oleh Meifita D. Handayani
Salah satu yang penting dalam pemikiran Merton dari
Fungsionalisme Parsonian adalah apa yang dia sebut sebagai Middle-Range
Theories. Merton menjelaskan; di puncak pemikiran manusia, beberapa sosiolog
mencari teori-kesatuan tunggal, suatu
tubuh penjelasan yang general seperti bagaimana lembaga-lembaga masuk ke dalam
kerangka sosial, bagaimana nilai-nilai berbeda muncul dan perubahan mereka bekerja
pada masyarakat dan sebagainya. Talcott Parson hanya melakukan itu, dan saya
pikir membuat kemajuan berguna. Hal seperti itu akan melumpuhkan sosiologi
menghabiskan seluruh waktu hari ini pada masalah-masalah praktis sebelum
mengembangkan teori yang cukup, sehingga akan menghabiskan waktu pada abstrak,
mencakup semua teori. Hari ini tugas utama kami adalah untuk mengembangkan
teori-teori khusus yang berlaku untuk rentang data yang terbatas. Misalnya, teori
tentang perilaku menyimpang, atau aliran kekuasaan dari generasi ke generasi,
atau cara-cara tertentu di mana pengaruh pribadi berlaku.
Teori-teori menengah melampaui deskripsi belaka suatu
fenomena sosial. Ini merupakan teori-teori dengan batasan asumsi, dimana
hipotesa spesifik dapat diuji secara ilmiah. Dalam pandangan Merton, teori menengah
ini akan secara terus menerus mengkonsolidasi menjadai teori yang lebih
umum. Yang dia lakukan adalah mengisi
apa yang kosong diantara fakta kotor yang didapat dilapangan dengan teori-teori
besar. Disini Merton berdiri bersama
pemikir besar Sosiologi seperti Durkheim dan Weber. Dia mencontohkan dua contoh
klasih teori menengah yaitu teori Durkheim tentang bunuh diri dan Weber tentang
etika protestan dan spirit kapitalisme.
Merton telah mengabdikan perhatiannya pada apa yang disebut
kodifikasi dari analisis fungsional dalam sosiologi. Karyanya menunjukkan
beberapa perbedaan penting dari Fungsionalisme Parson. Paradigma Fungsional
Merton tidak terbuka untuk kritik terhadap konservatisme yang melekat dan teleologi. Namun Merton
menawarkan sedikit proposisi tertentu tentang struktur masyarakat dari Parson.
Seperti yang kita ketahui para
Fungsionalist secara umum melihat
masyarakat sebagai suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan.
Fungsionalisme mengintepretasi data dengan cara melihat struktur besar yang
sudah ada dimana mereka terlibat. Merton
juga secara mendalam sangat tertarik
dengan integrasi sosial dan keadaan masyarakat yang equilibrium. Seperti
Durkheim dan Parson, dia menganalisis masyarakat dengan referensi apakah budaya dan struktur sosial terintegrasi secara baik atau tidak. Ia juga tertarik pada kontribusi dari adat dan lembaga dalam masyarakat,
dan mendefinisikan fungsi sebagai kontribusi atau konsekuensi yang "membuat adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu”. Akhirnya, Merton berpendapat bahwa
nilai-nilai bersama yang sentral
dalam menjelaskan bagaimana masyarakat
dan institusi bekerja, sehingga
berbagi perhatian menjadi pembeda utama lainnya dari
semua analisis fungsionalis.
Melalui paradigma ini Merton mengklarifikasi
dan kembali memperhatikan beberapa aspek mayor dari teori fungsionalisme.
Bebarapa yang penting adalah pemikirannya tentang disfungsi, lalu bagaimana ia
membedakan antara fungsi latent dan manifest, konsep tentang alternatif
fungsional dan bagaimana ia berusaha memahami mekanisme dimana fungsi kemudian
bisa terisi penuh.
Disfungsi
Pemikiran Parson melihat semua institusi
yang ada adalah baik dan berfungsi bagi masyarakat. Tendensi ini menjadi
serangan utama terhadap fungsionalisme
Parson. Merton membedakan dirinya dari posisi tersebut. Ia menghadirkan apa
yang disebut sebagi disfungsi. Konsep disfungsi Merton terdiri atas dua
pelengkap namun berbeda ide. Pertama, bahwa sesuatu mungkin memiliki
konsekuensi yang secara umum
disfungsional. Kedua, konsekuensi ini dapat bervariasi sesuai siapa yang
bicara. Sosiologi harus punya pertanyaan penting, “berfungsi atau tidak
berfungsi untuk siapa??”
Contoh disfungsi yang penting dari Merton
adalah Birokrasi. Secara umum, birokrasi memiliki fungsi kelembagaan dalam
masyarakat industrial, dimana ada orang yang ahli dan respon yang bekerja
efektif dalam lingkungan tersebut. Pemahaman tentang disfungsi ini membuat
Merton berhati-hati terhadap bagaimana ketaatan terhadap aturan birokrasi
dibentuk dan kemudian berakhir sendiri. Situasi
yang ia sebut sebagai ritualisme dalam teorinya tentang deviant. Ketaatan pada
aturan memang baik secara moral dan sosial dan itu berfungsi bagi masyarakat,
namun pengetahuan Merton tentang disfungsi ini membuatnya harus waspada terhadap sisi gelap birokrasi.
Poin yang kedua dari Merton adalah bahwa institusi
butuh untuk tidak secara umum berfungsi atau secara umum disfungsi, tapi bisa
jadi fungsional untuk beberapa orang atu kelompok dan disfungsi untuk lainnya. Konsep
Merton tentang disfungsi menjadi argumennya bahwa fungsionalisme tidak
selamanya konservatif.
Fungsi Laten dan
Manifest
Fungsi manifest adalah konsekuensi
yang orang amati atau harapkan. fungsi laten
adalah konsekuensi yang tidak diakui
dan tidak dimaksudkan. Parson cenderung menekankan fungsi nyata dari perilaku sosial. Merton memberikan perhatian khusus kepada
fungsi laten dari hal-hal dan peningkatan
pemahaman para fungsionalis bagaimana dapat membawa dengan mengungkap sesuatu yang laten.
Fungsi laten ini sebetulnya bukan hal yang
baru. Durkheim tentang kohesi sebagai konsekuensi hukuman merupakan analisis
laten terhadap hukuman. Pembedaan Merton atas fungsi laten dan manifest ini
mendorong sosiologis untuk melakukan analisis dibalik alasan aksi individu, tapi
adat dan institusi yang sudah ada. Analisis Merton terhadap mesin politik
misalnya, menunjukkan adanya perbedaan antara fungsi laten dan manifest, yang
menjelaskan cara institusi bekerja, dan bagaimana mereka bertahan. Hipotesanya,
untuk survive, mesin harus melayani
fungsi penting kepada kelompok sosial, dengan bertanya “siapa yang
diuntungkan?’” dan mengungkap fungsi laten mesin, Merton membuat bagian klasik
dalam analisis sosiologis.
Fungsional
Alternatif
Klaim fungsionalisme terhadap spesifik
proposisi tentang bagaimana suatu masyarakat bekerja, sugesti sederhana dan
umum tentang bagaimana membentuk analisis dan menjelaskan sesuatu, ini adalah
argumen umum dari Parson, yang mendaftar beberapa karakteristik masyarkat dalam
skema AGIL . Merton mencoba melihat apa yang disebut prasyarat fungsional,
bahwa institusi yang ada bukan satu-satunya yang bisa mengisi fungsi-fungsi
ini.
Konsep Merton tentang fungsional alternatif,
secara eksplisit menolak ide bahwa institusi yang sudah ada adalah penting dan
berarti baik. Ini memberikan keberanian kepada sosiolog memakai pendekatan
fungsionalis untuk pertanyaan ada apa dengan struktur sosial yang sudah ada.
Misalnya, banyak para teoritis fungsional percaya bahwa agama mengatur
norma dan nilai utama dalam kelompok dan
menolak anomi yang membawa pada disintegrasi sosial dan ketidakbahagiaan
personal. Contoh lain tentang alternatif fungsional adalah apa yang dapat
ditemukan pada tipe yang berbeda pada pendidikan tinggi dan kursus kecakapan
dalam masyarakat industrial modern. Semua itu memilah orang-orang sesuai
kualifikasi apa untuk pekerjaan tertentu, tapi nyatanya tidak semua orang cocok
untuk menjadi seorang veteriner, ahi nuklir, atau eksekutif perusahaan. Banyak
murid yang ternyata gagal ditahun keberapa sekolahnya karena mengalami
kesulitan, maka fungsional alternatif memberikan alternatif kepada orang-orang
ini menemukan keterampilan lain yang lebih tepat. Merton, melalui alternatif
fungsional menunjukkan kemajuan kecil tentang prasayarat fungsional yang bisa
dilakukan dalam beberapa variasi cara.
Teori
Merton tentang Devian
Merton memakai anomie sebagai variabel bebas
yang utama, anomi juga dipakai Durkheim menjelaskan bunuh diri, salah satu
bentuk devian. Namun anomie yang dimaksud Merton berbeda dengan Durkheim.
Menurut Merton, anomie adalah diskontinuitas antara tujuan budaya dan
legitimasi yang tersedia untuk mencapainya.
Resume terhadap Bab VII Class, Status and Party. Buku From
Max Weber, essay in Sociology, H.H Gerth and Mills, C. Wright 1946
1.Kekuatan Ekonomi
Determinan dan Sosial Order
Struktur pada setiap aturan hukum secara langsung
mempengaruhi distribusi kekuasaan, ekonomi dan lainnya didalam suatu
masyarakat. Dalam kondisi ekonomi,
kekuasaan tidak selalu identik dengan kekuasaan itu sendiri. Orang tidak
berjuang mendapatkan kekuasaan untuk memperkaya dirinya secara ekonomi, namun
kekuasaan, termasuk didalamnya kekuasaan ekonomi juga bernilai untuk kehormatan
sosial. Dalam kata lain, kekuatan ekonomi, kekuatan uang dikenali sebagai basis
bagi kehormatan sosial, atau prestis. Kekuasaan mungkin saja dilindungi oleh
aturan hukum, namun itu bukan sumber satu-satunya. Aturan hukum bisa menjadi
jalan mencapai kekuasaan, namun tidak selalu bisa mengamankan kekuasaan itu.
Kehormatan sosial, didistribusi dalam komunitas diantara
beberapa kelompok yang bervariasi, membentuk apa yang disebut sosial order.
Sosial order dan ekonomi order sama-sama berhubungan dengan hukum order, namun
tidak identik. Ekonomi order berada dimana barang didistribusi dan dipakai,
sementara sosial order adalah suatu kondisi yang bereaksi atasnya.
2. Determinasi
situasi kelas oleh situasi pasar
Dalam terminologi kami, kelas bukanlah komunitas. Kita dapat
menyebut itu kelas ketika (1) beberapa orang yang punya spesifikasi sama dalam
bagaimana mereka hidup dan kesempatan yang mereka punya, (2) komponen ini
diwakili oleh kepentingan ekonomi dan kesempatan dalam pendapatan dan (3)
diwakili oleh dibawah kondisi yang sama pada pasar komoditas dan tenaga kerja.
Ini adalah fakta ekonomi yang penting bagaimana posisi atas kepemilikan
/penguasaan properti didistribusi diantara masyarakat yang plural, bertemu
dengan pasar yang kompetitif dan dengan sendirinya membentuk spesifik life
changes. Disinilah terjadi distribusi kekuasaan, monopoli, property dan
kelangkaan properti, suatu mode of distribution.
Situasi kelas dalam hal ini adalah situasi pasar.
Kepemilikan sarana produksi, besar atau kecil, kepemilikan terhadap budak, dll,
properti menjadi bagian dari kelas.
3. Aksi Komunal
Mengalir dari Kepentingan Kelas
Apa yang membentuk kelas adalah kepentingan ekonomi yang
ambisius dan kepentingan yang sama pula lah yang menciptakan keberadaan pasar.
Konsep kepentingan kelas juga sesuatu yang ambisius. Walaupun merupakan konsep
ilmiah. Kebangkitan aksi komunal dari situasi kelas merupakan fenomena
universal. Berangkat dari perbedaan situasi kelas, terbentuklah aksi kelas,
perbedaan ini bukan sesuatu yang begitu saja terjadi kemudian diterima, tapi merupakan
hasil dari ; (1) distribusi properti yang ada, dan (2) struktur dalam ekonomi.
Aksi melawan struktur ini bukan juga berbentuk protes yang irasional namun
dalam bentuk asosiasi yang rasional, mereka masuk kategori (1) masyarakat urban
yang memahami bagaimana ada akumulasi dalam industri sejak abad pertengahan,
dan ketika eksploitasi pertanian meningkat untuk keuntungan tertentu, kemudan
kategori ke (2) adalah situasi kelas dari modern proletariat.
No comments:
Post a Comment