fungsi penting kepada kelompok sosial, dengan bertanya “siapa yang diuntungkan?’” dan mengungkap fungsi laten mesin, Merton membuat bagian klasik dalam analisis sosiologis.
Fungsional Alternatif
Klaim fungsionalisme terhadap spesifik proposisi tentang bagaimana suatu masyarakat bekerja, sugesti sederhana dan umum tentang bagaimana membentuk analisis dan menjelaskan sesuatu, ini adalah argumen umum dari Parson, yang mendaftar beberapa karakteristik masyarkat dalam skema AGIL . Merton mencoba melihat apa yang disebut prasyarat fungsional, bahwa institusi yang ada bukan satu-satunya yang bisa mengisi fungsi-fungsi ini.
Konsep Merton tentang fungsional alternatif, secara eksplisit menolak ide bahwa institusi yang sudah ada adalah penting dan berarti baik. Ini memberikan keberanian kepada sosiolog memakai pendekatan fungsionalis untuk pertanyaan ada apa dengan struktur sosial yang sudah ada. Misalnya, banyak para teoritis fungsional percaya bahwa agama mengatur norma  dan nilai utama dalam kelompok dan menolak anomi yang membawa pada disintegrasi sosial dan ketidakbahagiaan personal. Contoh lain tentang alternatif fungsional adalah apa yang dapat ditemukan pada tipe yang berbeda pada pendidikan tinggi dan kursus kecakapan dalam masyarakat industrial modern. Semua itu memilah orang-orang sesuai kualifikasi apa untuk pekerjaan tertentu, tapi nyatanya tidak semua orang cocok untuk menjadi seorang veteriner, ahi nuklir, atau eksekutif perusahaan. Banyak murid yang ternyata gagal ditahun keberapa sekolahnya karena mengalami kesulitan, maka fungsional alternatif memberikan alternatif kepada orang-orang ini menemukan keterampilan lain yang lebih tepat. Merton, melalui alternatif fungsional menunjukkan kemajuan kecil tentang prasayarat fungsional yang bisa dilakukan dalam beberapa variasi cara.
Teori Merton tentang Devian
Merton memakai anomie sebagai variabel bebas yang utama, anomi juga dipakai Durkheim menjelaskan bunuh diri, salah satu bentuk devian. Namun anomie yang dimaksud Merton berbeda dengan Durkheim. Menurut Merton, anomie adalah diskontinuitas antara tujuan budaya dan legitimasi yang tersedia untuk mencapainya.









Resume terhadap Bab VII Class, Status and Party. Buku From Max Weber, essay in Sociology, H.H Gerth and Mills, C. Wright 1946
1.Kekuatan Ekonomi Determinan dan Sosial Order
Struktur pada setiap aturan hukum secara langsung mempengaruhi distribusi kekuasaan, ekonomi dan lainnya didalam suatu masyarakat.  Dalam kondisi ekonomi, kekuasaan tidak selalu identik dengan kekuasaan itu sendiri. Orang tidak berjuang mendapatkan kekuasaan untuk memperkaya dirinya secara ekonomi, namun kekuasaan, termasuk didalamnya kekuasaan ekonomi juga bernilai untuk kehormatan sosial. Dalam kata lain, kekuatan ekonomi, kekuatan uang dikenali sebagai basis bagi kehormatan sosial, atau prestis. Kekuasaan mungkin saja dilindungi oleh aturan hukum, namun itu bukan sumber satu-satunya. Aturan hukum bisa menjadi jalan mencapai kekuasaan, namun tidak selalu bisa mengamankan kekuasaan itu.
Kehormatan sosial, didistribusi dalam komunitas diantara beberapa kelompok yang bervariasi, membentuk apa yang disebut sosial order. Sosial order dan ekonomi order sama-sama berhubungan dengan hukum order, namun tidak identik. Ekonomi order berada dimana barang didistribusi dan dipakai, sementara sosial order adalah suatu kondisi yang bereaksi atasnya.
2. Determinasi situasi kelas oleh situasi pasar
Dalam terminologi kami, kelas bukanlah komunitas. Kita dapat menyebut itu kelas ketika (1) beberapa orang yang punya spesifikasi sama dalam bagaimana mereka hidup dan kesempatan yang mereka punya, (2) komponen ini diwakili oleh kepentingan ekonomi dan kesempatan dalam pendapatan dan (3) diwakili oleh dibawah kondisi yang sama pada pasar komoditas dan tenaga kerja. Ini adalah fakta ekonomi yang penting bagaimana posisi atas kepemilikan /penguasaan properti didistribusi diantara masyarakat yang plural, bertemu dengan pasar yang kompetitif dan dengan sendirinya membentuk spesifik life changes. Disinilah terjadi distribusi kekuasaan, monopoli, property dan kelangkaan properti, suatu mode of distribution.
Situasi kelas dalam hal ini adalah situasi pasar. Kepemilikan sarana produksi, besar atau kecil, kepemilikan terhadap budak, dll, properti  menjadi bagian dari kelas.
3. Aksi Komunal Mengalir dari Kepentingan Kelas
Apa yang membentuk kelas adalah kepentingan ekonomi yang ambisius dan kepentingan yang sama pula lah yang menciptakan keberadaan pasar. Konsep kepentingan kelas juga sesuatu yang ambisius. Walaupun merupakan konsep ilmiah. Kebangkitan aksi komunal dari situasi kelas merupakan fenomena universal. Berangkat dari perbedaan situasi kelas, terbentuklah aksi kelas, perbedaan ini bukan sesuatu yang begitu saja terjadi kemudian diterima, tapi merupakan hasil dari ; (1) distribusi properti yang ada, dan (2) struktur dalam ekonomi. Aksi melawan struktur ini bukan juga berbentuk protes yang irasional namun dalam bentuk asosiasi yang rasional, mereka masuk kategori (1) masyarakat urban yang memahami bagaimana ada akumulasi dalam industri sejak abad pertengahan, dan ketika eksploitasi pertanian meningkat untuk keuntungan tertentu, kemudan kategori ke (2) adalah situasi kelas dari modern proletariat.

No comments: